Novel : Petaka Sebuah Janji (Part 2)

- Penulis

Jumat, 30 Agustus 2024 - 17:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Petaka Sebuah Janji (Part 2)

Cinta mengalahkan segalanya. Karena dia tidak ada kakak dan adiknya. No choice but love. Itulah jika panah cupid sudah menancap, dunia adalah miliknya. Kekasih hati yang selalu melela di matanya. Hanya kerinduan yang ada, dan pertemuan obatnya.

Sayang, jangan lupa besok dandan yang cantik, ok? Kita makan siang berdua, ajak Toni. Tanpa menunggu jawaban dia segera memutus sambungan sambil senyum-senyum sendiri. Hatinya puas mengerjai Erlika, tunangannya.

Di seberang sana, Erlika penasaran. Belum sempat menjawab sepatah pun sambungan diputus sepihak. Dia gemas sekali. Dia buru-buru memencet nomor darurat. Nomor tersambung, tapi tidak diangkat. Tiga kali sambungan hasilnya nihil. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Awas kamu, Mas! gumamnya kesal. Tiba-tiba ¦

Lika! Kau dibayar untuk kerja! Bukannya main HP! Jangan mentang-mentang dekat dengan Dirut, ya! Kerjakan ini, harus selesai hari ini, kalau perlu lembur! sembur bu Rani, atasan langsungnya, dengan nada tinggi. Lalu menaruh berkas dengan kasar di meja Erlika. Bu Rani berbalik dengan kesal lalu masuk ke ruangannya.

Awas nanti kalau aku sudah jadi nyonya Astono! gerutu Erlika sebal. 

Teman-teman satu ruangan saling berbisik. Mencuri-curi pandang dengan tatapan sinis. Sejak dekat dengan Toni, Erlika yang semula gadis unyu, mulai meninggikan dagu. Berusaha menunjukkan levelnya di atas rekan-rekan kerjanya. 

Busana sederhananya berganti produk buatan butik dengan model yang menampakkan lekuk tubuh yang seksi. Belum lagi tas dan sepatunya. Tiap hari berangkat dan pulang dengan mobil online. Ojek langganan dilupakannya.

Riasan standar, berganti dengan riasan seperti artis. Wajah cantik alami makin nampak kinclong. Membuat iri rekan kerja wanita. Gayanya sangat menarik perhatian lawan jenis. Banyak pria jomblo tersingkir dan patah hati. Erlika menjadi bahan pembicaraan di kantornya. 

Toni menjamin kehidupannya. Dia memberikan ATM tabungan pribadinya untuk keperluan hidup tunangannya. Erlika bebas menggunakannya. Sebagai perempuan yang mempunyai keterbatasan finansial, jelas seperti menemukan harta karun. Nafsu belanjanya naik drastis, apa yang dulu hanya impian, kini dia mampu menjadikan kenyataan.

Setiap Toni melakukan kunjungan kerja, Erlita sering diajak dengan dalih menemani sekretarisnya. Kesempatan baginya untuk bergaya di hotel ternama sebagai bahan postingan. Follower akun sosmed-nya melambung. Postingannya dalam berbagai gaya sangat disukai netizen. Tanpa sadar, dia ikut menaikkan rating hunian hotel-hotel milik grup ANCALA.

Erlika terkenang pertemuan pertama dengan Toni. Waktu itu, ada acara perkenalan Dirut Kantor Pusat yang baru, menggantikan ayahnya, Ir. Barman Heru Sumbogo. Ayah Toni seorang pengusaha terkenal yang sukses mengembangkan bisnis perhotelan. Hotelnya tersebar hampir di setiap provinsi di Indonesia. 

Kabarnya, pak Astono baru pulang dari Amrik. Dia mengambil Master Manajemen, bisik seorang petugas dapur.

Bukannya dia insinyur elektro? sanggah temannya.

Dia itu kelebihan otak, nggak kaya™ kowe, Ndul! Dia mengambil Master Elektronika dan Lisensi Internasional White Hacker.

Terus Master Manajemennya? cecar temannya yang dipanggil Ndul, dia masih tidak percaya.

Beres Master Elektronika, ngambil Manajemen. Makanya, jadwal pulang mundur. Harusnya, pergantian Dirut tahun kemaren, jelas pembicara pertama.

Mendengar itu Erlika membatin, hebat sekali pak Dirut baru! Kaya apa sih orangnya? Saat itu, Erlika bertugas mengawasi meja konsumsi. Dia sedang memperhatikan petugas dapur menyiapkan minuman dan menata snack.

Tampak Petugas penyambutan berlarian, dengan sigap mereka berbaris menyambut kedatangan pak Barman dan putranya. Para undangan berdiri menyambut dari tempat duduknya di Ballroom.

Dengan anggun penuh pesona, Toni melangkah masuk lobby bersama ayahnya diiringi petugas penyambutan. Dalam balutan jas resmi berwarna biru tua, dipadu hem biru muda, dia tampak segar. Memakai dasi motif garis miring berwarna biru tua dengan bahan dasar nylon biru muda. Dasi dijepit dengan jepitan dasi berhias blue diamond di ujungnya menambah nilai plus penampilannya. Senyum ramah terus tersungging di bibir kemerahan yang tidak pernah tersentuh rokok. Semua mata dengan tatapan kagum tertuju padanya. Setelah semua duduk, acara perkenalan dimulai.

Erlika mengontrol kesiapan meja penyajian baik makanan ringan, minuman maupun menu utama. Saat perkenalan berlangsung, Erlika hanya mengintip dari pintu ruang makan. Di atas podium seorang pemuda akhir 20an sedang memperkenalkan diri. 

Penampilannya anggun dan sangat berkarisma, balutan busana  pas di badan menonjolkan warnakulitnya. Suaranya dalam dan tegas, dengan tatapan tajam kedepan. Sekali-sekali menatap para tamu dengan senyum ramah tersungging di bibirnya, menebarkan aura seorang pemimpin. Para tamu undangan tampak saling berbisik. Tamu undangan di sekitar Pak Komisaris menyalami sambil memberikan ucapan selamat.

Ternyata ganteng sekali seperti bapaknya. Tapi matanya lebih lebar, mungkin seperti ibunya. Smart and gorgeous! gumam Erlita lirih, masih muda sudah memimpin perusahaan besar, gila! lanjutnya penuh kekaguman.

Erlika sampai terbengong melihat kegantengan sekaligus kagum kepada Dirut muda yang sedang berpidato memperkenalkan diri. Dia terkejut ketika bahunya disentuh pelan oleh pak Edi, ketua panitia penyambutan.

Er, minuman dan camilan sudah siap belum? 

Semua beres, Pak. Tinggal nunggu kode, jawab Erlika sambil senyum.

Tapi, mereka minta minum di meja ballroom agar bisa ngobrol! Cepat sajikan teko-teko teh dan kopi, juga tempat susu dan creamer! Cepat ya, jangan sampai mereka menunggu! perintahnya.

Oh iya.” Erlika terkejut kelabakan, “berarti  snack juga harus dibagi sesuai jumlah meja, dong,” lanjutnya sambil berlalu.

Erlika geragapan, segera memberi order petugas dapur dibantu pramusaji. Kesibukan luar biasa terjadi, karena pergantian acara dadakan. Mereka bekerja dengan sigap dan tenang tanpa gelombang. Tidak ada bunyi benturan peralatan sedikit pun, mereka bekerja dalam senyap cukup akurat. Tepat saatnya penyajian mereka sudah siap.

Acara pokok sudah selesai. Saatnya coffe break, minuman dan camilan disajikan. Entah mengapa seorang pramusaji kakinya kesrimpet sesuatu tepat di depan meja VVIP. Teko minum panas yang dibawanya terlempar jatuh. Teko kopi mental jatuh di karpet, sedang teko teh jatuh di pangkuan sang Dirut baru. Toni langsung berdiri sambil berteriak kepanasan. Celana bagian atas basah kuyup oleh air teh panas.

Dengan sigap Erlita menyambar kotak tisu lalu berlari menghampiri. Sambil mengucapkan maaf berkali-kali, dengan tangan gemetar Erlita berusaha mengeringkan celana Dirut yang basah dengan tisu. Pak Edi membantu memegangi tempat tisu dan memunguti tisu basah yang dibuang Erlika. Toni mendesis kepanasan. Erlita menarik kain celana ke atas agar tidak menempel kulit, lalu memeras cairannya dengan selembar serbet. Semua berjalan begitu saja karena tanggung jawab, tanpa embel-embel mencari perhatian.

Pak Edi, cepat pak Dirut dibawa ke Suit Room, pinta Erlita. Semua dibuat sibuk oleh insiden ini. 

Pak Komisaris, saya penanggung jawab sajian ini. Mohon maaf atas kejadian ini, kata Erlita dengan suara bergetar. Barman hanya mengangguk. Sementara Ning, pramusaji penyebab insiden, membawa peralatan minum yang jatuh ke dapur. Keadaan kembali normal.

Dengan sedikit marah dan kecewa, Erlita mencari Ning. Diro, seorang pramusaji pria, memberitahu kalau Ning dipanggil pak Edi ke kantor.

Dir, kenapa bukan kamu yang membawa teko-teko minuman? Kenapa petugas perempuan yang membawa baki minuman yang berat itu?

Sasaya juga bawa, tapi ke meja lain, Mbak. Kebetulan Hendi hari ini absen, jadi petugas laki-laki kurang. Mbak Ning saat itu sudah selesai mengatur meja prasmanan, ikut membantu menggantikannya. Dia kan senior, jadi diminta menyajikan untuk VVIP, jelas Diro.

