Hari Sabtu Pagi, Ratih mengajak Sutini, suaminya dan kedua anaknya yang masih balita, Rafli 4 tahun dan Nindi 2 tahun, pergi berwisata.
Tante Latih, benelan mau ke Culug? tanya Rafli yang masih cadel dengan mata berbinar-binar. Ratih hanya mengangguk sambil tersenyum.
Rafli duduk sama Tante, ya?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Rafli mengangguk senang. Nanti boleh main ail kan, tante?
Wah kalau itu tanya Ayah. Tante juga baru mau ke sana! Ratih malu wajahnya memerah. Dia belum pernah main ke Curug manapun.
Ke negara tetangga bahkan Eropa aku pernah ke sana, ini di dekat rumah malah belum! Ratih bersenandika. Perjalanan mereka tidak.makan waktu lama. Jalanan lancar, dan tempat mereka masih satu kecamatan.
Mereka sedang menikmati tamasya di curug Jenggala masih di kawasan Kedung Banteng. Kedua balita itu dalam pengawasan ayahnya, berlarian di taman tepian sungai. Ratih dan Sutini menggelar tikar di bawah rindangnya pepohonan damar.
Angin gunung semilir sejuk menyambut pengunjung, mendinginkan tubuh dan sisa emosi yang terbawa. Tempat indah untuk tamasya sekaligus healing. Ratih tidak menyadari, dirinya sedang diawasi oleh seseorang.
Secara sembunyi-sembunyi, seorang pria bertubuh atletis dalam balutan kaos, celana jins, jaket kulit dan topi bisbol serba hitam sedang memperhatikan Ratih. Sepasang mata elangnya menatap tajam mengikuti semua gerak-gerik Ratih. Kacamata Rayban terselip di dadanya. Lidah topi membayangi separuh wajahnya. Semua pengunjung tidak ada yang hirau. Mereka fokus pada kegembiraan berada di situ terutama anak-anak.
Ratih tampak sangat bahagia. Semua beban perjodohan seperti luruh begitu saja. Dia bahkan bermain kejar-kejaran dengan kedua bocil menggantikan suami Tini. Ketiganya kemudian turun ke bagian sungai yang dangkal bergabung dengan pengunjung lain yang sedang keceh ditunggui oleh beberapa petugas. Suami Tini mengawasi dengan ketat, takut terjadi apa-apa.
Domu, turun tangan sendiri ke lapangan untuk menemukan Ratih, putri pak Rangga, kenalan baiknya. Putrinya, Cindy, adalah teman sekolah Ratih sejak SD hingga SMA. Dari putrinya itulah dia mendapat info kalau Ratih punya beberapa teman dekat. Di antara mereka Sutini satu-satunya yang tinggal di perkampungan di area Baturraden. Selebihnya studi di kota lain.
Keluarga Danusaputra bukan orang asli Purwokerto. Ayah Ratih berasal dari Wonosobo, sedang ibunya orang Solo. Tidak ada satupun kerabatnya yang tinggal di Purwokerto. Mereka dipertemukan di tempat kerja Arum, ibunda Ratih di Semarang. Kakek Ratih dulu merintis usaha kontraktor di Kota kripik, sampai diserahkan pengelolaannya kepada Rangga. Kakek Ratih kembali ke Wonosobo menikmati hari tuanya.
Pagi itu Domu sedang menuju ke tempat tinggal Sutini. Ketika hampir sampai alamat yang dituju, dia melihat Ratih dan Sutini sekeluarga sedang menaiki sebuah mobil. Domu mengikuti mereka dalam jarak aman menuju ke tempat wisata curug Jenggala.
Sepertinya Ratih bahagia sekali. Biarlah dia menikmati kebahagiaannya. HP pak Rangga juga tidak aktif, gumamnya lirih.
