Perjuangan Warga Tempirai Melawan Kebakaran Hutan dan Lahan

- Penulis

Rabu, 16 September 2026 - 20:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perjuangan Warga Tempirai — Warga Desa Tempirai berjuang memadamkan kebakaran hutan dan lahan secara mandiri tanpa tim profesional.

Warga Desa Tempirai berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan secara mandiri untuk melindungi perkebunan warga.

Redaksiku.com – Kondisi darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Tempirai, Sumatera Selatan, kembali memaksa warga setempat untuk bertindak sebagai garda terdepan dalam melindungi ruang hidup mereka. Tanpa kehadiran tim pemadam profesional di lokasi, masyarakat harus mengandalkan inisiatif mandiri untuk mencegah api melahap lahan produktif dan hutan semak yang menjadi sandaran ekonomi keluarga.

Pada Sabtu (5/9/26), kepanikan melanda warga saat api mulai merambat mendekati perkebunan karet milik keluarga Sumanti. Sumanti (30) yang saat itu sedang berada di luar segera bergegas pulang menggunakan sepeda listrik setelah komunikasi dengan keluarganya terputus. Wajahnya pucat, menyadari bahwa aset berharga milik keluarganya berada dalam ancaman nyata di tengah kondisi cuaca panas yang disertai hembusan angin kencang.

Respons cepat pun dilakukan oleh warga sekitar. Dua lelaki dan dua perempuan segera memacu sepeda motor mereka menuju titik api dengan membawa peralatan seadanya, yakni dua jerigen air berkapasitas 35 liter dan satu alat semprot pupuk yang dimodifikasi untuk memadamkan bara. Sumanti menyusul tak lama kemudian dengan membawa tambahan air, menunjukkan betapa krusialnya peran warga dalam memutus mata rantai penyebaran api di tahap awal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Upaya kolektif warga dalam memadamkan titik api di kawasan Talang Turunan Gajah setidaknya melibatkan penggunaan pompa air berkekuatan 15 PK yang dioperasikan secara swadaya oleh masyarakat setempat.

Lokasi kebakaran yang berupa hutan semak dan bambu berbatasan langsung dengan area jongot, yakni sistem agroforestri tradisional yang dikelola warga, serta perkebunan karet milik penduduk. Dalam upaya memadamkan api, mereka memanfaatkan air dari paye, yaitu sebutan lokal untuk rawa atau potongan sungai kecil yang kondisinya kini mulai mengering akibat kemarau panjang. Meski telah berjuang selama dua jam, upaya manual tersebut hanya mampu memperlambat laju api tanpa benar-benar memadamkan titik bara yang masih tersebar luas.

Kemandirian Warga di Tengah Keterbatasan

Kondisi baru berangsur membaik saat tiga orang warga lainnya datang membawa pompa air berkekuatan 15 PK beserta belasan meter selang. Kehadiran alat ini menjadi titik balik bagi upaya pemadaman yang sempat terkendala keterbatasan air. Setelah berjibaku selama tiga jam, api akhirnya berhasil dijinakkan sepenuhnya, memberikan kelegaan bagi Sumanti dan keluarga yang kebunnya sempat terancam.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, api diduga merambat dari arah lahan transmigran yang berada di sisi belakang perkebunan warga. Ketergantungan pada alat milik pribadi menjadi potret nyata bagaimana masyarakat Desa Tempirai harus bertahan sendiri. Sadikin (46), pemilik pompa air yang digunakan dalam aksi tersebut, mengungkapkan bahwa tidak adanya tim karhutla formal di wilayah mereka membuat warga harus selalu siap siaga.

Untuk mengoperasikan pompa air tersebut, para petani yang memiliki lahan di kawasan Talang Turunan Gajah rutin melakukan urunan dana. Uang yang terkumpul digunakan untuk membeli bahan bakar minyak agar pompa tetap bisa bekerja saat dibutuhkan mendadak. Gotong royong menjadi satu-satunya instrumen pertahanan yang mereka miliki saat menghadapi ancaman bencana kebakaran yang berulang setiap musim kemarau.

Ketiadaan tim pemadam kebakaran resmi di tingkat desa memaksa warga untuk melakukan penanganan mandiri yang berisiko tinggi terhadap keselamatan pribadi.

Pentingnya Ekosistem Lokal dalam Mitigasi Bencana

Pola pemanfaatan lahan oleh masyarakat Tempirai sebenarnya memiliki fungsi ekologis yang penting sebagai sekat bakar alami. Sistem jongot yang dikombinasikan dengan keberadaan paye berfungsi menjaga kelembapan mikro di sekitar kebun. Namun, ketika paye mengering, fungsi perlindungan ini menurun drastis, membuat wilayah tersebut lebih rentan terhadap sebaran api dari lahan luar.

