Erlika sampai terbengong melihat kegantengan sekaligus kagum kepada Dirut muda yang sedang berpidato memperkenalkan diri. Dia terkejut ketika bahunya disentuh pelan oleh pak Edi, ketua panitia penyambutan.
Er, minuman dan camilan sudah siap belum?
Semua beres, Pak. Tinggal nunggu kode, jawab Erlika sambil senyum.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tapi, mereka minta minum di meja ballroom agar bisa ngobrol! Cepat sajikan teko-teko teh dan kopi, juga tempat susu dan creamer! Cepat ya, jangan sampai mereka menunggu! perintahnya.
Oh iya.” Erlika terkejut kelabakan, “berarti snack juga harus dibagi sesuai jumlah meja, dong,” lanjutnya sambil berlalu.
Erlika geragapan, segera memberi order petugas dapur dibantu pramusaji. Kesibukan luar biasa terjadi, karena pergantian acara dadakan. Mereka bekerja dengan sigap dan tenang tanpa gelombang. Tidak ada bunyi benturan peralatan sedikit pun, mereka bekerja dalam senyap cukup akurat. Tepat saatnya penyajian mereka sudah siap.
Acara pokok sudah selesai. Saatnya coffe break, minuman dan camilan disajikan. Entah mengapa seorang pramusaji kakinya kesrimpet sesuatu tepat di depan meja VVIP. Teko minum panas yang dibawanya terlempar jatuh. Teko kopi mental jatuh di karpet, sedang teko teh jatuh di pangkuan sang Dirut baru. Toni langsung berdiri sambil berteriak kepanasan. Celana bagian atas basah kuyup oleh air teh panas.
Dengan sigap Erlita menyambar kotak tisu lalu berlari menghampiri. Sambil mengucapkan maaf berkali-kali, dengan tangan gemetar Erlita berusaha mengeringkan celana Dirut yang basah dengan tisu. Pak Edi membantu memegangi tempat tisu dan memunguti tisu basah yang dibuang Erlika. Toni mendesis kepanasan. Erlita menarik kain celana ke atas agar tidak menempel kulit, lalu memeras cairannya dengan selembar serbet. Semua berjalan begitu saja karena tanggung jawab, tanpa embel-embel mencari perhatian.
Pak Edi, cepat pak Dirut dibawa ke Suit Room, pinta Erlita. Semua dibuat sibuk oleh insiden ini.
Pak Komisaris, saya penanggung jawab sajian ini. Mohon maaf atas kejadian ini, kata Erlita dengan suara bergetar. Barman hanya mengangguk. Sementara Ning, pramusaji penyebab insiden, membawa peralatan minum yang jatuh ke dapur. Keadaan kembali normal.
Dengan sedikit marah dan kecewa, Erlita mencari Ning. Diro, seorang pramusaji pria, memberitahu kalau Ning dipanggil pak Edi ke kantor.
Dir, kenapa bukan kamu yang membawa teko-teko minuman? Kenapa petugas perempuan yang membawa baki minuman yang berat itu?
Sasaya juga bawa, tapi ke meja lain, Mbak. Kebetulan Hendi hari ini absen, jadi petugas laki-laki kurang. Mbak Ning saat itu sudah selesai mengatur meja prasmanan, ikut membantu menggantikannya. Dia kan senior, jadi diminta menyajikan untuk VVIP, jelas Diro.
Kemana anak itu?
Ke kantor, Mbak. Dipanggil pak Edi.
Ada-ada saja. Bagaimana Aku harus mempertanggungjawabkannya? gerutu Erlika bingung. Sebenarnya apa yang terjadi? sambungnya.
Diro menjelaskan kejadian di dapur. Setelah menaruh nampan di meja, Ning menangis. Dia ketakutan kalau sampai dipecat. Saat ini ibunya sedang sakit berat, sedang ayahnya hanya seorang tukang ojek online. Di sini mereka tidak punya saudara. Mereka pendatang dari desa Clekatakan.
Clekatakan Pulosari? Diro mengangguk, lalu meneruskan ceritanya. Marni, sesama pramusaji menanyakan penyebab dia jatuh.
Memang tadi kamu ngapain? Semua peralatan sudah wireless. Jadi nggak mungkin kamu kesandung kabel, kan?
Aku ¦ aku kesrimpung kakiku sendiri. Ini gara-gara pak Edi meminta kita pakai sepatu hak tinggi! jawabnya kesal sambil sesenggukan.
Oalah ¦ dasar anak kampung, kata beberapa chef yunior sambil tertawa geli. Erlika ikutan tersenyum geli meskipun wajahnya masih kusut.
Aku pasti dipecat! tangisnya sedih mengharu biru. Tiba-tiba pak Edi muncul.
Ning! Cepat ke kantor, kata pak Edi dengan ketus mengagetkan kami semua.
Tangis Ning terhenti seketika. Wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar, dingin berkeringat. Dengan wajah tunduk dan ketakutan dia mengekor pak Edi ke kantor hotel. Mendengar cerita Diro, Erlika berniat menyusul ke kantor. Baru saja Erlika beranjak untuk menyusul Ning, bu Rani memanggil dengan nada tinggi.
Lika! Minuman dan snack di Meja VVIP belum dihidangkan! Cepat ganti yang tumpah tadi!
Baik, Bu.
Segera Erlita menyiapkan dua set teko terbaik milik hotel. Teko tempat teh dan kopi panas, tempat gula, susu dan creamer. Serta gelas kecil dari kristal untuk sendok dan garpu kecil. Snack ditempatkan di wadah kristal berikut tatakan kue dan tisu.
Dia sendiri yang menghidangkan dibantu seorang pramusaji pria yang membawa nampan minuman dan seorang pramusaji wanita yang membawa nampan snack. Meskipun dengan sedikit gemetar, dengan cermat dia menghidangkannya di meja tempat Dirut baru itu duduk.
Jantungnya berdegup tidak karuan saat Barman Heru Sumbogo, mantan Dirut yang kini menjabat sebagai Komisaris Utama, memperhatikannya. Erlika berusaha tetap tenang agar bawaannya tidak tumpah.
Setelah semua tersaji, Erlika menawarkan minum kepada Pak Komisaris dan tamunya, lalu menuang minuman sesuai pesanannya.
Maaf pak Komisaris. Karena insiden tadi, minuman terlambat dihidangkan, kata Erlika santun.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya






