Redaksiku.com – Kasus penyajian makanan tidak layak di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG Gunung Lurah), Kecamatan Cilongok, Banyumas kini berbuntut panjang.
Setelah sempat viral karena membagikan menu yang dianggap tidak pantas dikonsumsi penerima manfaat, dapur tersebut resmi ditutup sementara untuk evaluasi.
Menu yang sempat disorot publik adalah kacang rebus, sepotong roti, susu, dan buah kelengkeng, yang dinilai jauh dari standar gizi seimbang. Publik menyebut, menu tersebut tidak mencerminkan program pemenuhan gizi yang seharusnya mendukung kesehatan masyarakat.
🞠Viral karena Menu Tak Layak
Kasus ini bermula dari unggahan warga yang memperlihatkan menu bantuan gizi di dapur MBG (Manajemen Bantuan Gizi) Gunung Lurah. Dalam foto yang tersebar di media sosial, terlihat paket makanan yang sangat sederhanabahkan cenderung tidak sesuai untuk program pemenuhan gizi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Unggahan itu langsung viral, memancing beragam komentar dari masyarakat. Banyak yang menyayangkan kualitas makanan yang diberikan, terlebih karena dapur tersebut menyiapkan sekitar 4.000 porsi setiap harinya.
Warganet menilai, seharusnya menu yang diberikan memenuhi standar gizi minimal, mengingat program ini didanai oleh pemerintah dan ditujukan untuk kelompok masyarakat yang membutuhkan asupan bergizi.
DPRD Banyumas Turun Tangan
Kabar viral ini akhirnya menarik perhatian Komisi IV DPRD Kabupaten Banyumas. Salah satu anggotanya, Alfiatun Khasanah, langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke dapur SPPG Gunung Lurah.
Hasilnya? Mengejutkan.
Dalam sidaknya, Alfiatun menemukan sejumlah hal yang dinilai tidak wajar dan berpotensi membahayakan penerima bantuan.
Saya menemukan buah busuk, menu asal-asalan, hingga ancaman bagi warga yang berani protes, ungkap Alfi saat ditemui awak media.
Ia menambahkan bahwa dapur tersebut dikelola dengan kurang profesional. Bahkan, ahli gizi yang seharusnya bertanggung jawab atas penyusunan menu tidak hadir saat sidak dilakukan.
Padahal, keberadaan ahli gizi itu penting banget untuk memastikan menu yang diberikan sesuai kebutuhan penerima. Tapi nyatanya, saat kami datang, yang bersangkutan tidak ada, tambahnya.

🚫 Dapur Ditutup Sementara untuk Evaluasi
Setelah temuan tersebut, pihak DPRD merekomendasikan agar dapur SPPG Gunung Lurah ditutup sementara waktu. Penutupan ini dilakukan demi memastikan proses evaluasi berjalan dengan benar dan tidak ada lagi praktik serupa di masa mendatang.
Menurut Alfiatun, dapur ini menjadi salah satu yang paling bermasalah karena skalanya cukup besar. Setiap hari, dapur ini memproduksi hampir 4.000 porsi makanan, yang berarti kesalahan dalam penyusunan menu bisa berdampak luas bagi ribuan penerima manfaat.
Kami menilai SPPG Gunung Lurah ini tidak layak beroperasi sementara waktu, sampai benar-benar ada perbaikan. Jangan sampai masyarakat jadi korban dari pengelolaan yang asal-asalan, tegasnya.
Selain menyoroti kualitas menu, Alfiatun juga meminta pemerintah daerah untuk mengevaluasi sistem pengawasan dan distribusi bahan makanan. Ia menilai lemahnya pengawasan menjadi penyebab utama mengapa kasus seperti ini bisa terjadi.
🧠Apa Itu SPPG dan Mengapa Penting?
SPPG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi adalah program pemerintah yang bertujuan untuk memastikan masyarakat, terutama anak-anak, ibu hamil, dan kelompok rentan, mendapatkan asupan gizi seimbang.
Program ini biasanya dijalankan melalui dapur komunitas atau dapur khusus di bawah koordinasi dinas terkait. Dalam pelaksanaannya, SPPG bekerja sama dengan tenaga ahli gizi untuk memastikan menu yang disediakan memenuhi standar gizi dan keamanan pangan.
Namun, dalam kasus Gunung Lurah, fakta di lapangan menunjukkan adanya penyimpangan dari standar operasional, mulai dari pemilihan bahan hingga penyajian makanan.
š–ï¸ DPRD Desak Pemerintah Daerah Bertindak Tegas
Menindaklanjuti temuannya, Komisi IV DPRD Banyumas meminta pemerintah daerah untuk turun tangan langsung mengevaluasi seluruh sistem kerja dapur MBG di bawah program SPPG.
Menurut Alfiatun, pengawasan harus dilakukan bukan hanya pada dapur Gunung Lurah, tapi juga seluruh dapur yang beroperasi di Kabupaten Banyumas.
Kalau satu dapur saja bisa seperti ini, kita khawatir yang lain juga punya masalah serupa. Ini harus jadi alarm bagi semua pihak yang terlibat, ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya transparansi anggaran dan distribusi bahan makanan, agar dana bantuan benar-benar digunakan sesuai peruntukan.
Program pemenuhan gizi ini kan penting banget buat masyarakat. Jangan sampai dana besar yang digelontorkan justru tidak memberi dampak nyata, tambahnya.
🧂 Reaksi Publik: Dari Kecewa sampai Geram
Kabar penutupan dapur SPPG Gunung Lurah langsung memicu gelombang komentar di media sosial. Banyak warga yang merasa kecewa dengan kondisi ini.
Bantuannya buat gizi, tapi makanannya kayak menu diet darurat. Gimana mau sehat? tulis salah satu pengguna di Facebook.
Netizen lainnya menyoroti pentingnya pengawasan dari pemerintah. Harusnya ada kontrol rutin, bukan nunggu viral baru ditindak, kata akun @miftahhana di X (Twitter).
Ada juga yang bersimpati terhadap warga sekitar yang disebut mengalami intimidasi saat berusaha menyampaikan keluhan. Nggak cuma soal makanan, tapi soal keberanian warga yang berani jujur. Salut, tulis warganet lainnya.
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai sumber
Halaman : 1 2 Selanjutnya