Sambil memakai kaca mata, Domu berjalan santai menuju jajaran warung makan untuk sarapan. Dia berhenti di jembatan melihat anak-anak yang sedang keceh sambil mengabadikan keriangan Ratih dan suasana sekelilingnya. Seperti ada yang menggerakkan Ratih menoleh ke arah jembatan. Keduanya bertatapan.
Domu kaget lalu berpura-pura memotret sekitar sungai. Tanpa kesan istimewa, Ratih kembali bermain dengan kedua bocil anak Sutini. Domu berlalu menuju warung makan. Dia berniat untuk mengawasi saja, hingga mereka pulang. Domu harus mengetahui persisnya rumah tempat Ratih tinggal.
Domu mencari warung terdekat. Dari tempat duduknya, dia dapat menikmati keindahan kawasan wisata sekaligus dapat melihat pergerakan Ratih. Dia mengabadikan spot-spot indah lalu mempostingnya di sosmed pribadi. Domu senyum-senyum geli membaca respon followernya yang menanyakan lokasi.
Ketika menyeruput kopi, yah, dah dingin! Buk, bisa nambah air panas? Cepat sekali dingin, ya! pintanya dengan logat Batak yang cukup kental.
Musim bediding Pak, air panas cepet dingin. Bapake orang Batak, ya? Dines di mana? ujarnya sambil menuang air panas.
Dinas di Kepolisian, jawab Domu sambil tertawa. Aku lama Buk tinggal di Jawa. Aku juga bisa kok, ngomong jawa, lanjutnya.
Sementara itu mamah Toni, Ninit, sedang kebingungan mencari tempat pertemuan bersama keluarga Danusaputra esok harinya. Rencananya, makan siang di restoran. Sayangnya semua restoran yang mempunyai ruangan privat, sudah full booked. Tiba-tiba dia dikagetkan oleh dering HP di tangannya. Nyaris saja gadget keluaran baru terlepas dari genggaman.
Hallo, Rum?
Di seberang sana Arum dengan suara cemas menyampaikan kesibukan suaminya karena masalah perusahaan. Dia tidak sanggup mengatakan kalau Ratih kabur dari rumah. Dengan ragu meminta untuk menunda pertemuan besok. Antara perasaan lega dan kecewa, Ninit menyetujui penundaan tersebut.
Nggak apa Rum, kalau mas Rangga sibuk. Ditunda minggu depan, ya?
Insyaallah, Nit. Mudah-mudahan bisa. Entah kenapa perusahan mengalami masalah, sahut Arum lega. Harapannya Ratih segera ditemukan. Dia sangat khawatir. Ratih, putri satu-satunya, gadis cupu yang sejak kecil belum pernah terpisah dari kedua orang tuanya, sekarang kabur dari rumah.
Untunglah ¦, bisik Ninit sambil mengesah lega. Kalau begitu, aku booking untuk minggu depan saja.
Di kantornya, Rangga memimpin rapat tim proyek pembangunan prasarana Jateng selatan bagian barat. Semua anggota tim, diminta mematikan gadget-nya. Rapat berlangsung hingga larut malam. Masalah pokok sudah teratasi. Rangga kembali ke ruangannya. Semua kembali ke meja kerja masing-masing lalu beranjak pulang.
Rangga mengempaskan diri di kursi kerjanya, setelah mengeluarkan HP dari saku celana. Begitu ponsel hidup, dia terkejut melihat Domu beberapa kali menghubungi dan beberapa kali kirim chat. Di ikon Telepon, Domu juga berusaha menghubunginya.
Rangga membaca chatting WA terakhir Domu, yang mengabarkan hasil pencarian putrinya. Saking gembiranya, dia segera menghubungi Domu. Terlihat olehnya penanda waktu di HP, hampir tengah malam. Diputuskan menunda sampai besok pagi. Dengan hati lega, Rangga pulang.
Mas, pak Bastian bolak-balik telpon. Aku bilang mungkin sampai malam. Kutanyakan tentang Ratih, dia hanya bilang sudah ada titik terang. Apa maksudnya? Apa dia menemukannya? Di mana?