Masyarakat desa sebenarnya sangat memahami risiko ini. Mereka tidak hanya menjaga kebun, tetapi juga secara tidak langsung menjaga kelestarian area hutan semak di sekelilingnya. Tanpa adanya dukungan infrastruktur pemadaman dari pihak berwenang, ketergantungan pada peralatan swadaya dan tenaga manusia akan terus menjadi satu-satunya pilihan bagi warga Desa Tempirai untuk mempertahankan mata pencaharian mereka dari ancaman musiman.

“Tidak ada tim karhutla di sini. Warga gotong royong kalau ada kebakaran di kebun.”

— Sadikin

Penyediaan pompa air portabel dan cadangan bahan bakar di tingkat kelompok tani dapat menjadi langkah preventif yang efektif bagi wilayah yang jauh dari jangkauan pos pemadam kebakaran.

Pertanyaan Umum

Mengapa warga Desa Tempirai harus memadamkan api sendiri?

Desa Tempirai tidak memiliki akses langsung terhadap tim pemadam kebakaran resmi (karhutla) yang menetap di lokasi. Hal ini memaksa warga untuk mengandalkan inisiatif kolektif dan peralatan milik pribadi demi melindungi lahan perkebunan mereka dari ancaman api yang merambat.

Bagaimana warga mendapatkan air untuk memadamkan api di lahan?

Warga memanfaatkan sumber air dari paye, yaitu rawa atau potongan sungai kecil di sekitar kebun. Namun, karena kondisi kemarau yang membuat air di paye menyusut, warga harus menggunakan pompa air berkekuatan 15 PK untuk menjangkau titik api yang lebih jauh.

Apa yang dimaksud dengan jongot dalam konteks lahan warga?

Jongot adalah istilah lokal untuk sistem agroforestri atau lahan yang dikelola dengan menanam berbagai jenis tanaman secara tumpang sari. Sistem ini berfungsi sebagai zona penyangga bagi perkebunan karet warga sekaligus menjaga kelembapan tanah di sekitar area tersebut.

Ringkasan

Warga Desa Tempirai terpaksa memadamkan kebakaran hutan dan lahan secara mandiri menggunakan peralatan pribadi serta sistem gotong royong karena tidak adanya tim pemadam kebakaran resmi di wilayah mereka. Upaya ini melibatkan penggunaan pompa air swadaya dan pemanfaatan sumber air lokal untuk melindungi lahan produktif serta perkebunan karet dari ancaman api yang kerap terjadi saat musim kemarau.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Perminas dan ITB Kolaborasi Riset dan Teknologi Mineral
Jadwal Arema FC vs Persik Kediri di Super League Hari Ini
Cienciano Tahan Imbang Montevideo City Torque 0-0 di Centenario
Mahfud MD Nilai AHY Punya Kapasitas untuk Maju Pilpres
Bandung Diguncang 47 Gempa Sejak Rabu, BMKG Ungkap Pemicunya
DPRD Karo Minta Ganti Rugi Korban MBG Beracun ke Kepala BGN
Daftar Film Terlaris di Bioskop Indonesia 2026: Spider-Man Teratas
12 Tahun Injil di Skouw: Abisai Rollo Ajak Generasi Muda Takut Tuhan

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 14:20 WIB

Perminas dan ITB Kolaborasi Riset dan Teknologi Mineral

Jumat, 18 September 2026 - 13:35 WIB

Jadwal Arema FC vs Persik Kediri di Super League Hari Ini

Jumat, 18 September 2026 - 13:29 WIB

Cienciano Tahan Imbang Montevideo City Torque 0-0 di Centenario

Jumat, 18 September 2026 - 13:13 WIB

Mahfud MD Nilai AHY Punya Kapasitas untuk Maju Pilpres

Jumat, 18 September 2026 - 13:11 WIB

Bandung Diguncang 47 Gempa Sejak Rabu, BMKG Ungkap Pemicunya

Berita Terbaru

Pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto merumuskan strategi untuk mencapai kemandirian energi nasional.

Politik

Strategi Prabowo Wujudkan Swasembada Energi Lewat 6 Langkah

Jumat, 18 Sep 2026 - 14:45 WIB

Perminas dan ITB berkolaborasi dalam riset dan teknologi untuk memperkuat sektor pertambangan nasional.

Viral

Perminas dan ITB Kolaborasi Riset dan Teknologi Mineral

Jumat, 18 Sep 2026 - 14:20 WIB

Kalangan buruh secara resmi mengusulkan kenaikan upah minimum 2027 sebesar 7,5 hingga 9,5 persen untuk menjaga daya beli pekerja.

Hot Issue

Tuntutan Kenaikan Upah 2027 Sebesar 7,5-9,5 Persen oleh Buruh

Jumat, 18 Sep 2026 - 13:59 WIB

Mega Science Center dan Budaya di Jatim Park 1 resmi memulai trial opening dengan mengusung konsep sains, teknologi, dan budaya.IST

pesona nusantara

Trial Opening Mega Science Center dan Budaya Jatim Park 1 Batu

Jumat, 18 Sep 2026 - 13:53 WIB

error: Content is protected !!