Redaksiku.com – Di Desa Mataue, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, tradisi pembuatan kain kulit kayu yang dikenal sebagai kumu nunu masih bertahan berkat dedikasi Tobani Tiku. Perempuan berusia 86 tahun ini merupakan satu-satunya pengrajin yang masih menguasai seluruh tahapan pembuatan kain tradisional masyarakat adat Kulawi secara utuh. Di tengah gempuran tekstil modern, Tobani menjaga warisan leluhur ini tetap hidup meskipun praktiknya kini semakin terbatas pada kebutuhan upacara adat.
Proses Panjang di Balik Selembar Kain
Pekerjaan Tobani dimulai jauh sebelum ia memegang alat pemukul kayu di halaman belakang rumahnya. Bahan baku utama kain ini berasal dari pohon beringin, baik jenis nunu lero (beringin merah) maupun nunu bula (beringin putih). Pemilihan material tidak dilakukan sembarangan karena kualitas serat sangat bergantung pada waktu dan cara pengambilan bahan dari pohonnya.
Syafrudin, anak Tobani yang mendampingi proses produksi, menjelaskan bahwa ada aturan adat yang harus dipatuhi saat mengambil ranting pohon. Ranting hanya boleh dipotong saat bulan purnama agar seratnya berisi dan memiliki kualitas terbaik. Selain itu, posisi pertumbuhan ranting sangat menentukan hasil akhir kain yang akan diproduksi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Proses pengerjaan satu set pakaian lengkap, yang terdiri dari atasan dan bawahan, membutuhkan waktu setidaknya satu minggu untuk diselesaikan dengan tangan.
- Ranting harus dipotong dengan panjang antara 1 hingga 1,5 meter.
- Kulit kayu kemudian dibersihkan dari lapisan luar dan direndam selama tiga hari untuk melunakkan serat.
- Proses pemukulan dilakukan secara bertahap hingga kulit melebar dan menipis menjadi lembaran kain.
- Pewarnaan dan pengawetan menggunakan ramuan alami dari tumbuhan seperti linuro dan ulakau.
Teknik Warisan dan Ketelitian Alat
Keahlian yang dimiliki Tobani adalah hasil dari pembelajaran turun-temurun sejak ia remaja, diwariskan langsung oleh ibu dan neneknya. Ketelitian dalam proses ini tidak hanya terletak pada tangan sang pengrajin, tetapi juga pada perangkat kerja yang ia gunakan. Tobani menggunakan empat jenis alat pemukul yang harus dipakai secara berurutan untuk mendapatkan tekstur kain yang sempurna.
Alat-alat tersebut meliputi pola, ike tinahi, ike tiva, dan ike pogea. Tiga alat terakhir merupakan benda pusaka yang terbuat dari batu khusus asal Desa Towulu. Hingga hari ini, alat-alat warisan neneknya tersebut masih dalam kondisi sangat baik dan menjadi saksi bisu keberlangsungan tradisi kumu nunu di Kulawi.
Tradisi kain kulit kayu di Kulawi mencerminkan hubungan mendalam antara masyarakat adat dengan alam, di mana setiap helai kain mengandung nilai sejarah dan kearifan lokal yang dipertahankan selama puluhan tahun.
Evolusi Fungsi dalam Masyarakat Modern
Secara historis, kain kulit kayu merupakan kebutuhan pokok bagi masyarakat Kulawi. Dahulu, kain ini digunakan sebagai pakaian sehari-hari untuk berbagai aktivitas, mulai dari bekerja di sawah hingga sebagai selimut penghangat di malam hari. Namun, seiring berjalannya waktu, fungsi kain ini telah bergeser ke ranah yang lebih formal dan sakral.
Saat ini, penggunaan kumu nunu lebih sering ditemui dalam acara-acara adat tertentu. Nilai ekonomis dari kain ini pun cukup tinggi, di mana satu set pakaian dihargai sekitar Rp1,5 juta. Harga tersebut mencerminkan kerumitan proses pembuatan, kelangkaan bahan, serta keterampilan tangan tingkat tinggi yang dipertahankan oleh seorang maestro di usia senjanya.
Ketergantungan pada sumber daya alam beringin dan minimnya regenerasi pengrajin muda menjadi tantangan nyata bagi kelestarian kerajinan kulit kayu di masa depan.
Pertanyaan Umum
Apakah kain kulit kayu masih digunakan sehari-hari oleh warga Kulawi?
Tidak lagi. Saat ini, penggunaan kain kulit kayu telah bergeser dan mayoritas hanya dikenakan pada saat acara-acara adat atau ritual khusus masyarakat setempat.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat satu set pakaian kulit kayu?
Proses pembuatannya memakan waktu setidaknya satu minggu, dimulai dari pemilihan ranting beringin yang tepat hingga tahap pemukulan dan pewarnaan menggunakan bahan alami.
Apa saja bahan yang digunakan untuk mewarnai kain tersebut?
Pengrajin menggunakan ramuan dari tumbuhan lokal seperti linuro dan ulakau yang berfungsi sebagai pewarna sekaligus pengawet alami bagi serat kulit kayu.
Ringkasan
Tobani Tiku, seorang pengrajin berusia 86 tahun asal Desa Mataue, Sulawesi Tengah, merupakan satu-satunya maestro yang masih melestarikan tradisi pembuatan kain kulit kayu kumu nunu milik masyarakat adat Kulawi. Keahlian ini ia peroleh secara turun-temurun, melibatkan proses manual yang sangat teliti menggunakan alat pemukul batu pusaka untuk mengolah serat pohon beringin menjadi kain bernilai sejarah tinggi.
Proses pembuatan satu set pakaian memakan waktu minimal satu minggu, dimulai dari pemilihan ranting pada saat bulan purnama hingga tahap pemukulan dan pewarnaan menggunakan tumbuhan alami seperti linuro dan ulakau. Meskipun fungsinya kini bergeser dari pakaian sehari-hari menjadi busana sakral dalam upacara adat dengan nilai ekonomi mencapai Rp1,5 juta, kelestarian kerajinan ini menghadapi ancaman serius akibat minimnya regenerasi pengrajin muda dan ketergantungan pada sumber daya alam yang terbatas.