Rangga merangkul istrinya mengajak masuk kamar.
Minggu pagi keesokan harinya, Ratih dijemput pulang. Dia diperlakukan dengan lembut oleh kedua orang tuanya. Mereka tidak ingin melukai perasaan putri kesayangannya. Ratih diberi ruang untuk merasakan dan menilai perhatian dan kasih sayang kedua orang tuanya.
Malamnya, Rangga Wijaya Danusaputra, kekasih pertama Ratih, mengajak makan malam berdua saja. Keduanya berkencan di sebuah restoran yang menyediakan orgen tunggal.
Ratih, kenapa kamu membuat Ayah dan Bunda khawatir?
Wajah Ratih langsung muram. Bibirnya manyun, tatapannya segera beralih ke panggung pertunjukan. Dia bungkam mengacuhkan ayahnya, hatinya sangat kesal.
Kalau ada masalah, kan, bisa ngomong sama Ayah! Malah kabur, bikin khawatir. Kalau sampai beritanya tersebar, mau ditaruh di mana muka Ayah?
Paling Ayah sama, ma Bunda. Nggak percaya sama Ratih. Buat apa ngomong.
Belum juga dicoba, udah nuduh. Yaudah kalau Ayah cuma kamu anggap sebagai ATM.
Ayah! sergah Ratih.
Seorang pramusaji mendekat membawa menu pesanan mereka. Pesanan dihidangkan, keduanya lalu menikmati makanan dan minuman sesuai pesanan mereka sambil berbincang. Rangga begitu telaten mendengarkan semua curhatan putri terkasihnya. Hatinya bersyukur, Ratih ditemukan dalam keadaan selamat.
Ratih bilang kalau hari Kamis, seminggu sebelum kabur, dia melihat Toni melamar perempuan yang sangat cantik. Ratih melihat dan mendengar percakapan mereka. Saat itu dia tidak sengaja makan siang di tempat yang sama. Toni dan pasangannya duduk tidak jauh dari meja Ratih.
Bunda nggak percaya, Ayah. Katanya aku menuduh. Padahal hari ini harusnya kita diundang tante Ninit, kan? Kita akan membicarakan perjodohan kami. Iya, kan? Makanya aku kabur. Mas Toni pasti juga menolak perjodohan ini. Buktinya dia tunangan lebih dulu.
Memang kamu yakin, itu nak Toni?
Ayah! suara Ratih langsung meninggi, maksudnya Aku salah lihat? Dia benar-benar mas Toni. Dia kan kakak kelas mas Bagas. Satu klub tim panjat tebing SMA 2. Walaupun 5 tahun di luar negeri aku masih inget wajahnya! Ratih mengembuskan napas dengan kasar. Ratih menyesal, Ayah, waktu itu tidak merekamnya. Paling tidak Sutini bisa mengambil gambarnya. Meja mas Toni tepat di hadapannya.
Memang nak Toni nggak melihatmu?
Mereka duduk di sebelah meja kami. Ratih melihat kedatangannya, sedang meja yang kosong, ya tinggal meja itu. Buru-buru Ratih pindah duduk membelakanginya. Resto lagi penuh, waktunya makan siang.
Yaudah, nanti Ayah minta penjelasan dari nak Toni. Masalah bundamu, biar itu urusan Ayah. Tapi jangan kabur lagi, dan selesaikan kuliahmu!
Ratih mengangguk mantap sambil tersenyum lebar, wajahnya cerah. Dia bangkit lalu memeluk ayahnya dengan perasaan lega. Kemudian keduanya menyelesaikan makan, dilanjut nyanyi-nyanyi baik solo maupun duet. Hati Ratih terasa ringan dan bahagia.
Ayahnya, cinta pertamanya sekaligus pahlawan baginya, memang dapat diandalkan. Dalam hati, Ratih sedikit menyesal. Kesibukan ayahnya menangani proyek-proyek, sedikit banyak mengganggu hubungan ayah dan anak.





