Ndak apa-apa, namanya juga musibah, kata Barman menenangkan. Tatapan teduh pak Komisaris cukup menenangkan hati Erlika.
Huru hara sudah berlalu. Musik pengantar rehat diputar lembut mengiringi tamu udangan rehat kopi. Mereka minum sesuai pilihan masing-masing, menikmati snack, sambil ngobrol. Terdengar tawa yang agak tertahan. Di situ ada Komisaris utama.
Dengan anggun Toni masuk ruangan dari pintu utama, bersamaan dengan Erlika yang sedang menuju pintu samping ke ruang makan. Sekilas Toni menangkap raut wajah Erlika. Seperti ada dorongan entah dari mana, Erlika menoleh ke arah pintu utama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Langkah keduanya terhenti, saling bertatapan. Desir lembut mengusap relung hati sepasang muda mudi yang baru dipertemukan itu. Debaran jantung keduanya meningkat. Baby Cupid melepas anak panahnya.
Lika! Malah bengong! Cepet kerjain, bisa nggak pulang, Kamu! tegur Ridwan yang duduk di sebelah kirinya.
Setelah minum beberapa teguk untuk menormalkan jantung dari keterkejutan, Erlika mulai membuka berkas-berkas yang harus ditelitinya.






