Redaksiku.com – Sebuah karya sastra mendalam hadir merefleksikan hubungan sakral antara manusia, alam, dan Sang Pencipta melalui suara kepedihan masyarakat adat yang tanahnya mulai tergerus arus modernisasi. Puisi berjudul Tanah ciptaan Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr atau yang lebih dikenal sebagai Romo Yance Dou ini secara tajam menyoroti realitas kerusakan lingkungan serta marginalisasi yang tengah terjadi di bumi Papua.
Ditulis bertepatan dengan tanggal Minggu, 20 September 2026 di Jayapura, karya ini tidak sekadar bermain dengan rima estetis. Bait-bait di dalamnya merangkum jeritan nurani seorang rohaniawan sekaligus pemerhati kemanusiaan yang gelisah melihat eksploitasi besar-besaran atas nama pembangunan ekonomi dan investasi global.
Refleksi Filosofis Hubungan Manusia dan Ibu Pertiwi
Bagian awal puisi ini memposisikan tanah bukan sekadar objek mati, melainkan sebagai sosok ibu yang merawat, membesarkan, dan memberi kehidupan bagi setiap makhluk bernapas. Konsep ini mencerminkan kearifan lokal masyarakat adat Papua yang memandang alam sebagai bagian dari tubuh mereka sendiri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam pandangan teologis dan kultural yang diusung penulis, merusak alam sama artinya dengan menyakiti sumber kehidupan itu sendiri. Beberapa elemen penting yang ditekankan dalam hubungan ini mencakup:
- Tanah diposisikan sebagai ibunda pertama dan terakhir yang menopang seluruh eksistensi makhluk hidup.
- Pemberian alam berupa air, makanan, dan udara dipandang sebagai bentuk kasih sayang murni tanpa pamrih.
- Kepatuhan alam pada hukum Sang Pencipta menjadi kontras dengan keserakahan manusia yang sering kali melanggar batas.
Pendekatan filosofis ini memperkuat legitimasi moral karya tersebut. Pembaca diajak untuk merenungkan kembali sejauh mana peradaban modern telah memperlakukan alam secara adil.
Jeritan Papua di Tengah Gelombang Eksploitasi
Memasuki bait-bait pertengahan, fokus puisi bergeser secara spesifik ke tanah Papua yang kini menghadapi ancaman nyata dari mesin-mesin industri dan korporasi asing. Hutan-hutan yang tadinya asri kini dipetakan, disayat, dan diperjualbelikan demi kepentingan modal.
Dampak langsung dari eksploitasi ini dirasakan oleh masyarakat adat yang kehilangan ruang hidup mereka. Pohon-pohon tumbang, sungai serta sagu yang menjadi sumber pangan tercemar, dan anak-anak adat tersingkir dari tanah kelahiran mereka sendiri.
Ibu Papua kini menangis menanggung beban atas nama pembangunan yang merampas ruang kehidupan serta menyerahkan darat, laut, dan gunung kepada korporasi.
Kritik sosial yang disampaikan sangat tajam menyasar kebijakan ekonomi yang kerap mengabaikan hak-hak dasar masyarakat lokal. Utang dan kesepakatan sepihak menjadi akar masalah yang mengorbankan masa depan ekologis wilayah tersebut.
Profil Singkat Yance Dou
Pencipta karya ini, Yance Dou, lahir pada 5 September 1980 di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Perjalanan hidup dan pendidikannya membentuk kepedulian yang mendalam terhadap isu-isu sosial dan spiritual di tanah Papua.
Ia menempuh pendidikan tinggi teologi hingga meraih gelar strata satu dan dua di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura Jayapura. Penahbisan imamnya berlangsung pada 13 Februari 2011 di Paroki Gembala Baik Abepura.
Komitmen akademis dan pastoralnya juga terbukti dari studi lanjut spesifik di bidang Teologi Moral dan Spiritual di Universitas Navarra Pamplona, Spanyol, pada tahun 2015 hingga 2017. Berbagai posisi penting pernah diembannya dalam struktur Gereja Katolik lokal:
- Pastor Paroki Santo Petrus Oklip di Pegunungan Bintang dari tahun 2010 hingga 2013.
- Direktur Spiritual Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua dalam rentang waktu cukup panjang.
- Menjabat sebagai Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura sejak tahun 2025 hingga saat ini.
Pertanyaan Umum
Siapakah pencipta puisi Tanah?
Puisi tersebut diciptakan oleh Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr, yang akrab disapa Romo Yance Dou, seorang rohaniawan dan pimpinan pastoral di Keuskupan Jayapura.
Apa isu utama yang diangkat dalam karya ini?
Karya ini menyoroti kerusakan lingkungan di Papua akibat eksploitasi korporasi, perampasan hak masyarakat adat, serta seruan moral untuk melindungi alam demi masa depan peradaban.
Kapan dan di mana puisi ini diselesaikan?
Puisi tersebut diselesaikan di Jayapura pada hari Minggu, 20 September 2026.
Ringkasan
Artikel ini mengulas secara mendalam puisi berjudul “Tanah” karya Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr (Romo Yance Dou), yang diselesaikan di Jayapura pada 20 September 2026. Karya sastra ini merefleksikan hubungan sakral antara manusia, alam, dan Sang Pencipta, serta menyoroti isu krusial terkait kerusakan lingkungan dan marginalisasi masyarakat adat Papua di tengah gelombang modernisasi dan investasi global.
Sebagai seorang rohaniawan Katolik sekaligus Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura yang memiliki latar belakang pendidikan Teologi Moral dan Spiritual dari Universitas Navarra Pamplona, Romo Yance Dou menuangkan kegelisahannya melihat eksploitasi besar-besaran atas nama pembangunan ekonomi. Melalui bait-bait puisinya, ia memposisikan tanah Papua sebagai sosok ibu yang merawat kehidupan, sekaligus menyuarakan jeritan masyarakat adat yang ruang hidup, hutan, serta sumber pangan mereka terancam oleh kepentingan korporasi.












