Redaksiku.com – Di awal 2025, pasar modal Indonesia sempat heboh karena saham Bank Central Asia (BBCA) mengalami penurunan yang cukup signifikan.
Banyak yang kaget, apalagi BCA dikenal sebagai bank dengan reputasi solid dan punya basis nasabah yang loyal.
Namun, di balik penurunan ini, ternyata ada cerita panjang yang kalau dipahami baik-baik, justru bisa jadi peluang menarik bagi investor, termasuk anak-anak Gen Z yang mulai melek investasi.
Penurunan saham BBCA mulai terasa sejak Januari 2025. Dalam seminggu saja, dari tanggal 20 sampai 24 Januari, harganya terkoreksi sekitar 5,6% ke level Rp9.350 per saham. Penyebab utamanya adalah aksi jual besar-besaran dari investor asing.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Data mencatat, net sell asing mencapai Rp2,25 triliun hanya dalam waktu singkat. Pemain besar seperti BlackRock, JP Morgan, hingga FMR LLC ikut melepas kepemilikannya.
Kondisi ini bikin tekanan jual makin besar dan harga saham sulit bertahan.
Lanjut ke Februari 2025, tren pelemahan ini masih berlanjut. Sepanjang tahun berjalan (year-to-date), BBCA sudah turun sekitar 8,6% ke kisaran Rp9.050 per saham. Menurut analisis Bareksa, total penjualan bersih oleh investor asing bahkan mencapai Rp3,68 triliun.
Faktor eksternal juga ikut memperparah situasi. Kenaikan yield obligasi Amerika Serikat dan penguatan dolar AS membuat rupiah melemah, sehingga investor global cenderung mengalihkan asetnya ke instrumen yang dianggap lebih aman.
Puncak gejolak terjadi pada 8 April 2025, tepat setelah libur Lebaran. Saham BBCA sempat amblas hampir 13% di sesi pembukaan perdagangan.

Bahkan Bursa Efek Indonesia (BEI) sampai harus melakukan trading halt karena penurunan yang terjadi terlalu cepat. Bukan cuma BCA, bank-bank besar lain seperti BRI, Mandiri, dan BNI juga ikut tertekan.
Hal ini menunjukkan bahwa tekanan yang terjadi memang bukan karena masalah internal semata, tapi ada sentimen negatif global yang melanda sektor perbankan.
Menariknya, di bulan Agustus 2025, nama BCA kembali masuk pemberitaan, kali ini bukan soal laporan keuangan atau pasar modal, tapi terkait selebritas Nikita Mirzani.
Ia mengungkapkan kekecewaannya karena data rekening korannya disebut-sebut diakses oleh pihak yang tidak berwenang selama proses penyidikan.
Nikita, yang mengaku sebagai nasabah prioritas BCA, bahkan menyampaikan rencana untuk melakukan somasi kepada pihak bank.
Isu ini langsung viral dan memicu beragam komentar di media sosial, mulai dari yang mendukung langkahnya, sampai yang mempertanyakan detail kejadiannya.
Namun, meski isu ini ramai dibicarakan di dunia maya, pengaruhnya terhadap pergerakan saham BBCA hampir tidak terlihat signifikan.
Pelaku pasar cenderung melihatnya sebagai permasalahan yang bersifat individual dan belum terbukti berdampak pada operasional maupun reputasi jangka panjang BCA secara keseluruhan.
Buktinya, fluktuasi harga saham setelah isu ini mencuat masih lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen global dan aliran dana asing.
Meski harga saham sedang turun, banyak analis justru melihat momen ini sebagai kesempatan untuk masuk ke saham BCA dengan harga yang lebih terjangkau.
MNC Sekuritas, misalnya, tetap memberikan rekomendasi buy walau menurunkan target harga dari Rp12.400 ke Rp11.300. Menurut mereka, meskipun ada tantangan berupa likuiditas yang mengetat dan daya beli masyarakat yang melemah, BCA tetap punya fundamental yang kuat dan prospek jangka panjang yang cerah.
Mirae Asset Sekuritas juga punya pandangan serupa. Mereka menilai rumor soal kebocoran data nasabah yang sempat ramai di media sosial tidak berpengaruh signifikan terhadap operasional bank.
Bahkan, Mirae optimis pembagian dividen akan menjadi katalis positif untuk mengangkat harga saham BBCA.
Mereka menyarankan strategi buy on weakness dengan target harga Rp9.200, apalagi jika Bank Indonesia nantinya melonggarkan kebijakan moneter sehingga penyaluran kredit bisa meningkat.
Dari sisi internasional, DBS Group tetap memasukkan BBCA ke dalam daftar top picks mereka. Meski pada Juni 2025 saham ini sempat turun 5% dalam sebulan karena kompetisi bunga kredit yang ketat dan kenaikan rasio kredit bermasalah (NPL) konsumer ke 2,1%, DBS menilai BCA masih layak dipegang dalam jangka panjang.
Target harga yang mereka tetapkan bahkan mencapai Rp12.000 per saham.
Menariknya, di kalangan komunitas investor ritel, terutama generasi muda, penurunan ini justru dianggap momen emas untuk melakukan DCA (dollar cost averaging).
Ada yang bilang, Sekarang pas banget buat nambah portofolio, soalnya BBCA ini bukan saham sembarangan. Brand-nya kuat, manajemennya bagus, dan risikonya relatif rendah dibanding bank lain.
Banyak juga yang mengingatkan bahwa BCA punya model bisnis yang unik. Selain pendapatan bunga, bank ini juga mengandalkan fee-based income dari biaya administrasi dan transaksi, yang relatif stabil meski kondisi ekonomi sedang bergejolak.
Dari perspektif teknikal, beberapa trader melihat bahwa penurunan tajam ini sudah mendekati level support kuat.
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai Sumber
Halaman : 1 2 Selanjutnya






