Novel : Petaka Sebuah Janji (Part 26)

- Penulis

Senin, 11 November 2024 - 14:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Petaka Sebuah Janji (Part 26)

Novel : Petaka Sebuah Janji (Part 26)

Perempuan penuh dendam dan kesepian, bersama si dukun mesum terbangun saat fajar menyingsing. Si Aki mesum langsung mengelus tempat-tempat sensitif wanita, memasukkan lidahnya ke telinga sambil berbisik.

Kau harus menyerap sinar surya pagi pertama untuk mendapatkan kekuatan dan kecantikan. Aku akan membantumu.

Si Aki mengambil kembang tujuh rupa masing-masing satu, meremasnya lalu menyuruhnya untuk memakannya. Erlika menolak. Dukun itu memaksanya dengan memasukkan langsung gumpalan bunga ke dalam mulut Erlika. Dengan segera melakukan sentuhan dan ciuman di tempat-tempat tertentu, Erlika melupakan rasa kembang. Dia terus mengunyah dan mengunyah lalu menelannya sambil menikmati manisnya air asmara. Keduanya seperti hidup di sorga di jaman Adam dan Hawa baru tercipta, tak ada rasa malu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mentari sudah bulat penuh, Erlika mandi kembang, menghadap matahari terbit. Wajah mendongak tepat ke arah surya yang baru meninggalkan peraduannya. Seluruh tubuhnya dibaluri kembang tujuh rupa oleh si dukun. Erlika tidak menyadari, Aki Jungsemi memasukkan mantra ke tubuh dan pikirannya tanpa kecuali, membuat dirinya dalam kendali penuh si dukun cabul. Setelah ritual mandi versi dukun cabul selesai keduanya pulang.

Sekarang tidurlah, aku puas dengan pelayananmu. Tidak rugi, aku sudah uluk salam mengganggu orang yang kau benci. Aku akan menambah penderitaannya. Dia pasti sangat kesakitan. Aku mau turun ke kampung membeli kebutuhan untuk makan dan ritual.

Erlika hanya mengangguk. Dia terlalu lelah dan ngantuk, perut laparnya tidak dia hiraukan. Tanpa ganti baju dia langsung tergolek berbungkus sarung, lalu tertidur pulas. Sebelum pergi Aki Jungsemi melakukan ritual. Kedua tangannya menjentikkan jari. Dari jari-jari itu muncul bulatan-bulatan kecil yang menyatu membuat bulatan hitam berduri. Jungsemi meniupnya dan wuss menghilang menerobos dinding.

***

Rasa sakit perut Ratih semakin memburuk, membuat bundanya tidak tidur. Keningnya berkeringat karena menahan sakit. Mamah Ninit juga tidak bisa tidur, dia bergegas keluar untuk mengambil obat dan minuman hangat.

Bundanya membaluri Ratih dengan minyak gosok di perut, punggung, ujung kakinya yang dingin dan basah, lalu kedua tangannya. Melihat bilur-bilur di tubuh putrinya, dahi Arum langsung mengernyit.

Sayang, memar-memar ini ¦ nggak mungkin karena jatuh, kan?

Ratih hanya menangis. Bundanya minta penjelasan, Ratih langsung memeluk dan menangis nelangsa. Terdengar langkah kaki mendekat, Ratih langsung melepas pelukan, menghentikan tangisan dan kembali rebahan. Bundanya juga tanggap, meneruskan balurannya. Kemudian mengganti baju Ratih yang basah oleh keringat. Ninit, masuk.

Ratih, minum dulu untuk menghangatkan perutmu! Teh hangat satu cangkir, langsung dihabiskan. Ninit memberikan obat dan segelas air putih.

Sayang, besok ke dokter, ya? Sekarang minum ini dulu untuk mengurangi rasa sakitnya.

Setelah minum pereda rasa sakit, ditambah kurang tidur, membuat Ratih tertidur. Bunda dan mamahnya pun ikut tertidur. Keesokan harinya, Ratih nggak mau sarapan. Perutnya melilit lagi seperti semalam, terasa semakin parah. Dia minta pulang. Barman, dan Ninit mengizinkannya. Toni pun tidak berkeberatan.

Keluarga Danusaputra pamit, sekalian membawa Ratih ke dokter. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tak ada yang salah dengan fisiknya. Namun rasa sakit itu begitu nyata bagi Ratih, tangan dan kakinya pun sedingin es. Rangga dan Arum hanya bisa saling pandang. Dokter pun heran.

Kau terlihat baik-baik saja secara medis, kata dokter, sambil memandang Ratih dengan ekspresi bingung dan prihatin. Tapi jika kau merasa sakit, mungkin kita perlu pemeriksaan lebih lanjut? Mmm ¦ sebaiknya dilakukan pemeriksaan USG.

