Redaksiku.com – Nama aktris Aurelie Moeremans tengah menjadi sorotan luas di media sosial dan ruang publik. Perbincangan tersebut dipicu oleh peluncuran buku memoar berjudul Broken Strings, sebuah karya personal yang dibagikan Aurelie secara gratis kepada publik.
Memoar ini dapat diunduh melalui tautan yang ia sematkan di bio akun Instagram resminya, dan sejak dirilis langsung memantik diskusi serius mengenai relasi kuasa, manipulasi, serta isu grooming terhadap anak dan remaja.
Dalam buku tersebut, Aurelie mengisahkan pengalaman hidupnya secara terbuka, termasuk periode kelam ketika ia terjebak dalam hubungan yang tidak sehat di usia yang sangat muda. Ia menuturkan bahwa saat berusia 15 tahun, dirinya menjalin relasi dengan seorang pria yang kala itu berusia 29 tahun. Hubungan tersebut terjadi ketika Aurelie baru mulai merintis karier sebagai artis di industri hiburan Indonesia.
Melalui unggahan di media sosial pada Sabtu (3/1), Aurelie menegaskan bahwa memoar ini ditulis dari sudasa pandang korban dan tanpa romantisasi. Ia menyebut pengalaman tersebut sebagai bentuk groomingsebuah proses manipulasi yang perlahan namun sistematis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Buku ini adalah kisah nyata tentang aku. Tentang bagaimana aku digrooming saat umur 15 tahun oleh seseorang yang usianya hampir dua kali lipat dari aku. Tentang manipulasi, kontrol, dan proses pelan-pelan belajar menyelamatkan diri sendiri, tulis Aurelie.
Kesaksian ini tidak hanya membuka ruang empati, tetapi juga mendorong publik untuk memahami lebih dalam apa itu grooming, bagaimana prosesnya terjadi, serta tanda-tanda yang patut diwaspadai.
Apa Itu Grooming?
Secara konseptual, grooming merupakan perilaku yang disengaja untuk memanipulasi dan mengendalikan anak atau remaja, termasuk lingkungan di sekitarnya, dengan tujuan melakukan pelecehan atau kekerasan seksual.
Definisi ini sejalan dengan penjelasan dari National Office for Child Safety, yang menyebut bahwa grooming tidak hanya menargetkan korban, tetapi juga keluarga, pengasuh, bahkan jaringan pendukung lainnya.
Tujuan grooming bisa beragam, mulai dari memperoleh akses terhadap anak atau remaja, mendapatkan kepercayaan dan kepatuhan korban, hingga memastikan korban tetap bungkam agar tindakan pelaku tidak terungkap.
Penting dipahami bahwa grooming sudah dianggap terjadi meskipun belum ada kontak seksual secara fisik. Dengan kata lain, manipulasi psikologis saja sudah termasuk dalam bentuk kekerasan.
Bagaimana Grooming Terjadi?
Proses grooming sering kali berlangsung secara halus dan nyaris tak disadari. Pelaku kerap menampilkan diri sebagai sosok yang perhatian, peduli, dan dapat dipercaya. Inilah yang membuat grooming sulit dikenali sejak awal, baik oleh korban maupun orang-orang terdekatnya.
Mengacu pada kajian organisasi perlindungan anak Bravehearts, pelaku grooming biasanya dikenal sebagai pribadi yang ramah, karismatik, dan disukai lingkungan sekitar. Mereka secara perlahan membangun kepercayaan, tidak hanya dengan korban, tetapi juga dengan keluarga atau orang dewasa di sekitarnya. Proses ini bisa berlangsung dalam hitungan minggu, bulan, bahkan bertahun-tahun.
Tujuan akhirnya adalah menciptakan situasi di mana pelaku memiliki akses tanpa pengawasan kepada korban, sekaligus menanamkan rasa takut atau rasa bersalah agar korban enggan mengungkapkan apa yang dialaminya.

Tahapan Grooming yang Perlu Diwaspadai
Meski tidak selalu terjadi secara berurutan, terdapat beberapa pola umum dalam praktik grooming:
1. Menentukan Target
Pelaku kerap menyasar anak atau remaja yang dianggap rentan, misalnya mereka yang kurang dukungan sosial, mengalami kesepian, tidak percaya diri, atau berasal dari kelompok yang terpinggirkan.
2. Membangun Kepercayaan
Pelaku berupaya menciptakan citra sebagai figur yang baik dan dapat diandalkan. Perhatian khusus, pujian berlebihan, hingga pemberian hadiah menjadi strategi umum. Dalam banyak kasus, keluarga korban pun ikut diperlakukan istimewa.
3. Isolasi
Setelah kepercayaan terbangun, pelaku mulai menjauhkan korban dari orang-orang yang berpotensi melindunginya, seperti keluarga atau teman sebaya. Pelaku kemudian mengambil peran dominan sebagai sumber dukungan emosional.
4. Seksualisasi
Konten atau pembicaraan bernuansa seksual diperkenalkan secara bertahap untuk menurunkan kewaspadaan korban. Normalisasi ini sering menjadi pintu masuk menuju eksploitasi seksual, baik secara langsung maupun daring.
5. Kontrol dan Tekanan
Pelaku mempertahankan kendali melalui ancaman, manipulasi emosi, rasa malu, atau klaim kasih sayang. Tujuannya agar korban tetap diam dan bergantung secara psikologis.
Tanda-Tanda Grooming pada Anak dan Remaja
Mengenali gejala grooming sejak dini dapat menjadi langkah penting untuk mencegah kekerasan lebih lanjut. Beberapa tanda yang patut diwaspadai antara lain:
-
Memiliki hubungan yang sangat dekat dengan orang yang jauh lebih tua
-
Menerima hadiah atau uang tanpa penjelasan yang jelas
-
Menjadi sangat tertutup terkait penggunaan ponsel dan media sosial
-
Sering menghilang dalam waktu lama atau sulit dihubungi
-
Tampak kelelahan berlebihan, termasuk di lingkungan sekolah
-
Tidak jujur mengenai keberadaan atau dengan siapa mereka pergi
-
Menggunakan identitas baru atau memiliki barang-barang mencurigakan
-
Dijemput atau ditemani oleh orang dewasa yang tidak dikenal keluarga
Dampak Grooming bagi Korban
Dampak grooming tidak berhenti pada kejadian itu sendiri. Korban kerap mengalami gangguan psikologis jangka panjang, seperti kebingungan identitas, rasa bersalah, ketakutan, dan perasaan terisolasi. Dalam banyak kasus, korban bahkan merasa memiliki ikatan emosional dengan pelaku dan sulit melepaskan diri.
Anak atau remaja yang menjadi korban grooming dapat mengalami konflik batin, merasa bertanggung jawab atas kekerasan yang dialaminya, serta takut tidak dipercaya jika berbicara. Rasa takut kehilangan keluarga atau menyakiti orang yang dicintai juga kerap membungkam korban.
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai sumber
Halaman : 1 2 Selanjutnya






