Redaksiku.com – Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD, memberikan tanggapan terbuka mengenai pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang sempat melontarkan kritik keras terhadap kualitas para pakar di Indonesia. Dalam sebuah sesi diskusi di kanal YouTube pribadinya pada Rabu (23/9), Mahfud menyoroti gaya komunikasi kepala negara yang secara terbuka menyebut banyak pakar yang tidak kompeten atau bahkan menggunakan diksi yang cukup tajam.
Mahfud MD mengakui bahwa secara statistik, Indonesia memang memiliki jumlah tenaga akademisi yang sangat besar. Berdasarkan data yang ia paparkan, terdapat lebih dari 1.500 profesor yang tersebar di berbagai perguruan tinggi di seluruh penjuru tanah air. Ia tidak memungkiri bahwa dalam kelompok sebesar itu, variasi kualitas intelektual pasti terjadi.
Terdapat lebih dari 1.500 profesor di Indonesia yang memiliki latar belakang keilmuan beragam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tanggapan Mengenai Etika Kepemimpinan
Meskipun mengakui adanya realitas bahwa tidak semua akademisi memiliki performa yang optimal, Mahfud MD memberikan catatan kritis terkait cara Presiden Prabowo menyampaikan pandangannya. Menurut Mahfud, seorang pemimpin negara idealnya memiliki sikap yang lebih tenang dan bijak saat menghadapi kritik, alih-alih membalas dengan melontarkan label negatif kepada mereka yang berseberangan pendapat.
Mahfud menilai bahwa membodoh-bodohkan pihak yang melontarkan kritik adalah tindakan yang kurang etis dilakukan oleh seorang pemegang mandat kekuasaan tertinggi. Ia menekankan bahwa jabatan presiden menuntut kedewasaan sikap, terutama dalam merespons masukan dari kalangan intelektual yang sejatinya menjalankan fungsi kontrol sosial.
“Tidak layak sebagai seorang presiden. Jangan mengejek orang yang mengkritik. Tidak etis ya.”
— Mahfud MD
Dalam pandangan Mahfud, kemampuan orasi dan penguasaan bahasa Presiden Prabowo memang patut diapresiasi karena mampu memberikan kesan yang kuat. Namun, ia menyayangkan munculnya sikap defensif yang cenderung menyerang balik ketika ada kebijakan pemerintah yang dibedah oleh para pakar atau pengamat di dalam negeri.
Fungsi Intelektual dalam Demokrasi
Mahfud MD menegaskan bahwa kritik yang datang dari para pakar bukanlah upaya untuk menjatuhkan, melainkan bentuk tanggung jawab intelektual. Ia mencontohkan pengalamannya sendiri dalam mengamati dinamika kebijakan pemerintah saat ini, termasuk program yang sedang berjalan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Kopdes Merah Putih.
Menurutnya, kritik yang ia sampaikan tidak didasari oleh penolakan terhadap visi misi presiden yang terpilih secara sah, melainkan pada aspek tata kelola kebijakan. Mahfud menyoroti beberapa poin penting terkait pengawasan kebijakan publik tersebut:
- Kritik disampaikan untuk memastikan bahwa setiap program negara memiliki akuntabilitas yang transparan.
- Pakar memiliki tanggung jawab moral untuk mengingatkan pemerintah agar tidak terjerumus ke dalam potensi penyimpangan.
- Tata kelola yang tidak rapi dalam program berskala besar meningkatkan risiko terjadinya tindak pidana korupsi.
Mahfud MD menegaskan bahwa kritik yang ia lontarkan terhadap kebijakan pemerintah merupakan bagian dari tanggung jawab intelektual untuk menjaga tata kelola negara.
Pelajaran dari Sejarah Kepemimpinan
Untuk memperkuat argumennya mengenai pentingnya kualitas pemimpin, Mahfud MD menarik perbandingan dengan sejarah kepemimpinan global. Ia menyebut bahwa fenomena pemimpin yang kurang cakap dalam memimpin sebenarnya bukan hal baru dan pernah terjadi di berbagai belahan dunia.
Salah satu contoh yang ia angkat adalah sosok Idi Amin, mantan Presiden Uganda, yang sering disebut-sebut dalam literatur sejarah sebagai contoh pemimpin yang kurang memiliki kapasitas kepemimpinan yang ideal. Melalui perbandingan ini, Mahfud ingin mengingatkan bahwa setiap pemimpin memiliki tantangan untuk membuktikan kualitasnya di hadapan publik dan sejarah.
Pernyataan Mahfud MD merupakan pandangan pribadi yang disampaikan melalui platform media sosial dan tidak mewakili posisi resmi lembaga negara mana pun.
Pertanyaan Umum
Apa yang mendasari kritik Mahfud MD terhadap Presiden Prabowo?
Mahfud MD mengkritik sikap Presiden Prabowo yang dinilai kurang etis karena membodoh-bodohkan pakar atau akademisi yang memberikan masukan atau kritik terhadap kebijakan pemerintah.
Bagaimana pandangan Mahfud mengenai program Makan Bergizi Gratis?
Mahfud menyatakan bahwa ia tidak menolak program tersebut sebagai kebijakan pilihan pemerintah, namun ia mengkritisi tata kelolanya karena dianggap rentan terhadap praktik korupsi.
Apakah Mahfud MD mengakui kemampuan Prabowo Subianto?
Ya, Mahfud mengakui bahwa Presiden Prabowo memiliki kemampuan orasi yang baik dan penguasaan bahasa yang membanggakan, namun ia menyayangkan sikap defensif presiden saat menghadapi kritik.
Ringkasan
Mantan Menko Polhukam Mahfud MD secara terbuka mengkritik gaya komunikasi Presiden Prabowo Subianto yang melabeli para pakar dan akademisi dengan sebutan tidak kompeten. Dalam diskusi di kanal YouTube pribadinya pada 23 September 2024, Mahfud menegaskan bahwa tindakan presiden yang merendahkan pihak pengkritik adalah sikap yang tidak etis bagi seorang pemimpin negara.
Mahfud mengakui Indonesia memiliki lebih dari 1.500 profesor dengan kualitas yang bervariasi, namun ia menekankan bahwa kritik dari kalangan intelektual merupakan bentuk tanggung jawab moral dalam menjaga tata kelola pemerintahan. Ia menyoroti pentingnya akuntabilitas pada program besar seperti Makan Bergizi Gratis agar terhindar dari tindak pidana korupsi, sekaligus mengingatkan bahwa pemimpin seharusnya mampu menerima masukan sebagai bagian dari fungsi kontrol sosial dalam demokrasi.