Ratih menolak, dia minta obat penghilang rasa sakit saja seperti semalam. Rasa sakitnya berkurang, dia juga bisa tidur.

Apa yang diminum?

Bundanya menyebut merk obat yang dijual bebas. Dokter hanya menyetujui untuk pemakaian tiga hari saja. Jika sakitnya belum hilang juga, dokter menyarankan untuk pemeriksaan menyeluruh.

Ratih hanya mengangguk, hati kecilnya merasakan bukan sakit yang wajar. Rasa sakit yang dia rasakan bukan berasal dari tubuhnya. Jika dia terus berzikir rasa sakit itu akan berkurang, sebentar saja dia berhenti rasa itu akan kembali menyengat sangat menyakitkan.

Dalam perjalanan pulang, Ratih kembali menegaskan, Bunda, Ayah, perutku benar-benar sakit. Aku tidak bohong! Tapi ¦ aneh sekali! Sekarang nggak sakit lagi! kata ratih kebingungan.

Jangan-jangan ¦, Rangga ragu untuk mengatakannya.

Perempuan itu tidak tau kalau Ratih pulang! celetuk Ratih. Coba Ratih nggak pernah tinggal di rumah itu ¦, gumamnya sedikit kesal, matanya merebak merah.

Ratih, sudahlah ¦ semua ada yang mengatur, kata bundanya dengan lembut. Sekarang, kita harus bersyukur, kita telah aman. Semoga kita aman seterusnya, lanjut Arum diaminkan oleh Ratih dan ayahnya.

Sesampai di rumah, Arum segera menghubungi Pakde Narto, saudara iparnya, yang memiliki kemampuan dalam dunia spiritual. Dia menjelaskan secara garis besar semua yang Ratih alami, hingga pagi ini. Pakde Narto berpesan, semua orang malam ini tanpa kecuali tidak boleh tidur walau sepicing pun.

Malam ini, kalian semua harus tuguran, berjaga-jaga, ujar Pakde dengan suara rendah namun tegas. Jangan ada yang tidur. Baca al-Quran sepanjang malam. Semua lampu dinyalakan, jangan sampai ada yang mati. Rumah dalam keadaan terang benderang, luar dan dalam. Serangan ini tidak main-main.

Semua sibuk mempersiapkan untuk berjaga tidak tidur semalaman. Entah sampai kapan. Arum dan Simbok mempersiapkan lauk kering yang tidak perlu dihangatkan juga camilan. Rangga dibantu sopirnya memeriksa semua lampu.

Sementara di rumah dukun Jungsemi, Erlika terbangun oleh cahaya matahari yang menyusup dari celah-celah dinding kayu. Dia kebingungan, sedikit demi sedikit ingatannya pulih. Dia tersenyum, membenahi sarungnya, lalu bangkit duduk. Wajahnya terpantul jelas di cermin lemari. Tangannya mengelus wajahnya.

Bener kata Aki, aku lebih cantik, gumamnya lirih sambil tersenyum puas. Toni pasti akan lebih tergila-gila padaku! Gak nyangka, tujuannya nyantet, dapet bonus cantik.

Dia merebahkan diri lagi. Perutnya mulai menagih minta diisi. Dia bangkit duduk bersandar dinding. Tiba-tiba pintu terbuka. Aki masuk membawa kantong kresek berisi bungkusan nasi dan lauk pauk, serta sekantong barang-barang kebutuhan ritual.

Sudah bangun? Nih simpan di wadah, kita makan. Peralatan ada di dapur, perintahnya.

Keduanya makan bersama sambil bercanda, seperti pengantin baru.

Ternyata Aki lembut dan hangat, gumam Erlika dalam hati.

Selesai makan, Erlika mencuci piring mangkuk bekas makan. Sambil cuci piring dia melihat sekitar ada bilik kecil di bawah rumpun bambu, itu pasti kamar mandi. Dapet air dari mana? Aaah persetan yang penting ada, bisiknya lirih.

Erlika masuk ke dalam didapatinya si dukun tidak ada. Dia mencium asap rokok. Aki sedang duduk di bale-bale depan rumah. Dia menyusul duduk di sebelahnya. Aki Jungsemi memasang tirai gaib menyelubungi tempat tinggalnya. Erlika merasa ingin dan ingin sekali merasakan sentuhan-sentuhannya.

Keduanya masuk, mereka berpagutan, meniti tangga menuju surga khayalan dilamun asmara hingga terpuaskan. Erlika tidak sadar energinya diserap si dukun untuk memperkuat kekuatannya. Si dukun juga memanfaatkan rasa benci Erlika kepada target, untuk memudahkan meneror targetnya secara gaib.