Kemana anak itu?

Ke kantor, Mbak. Dipanggil pak Edi.

Ada-ada saja. Bagaimana Aku harus mempertanggungjawabkannya? gerutu Erlika bingung. Sebenarnya apa yang terjadi? sambungnya.

Diro menjelaskan kejadian di dapur. Setelah menaruh nampan di meja, Ning menangis. Dia ketakutan kalau sampai dipecat. Saat ini ibunya sedang sakit berat, sedang ayahnya hanya seorang tukang ojek online. Di sini mereka tidak punya saudara. Mereka pendatang dari desa Clekatakan.

Clekatakan Pulosari? Diro mengangguk, lalu meneruskan ceritanya. Marni, sesama pramusaji menanyakan penyebab dia jatuh.

Memang tadi kamu ngapain? Semua peralatan sudah wireless. Jadi nggak mungkin kamu kesandung kabel, kan?

Aku ¦ aku kesrimpung kakiku sendiri. Ini gara-gara pak Edi meminta kita pakai sepatu hak tinggi! jawabnya kesal sambil sesenggukan.

Oalah ¦ dasar anak kampung, kata beberapa chef yunior sambil tertawa geli. Erlika ikutan tersenyum geli meskipun wajahnya masih kusut.

Aku pasti dipecat! tangisnya sedih mengharu biru. Tiba-tiba pak Edi muncul.

Ning! Cepat ke kantor, kata pak Edi dengan ketus mengagetkan kami semua. 

Tangis Ning terhenti seketika. Wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar, dingin berkeringat. Dengan wajah tunduk dan ketakutan dia mengekor pak Edi ke kantor hotel. Mendengar cerita Diro, Erlika berniat menyusul ke kantor. Baru saja Erlika beranjak untuk menyusul Ning, bu Rani memanggil dengan nada tinggi. 

Lika! Minuman dan snack di Meja VVIP belum dihidangkan! Cepat ganti yang tumpah tadi!

Baik, Bu.

Segera Erlita menyiapkan dua set teko terbaik milik hotel. Teko tempat teh dan kopi panas, tempat gula, susu dan creamer. Serta gelas kecil dari kristal untuk sendok dan garpu kecil. Snack ditempatkan di wadah kristal berikut tatakan kue dan tisu. 

Dia sendiri yang menghidangkan dibantu seorang pramusaji pria yang membawa nampan minuman dan seorang pramusaji wanita yang membawa nampan snack. Meskipun dengan sedikit gemetar, dengan cermat dia menghidangkannya di meja tempat Dirut baru itu duduk. 

Jantungnya berdegup tidak karuan saat Barman Heru Sumbogo, mantan Dirut yang kini menjabat sebagai Komisaris Utama, memperhatikannya. Erlika berusaha tetap tenang agar bawaannya tidak tumpah.

Setelah semua tersaji, Erlika menawarkan minum kepada Pak Komisaris dan tamunya, lalu menuang minuman sesuai pesanannya.

Maaf pak Komisaris. Karena insiden tadi, minuman terlambat dihidangkan, kata Erlika santun.

Ndak apa-apa, namanya juga musibah, kata Barman menenangkan. Tatapan teduh pak Komisaris cukup menenangkan hati Erlika.

Huru hara sudah berlalu. Musik pengantar rehat diputar lembut mengiringi tamu udangan rehat kopi. Mereka minum sesuai pilihan masing-masing, menikmati snack, sambil ngobrol. Terdengar tawa yang agak tertahan. Di situ ada Komisaris utama.

Dengan anggun Toni masuk ruangan dari pintu utama, bersamaan dengan Erlika yang sedang menuju pintu samping ke ruang makan. Sekilas Toni menangkap raut wajah Erlika. Seperti ada dorongan entah dari mana, Erlika menoleh ke arah pintu utama. 

Langkah keduanya terhenti, saling bertatapan. Desir lembut mengusap relung hati sepasang muda mudi yang baru dipertemukan itu. Debaran jantung keduanya meningkat. Baby Cupid melepas anak panahnya.

Lika! Malah bengong! Cepet kerjain, bisa nggak pulang, Kamu! tegur Ridwan yang duduk di sebelah kirinya.

Setelah minum beberapa teguk untuk menormalkan jantung dari keterkejutan, Erlika mulai membuka berkas-berkas yang harus ditelitinya.

 

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Foto:Kantor Dinas Kesehatan Kota Parepare. BPK dalam LHP atas LKPD Pemerintah Kota Parepare Tahun Anggaran 2025 menyoroti pembayaran tagihan listrik

Viral

BPK Ungkap Temuan Perjadin Dinkes Parepare, Ada Apa?

Jumat, 7 Agu 2026 - 15:20 WIB