Redaksiku.com – Suasana malam di Dusun Muara Kate terasa begitu khidmat ketika suara pukulan gong bergetar rendah menyusul tabuhan gendang dan gamelan yang bertaut irama. Penghujung Juli lalu, aroma wangi kayu agatis yang terbakar merebak dari tungku ke udara malam di Desa Muara Langon, yang terletak di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Malam itu, tidak tampak deru truk pengangkut hasil bumi yang biasanya lalu-lalang memecah sunyi pemukiman warga setempat. Yang terlihat hanyalah puluhan pasang mata warga yang duduk dengan tenang menyaksikan jalannya ritual sakral.
Mereka berkumpul untuk mengikuti ritual adat Belian Bawo, sebuah upacara tradisional masyarakat adat Dayak Deah yang digelar sebagai wujud ucap syukur sekaligus sarana memanjatkan doa kepada Sang Pencipta dan leluhur. Warga tampak memenuhi area dusun, ada yang berdiri, duduk di kursi, hingga bersila beralaskan beton jalan desa yang dingin. Di bawah pendar lampu penerangan jalan, empat pria paruh baya bertelanjang dada tampak menari secara berputar mengelilingi struktur janur kuning yang terangkai indah.
Gerak langkah keempat pria penari tersebut berirama selaras mengikuti tabuhan musik tradisional yang mengalun magis. Salah satu dari mereka adalah Rohani, seorang pria berusia 56 tahun yang memegang peran penting sebagai mulung atau pemimpin ritual adat belian. Bersama tiga orang mulung lainnya, ia memimpin jalannya upacara sakral ini guna menjembatani komunikasi antara warga dengan Sangiang, sebutan bagi roh suci atau para leluhur masyarakat adat Dayak Deah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ritual Belian Bawo di Dusun Muara Kate menjadi sarana spiritual masyarakat Dayak Deah untuk memohon keselamatan, tolak bala, serta membersihkan kampung dari energi negatif.
Dalam keheningan malam yang mendadak terasa sakral, Rohani memanggil nama Misran Toni di tengah prosesi yang sedang berlangsung. Dari barisan kerumunan warga, Misran Toni kemudian berjalan mendekati sang pemimpin ritual dengan penuh khidmat. Tidak sendiri, ia ditemani oleh istrinya, Idah, bersama ketiga buah hati mereka yang berjalan mengikuti di belakang. Rohani lantas kembali memanjatkan doa-doa khusus dalam bahasa leluhur untuk keselamatan keluarga tersebut.
Sembari merapalkan doa, sang mulung mengambil sebotol minyak khusus dan mengoleskannya secara perlahan ke kening Misran Toni, sang istri, serta ketiga anak mereka. Masyarakat setempat mengenal tradisi pengolesan minyak berkat ini sebagai lio sagan, yakni minyak yang telah diberi mantra dan doa keselamatan khusus. Ritual ini dipercaya mampu memberikan perlindungan spiritual bagi setiap warga yang menerimanya dari gangguan marabahaya yang mengancam kehidupan sehari-hari.
“Tujuannya tolak bala, sekalian pelas atau bersih-bersih kampung, serta mengusir roh-roh yang jahat,” ujar Rohani menjelaskan esensi dari rangkaian upacara adat yang dipimpinnya. Setelah prosesi khusus untuk keluarga Misran selesai, ketiga mulung lainnya kembali melanjutkan tarian dengan tempo musik yang kian bertambah cepat. Suasana malam semakin larut dan mendekati waktu subuh, menandakan rangkaian ritual adat tersebut hampir mencapai puncaknya.
Sementara rekan-rekannya menari, Rohani terus berjalan berkeliling menembus kerumunan warga yang duduk bersila di sekitar lokasi upacara. Mulutnya tidak berhenti melafalkan doa-doa keselamatan, sementara jemarinya dengan telaten terus mengoleskan minyak tolak bala ke kening setiap warga yang hadir malam itu. Kehadiran ritual ini memberikan ketenangan batin tersendiri bagi masyarakat Muara Kate yang selama ini hidup berdampingan dengan berbagai dinamika sosial dan lingkungan di wilayah konsesi industri.
Menjelang fajar menyingsing di ufuk timur, rangkaian prosesi belian yang telah berlangsung selama tiga hari berturut-turut akhirnya resmi selesai. Satu per satu warga mulai beranjak meninggalkan lokasi upacara untuk kembali ke rumah masing-masing dengan membawa harapan baru. Pelaksanaan tradisi leluhur ini tidak hanya memperkuat ikatan solidaritas antarwarga Dusun Muara Kate, tetapi juga menjadi cara kultural mereka dalam merawat identitas, memohon keadilan, serta menjaga keharmonisan alam leluhur di tanah Kalimantan Timur.
Pertanyaan Umum
Apa itu ritual Belian Bawo?
Belian Bawo adalah upacara adat tradisional masyarakat Dayak Deah yang dilakukan untuk memanjatkan doa kepada leluhur, memohon keselamatan, tolak bala, serta membersihkan kampung dari energi negatif.
Siapa yang memimpin jalannya ritual adat tersebut?
Ritual ini dipimpin oleh seorang mulung bernama Rohani bersama tiga orang mulung lainnya yang bertugas memandu jalannya doa dan tarian sakral.
Apa makna dari pengolesan lio sagan?
Lio sagan adalah minyak yang telah diberi mantra khusus untuk menolak bala, membersihkan perkampungan, serta melindungi warga dari berbagai bentuk mara bahaya.
Ringkasan
Ritual adat Belian Bawo di Dusun Muara Kate, Kalimantan Timur, adalah upacara tradisional suku Dayak Deah yang dilaksanakan sebagai wujud syukur, tolak bala, pembersihan kampung, serta memohon perlindungan dan keadilan kepada leluhur.
Dipimpin oleh mulung bernama Rohani, ritual ini melibatkan tarian sakral, doa dalam bahasa leluhur, dan pengolesan minyak berkat “lio sagan” kepada warga untuk memberikan keselamatan batin dari berbagai marabahaya.