Erlika tergolek kelelahan, tubuhnya lunglai tidak bertenaga. Berkebalikan dengan Aki Jungsemi, dia begitu segar berenergi. Melihat Erlika yang lunglai, dia menggendongnya bak Gatotkaca yang sedang kasmaran menggendong Endang Pregiwa. Aki membawanya ke belakang, lalu melompat terjun ke dalam lembah, Erlika merasakan sensasi terbang yang indah. Keduanya mendarat dengan mulus di tepi sungai di dasar lembah. Air dingin dan jernih mengembalikan tenaga Erlika. Dia berendam sepuasnya.

***

Hari sudah menjelang sore, di kediaman keluarga Danusaputra semua persiapan sudah selesai. Mereka semua istirahat, hingga waktu asar berkumandang. Semua orang di rumah itu tidak tenang hatinya. Rangga dan Dakim, sopirnya yang merupakan suami Simbok, pergi ke masjid. Sementara Arum, Ratih dan simbok menunaikan salat Asar berjamaah di rumah.

Ternyata benar, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Rumah tinggal Ratih yang sudah dilindungi dengan pagar gaib oleh Mpek An Cong ditembus oleh kekuatan hitam. Mulai menjelang magrib suasana makin mencekam. Ratih kembali merasa lemah dan pucat. Dia mulai mendapat gangguan yang menakutkan. Selepas salat Magrib rasa kantuk menyerangnya. Dia tidak lagi mampu untuk duduk dan tadarus menunggu salat Isya. Bundanya melihat Ratih ngantuk berat, menyuruhnya tidur.

Ratih, kalau ngantuk tidur saja. Nanti waktu isya Bunda bangunin. Jangan lupa berdoa, saran bundanya.

Ratih menaruh al-Quran di nakas, lalu naik ke tempat tidur. Belum lama Ratih tertidur, dia mengalami mimpi buruk.

Wuaaa ¦ jangan! ¦ jangan! Tolong ¦! jerit Ratih.

Tubuhnya bergelung menggigil ketakutan. Bundanya yang sedang tadarus, segera bangkit membangunkannya. Ayahnya yang sedang tadarus di ruang tengah langsung naik ke kamar Ratih.

Astagfirullahaladzim ¦ Ratih, bangun! Bangun, Sayang.

“Bunda … Ratih takut ¦,” kata Ratih langsung memeluk bundanya. Arum, memeluknya erat.

“Ular, Bun ¦ ular hitam itu datang lagi, dan didia menjerat leherku, dia membawaku ke tempat gelap ¦.”

Mendengar kata-kata putrinya yang ketakutan, Rangga terpaku di depan pintu. Arum menggigil, tapi mencoba untuk tenang.

Sayang, semua ini akan segera berakhir. Bunda sudah meminta Pakde Narto kemari. Pakde baru bisa berangkat, besok pagi. Semua akan melindungimu, Sayang. Ayo bangun, sebentar lagi isya.

Bun, Ratih mau minum susu.

Wudhu dulu, nanti Bunda ambilkan. Mau yang dingin atau yang biasa?

Yang dingin.

Rangga memberi kode, dia yang akan mengambilkan. Selesai salat dan minum susu, Ratih duduk bersandar bantal lalu berzikir. Bundanya melanjutkan tadarus. Beberapa saat kemudian, Ratih kembali tertidur nyenyak. Setelah menyelimuti putrinya, Arum keluar kamar, bergabung dengan suaminya yang sedang tadarus.

Bagaimana Ratih?

Alhamdulillah sudah tidur lagi. Makan dulu, Yah. Kita mau begadang, nanti masuk angin.

Minum susu aja Bun, sama makan buah.

Susu panas, ya? tawar Arum. Rangga hanya mengangguk.

Arum ke dapur menyuruh Simbok mengupas dan memotong dua buah mangga arumanis, lalu menyuruh Simbok dan suaminya makan. Dia sendiri menyiapkan dua gelas susu panas.

Malam itu, suasana rumah terasa mencekam. Lampu-lampu dinyalakan di setiap sudut, tapi suasananya suram, bayangan gelap terasa menggantung di sekeliling mereka. Ketika jam menunjukkan tepat tengah malam, tiba-tiba terdengar ledakan keras di atas kamar Ratih. Seluruh rumah bergetar, bau busuk yang sangat tajam menyebar dengan cepat memenuhi udara.

Astagfirullah, Ini serangan! seru Rangga sambil membekap hidung. “Mereka menyerang rumah ini ¦ Ratih! Bunda, lindungi dia!”

Arum bergegas menuju kamar putrinya dengan sesal yang menggunung di dadanya. Dia telah meninggalkan putrinya sendirian di kamar. Rangga menyusul di belakangnya. Sementara Simbok dan Dakim, suaminya, yang duduk di sajadah, terus membaca ayat-ayat suci Al-Qur™an dengan suara keras dan gemetar. Keduanya tidak mampu berdiri.

Mpek An Cong yang berada di tempat lain merasakan getaran energi gelap dari kejauhan. Dia menyatukan nalar dan rasa, mempertajam penglihatan batin, melihat rumah keluarga Ratih sedang diserang oleh kekuatan dukun sakti yang membantu Erlika.

Rupanya Erlika tidak bisa menerima kekalahan sebelumnya. Dia langsung bergerak cepat terbakar oleh dendam kesumatnya, memakai jasa dukun yang lebih sakti dari sebelumnya. Mpek An Cong segera memutuskan, ini bukan lagi sekadar masalah cinta. Erlika telah melangkah terlalu jauh, dan jika tidak dihentikan, nyawa Ratih bisa melayang.

Saat itu di Solo, Pakde Narto dengan ketajaman pengamatan batinnya merasakan sesuatu yang sangat mendesak untuk segera berangkat ke Purwokerto. Tepat tengah malam, gelas minumnya pecah beberapa senti dari depan bibirnya. Dengan segera dia melaksanakan salat malam, lalu membangunkan sopir sekaligus saudara jauhnya, pak Kardi, yang juga mempunyai kemampuan olah batin yang tinggi. Pak De mengajaknya segera berangkat ke rumah Arum. Mereka berkendara dengan kecepatan penuh. Menjelang subuh, mereka sudah sampai.

Mobil Pakde Narto berhenti di ujung jalan menuju rumah keluarga Danusaputra. Keduanya lalu mengamati sekitar perumahan. Tampak sesuatu sedang mengitari tempat tinggal adik iparnya. Keduanya mesu budi untuk menajamkan penglihatan batin. Tampak kabut tipis kehitaman menyelubungi rumah, menlutup pagar gaib yang terkoyak. Hati Pakde mencelos.

Kita harus segera kesana. Berjaga-jagalah dan pasang pelindung. Pagar gaib yang dipasang oleh keluarga besan sedikit terkoyak. Lawan kita ndak main-main, Di. Mereka mengincar nyawa!

Setelah mengheningkan cipta membaca mantra-mantra, mobil bergerak menuju rumah. Baru saja bergerak, Pakde menyuruh berhenti. Tahan dulu, Di. Kita tunggu azan subuh. Siapapun mereka, golongan hitam akan kabur mendengar azan! mobil menepi menunggu kumandang azan.

Azan subuh berkumandang bersahutan dari segala penjuru. Yang paling keras, azan dari masjid yang letaknya berhadapan dengan pintu masuk komplek. Tirai tipis kehitaman yang melingkupi kediaman Danusaputra menyingkap perlahan semakin menipis, lalu lenyap entah kemana. Suasana mistis pun hilang. Mobil langsung bergerak. Beberapa pria berjalan cepat menuju masjid. Rangga keluar rumah saat mobil Pakde sampai di depan pagar. Rangga menunggu siapa yang keluar.

Assalamualaikum, Kangmas. Katanya nanti siang baru tindak sini, sapa Rangga sambil menyalami kakak ipar istrinya.

Eh, pak Kardi, sugeng? sapa Rangga sambil mengulurkan tangan.

Pangestu Panjenengan, jawabnya sambil menerima jabat tangan tuan rumah.

Kangmas mau istirahat, atau subuhan dulu?

Ya subuhan dulu to, Dimas. Ayo Di, subuhan, biar dapat palilahe Gusti Allah.

Ketiganya berjalan tergesa-gesa menuju masjid diikuti Dakim. Arum yang mendengar ada mobil berhenti, mengintip dari jendela. Dia melihat saudara iparnya bersama pak Kardi. Lho Pakde, katanya nanti siang. Syukurlah kalau sudah datang. Matur nuwun Gusti, alhamdulillah, gumamnya lirih. Setelah salat subuh, Arum langsung ke dapur menyiapkan sarapan dan minum panas untuk tamunya.

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Foto:Kantor Dinas Kesehatan Kota Parepare. BPK dalam LHP atas LKPD Pemerintah Kota Parepare Tahun Anggaran 2025 menyoroti pembayaran tagihan listrik

Viral

BPK Ungkap Temuan Perjadin Dinkes Parepare, Ada Apa?

Jumat, 7 Agu 2026 - 15:20 WIB