Redaksiku.com – Jumlah pengangguran di Indonesia menunjukkan penurunan pada data terbaru 2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka atau TPT pada Mei 2026 sebesar 4,65 persen, turun 0,03 persen poin dibandingkan Februari 2026 yang berada di level 4,68 persen.
Jumlah angkatan kerja Indonesia pada Mei 2026 mencapai 155,41 juta orang, sementara penduduk yang bekerja mencapai 148,19 juta orang. Dengan demikian, jumlah pengangguran tercatat sekitar 7,22 juta orang.
Meski secara nasional angka pengangguran membaik, sejumlah tantangan besar belum hilang. Tingkat pengangguran kelompok usia muda 15–24 tahun masih sangat tinggi, mencapai 17,37 persen. Sementara berdasarkan pendidikan, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan atau SMK kembali mencatat TPT tertinggi sebesar 7,68 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Data tersebut memperlihatkan persoalan ketenagakerjaan Indonesia kini bukan hanya mengenai berapa banyak lapangan kerja yang tercipta, tetapi juga siapa yang mendapatkan pekerjaan dan seberapa berkualitas pekerjaan tersebut.
Pengangguran Indonesia Turun Jadi 4,65 Persen
BPS merilis data terbaru ketenagakerjaan nasional pada 5 Agustus 2026 berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional atau Sakernas Mei 2026.
Hasilnya, TPT Indonesia berada di level 4,65 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan Februari 2026 sebesar 4,68 persen.
Jika melihat beberapa periode terakhir, arah perbaikannya terlihat.
Pada November 2025, TPT Indonesia masih sebesar 4,74 persen. Pada Februari 2026 turun menjadi 4,68 persen, kemudian kembali turun menjadi 4,65 persen pada Mei.
Penurunan memang relatif tipis, tetapi menunjukkan tambahan angkatan kerja masih dapat diserap pasar tenaga kerja.
Jumlah Pengangguran Sekitar 7,22 Juta Orang
Persentase 4,65 persen tersebut setara dengan sekitar 7,22 juta pengangguran di Indonesia.
Pada Mei 2026, jumlah angkatan kerja mencapai 155,41 juta orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 148,19 juta telah bekerja.
Dibandingkan Februari 2026, jumlah penduduk bekerja bertambah sekitar 522 ribu orang.
Sementara angkatan kerja bertambah sekitar 497 ribu orang.
Karena pertambahan jumlah orang bekerja lebih besar daripada penambahan angkatan kerja dalam periode tersebut, jumlah pengangguran turun sekitar 24 ribu orang.
148,19 Juta Penduduk Indonesia Kini Bekerja
BPS mencatat jumlah penduduk bekerja mencapai 148,19 juta orang pada Mei 2026.
Angka tersebut naik dari sekitar 147,67 juta orang pada Februari.
Namun tidak semua pekerjaan mempunyai karakter yang sama.
Sebagian bekerja sebagai buruh atau karyawan formal, sementara puluhan juta lainnya bekerja secara informal sebagai pekerja mandiri, pekerja keluarga, atau dalam berbagai bentuk pekerjaan yang tidak termasuk kelompok formal.
Karena itu, peningkatan jumlah pekerja perlu dibaca bersama indikator kualitas pekerjaan.

Pekerja Formal Naik Jadi 60,31 Juta Orang
Ada perkembangan positif dari sisi pekerjaan formal.
Pada Mei 2026, jumlah pekerja formal mencapai sekitar 60,31 juta orang atau 40,70 persen dari seluruh penduduk bekerja. Angka itu meningkat dari 59,93 juta orang pada Februari 2026.
Kenaikan terutama didorong bertambahnya kelompok buruh, karyawan, dan pegawai sekitar 342 ribu orang.
Meski begitu, pekerjaan informal tetap menjadi bagian terbesar dari pasar kerja Indonesia.
87,88 Juta Orang Masih Bekerja di Sektor Informal
BPS mencatat 87,88 juta orang atau sekitar 59,30 persen penduduk bekerja berada pada kegiatan informal.
Jumlah tersebut jauh lebih besar dibandingkan 60,31 juta pekerja formal.
Kondisi ini penting karena pekerjaan informal secara umum memiliki karakter perlindungan pekerjaan yang berbeda dibandingkan pekerjaan formal.
Tidak semua pekerja informal berada dalam kondisi buruk. Pengusaha mandiri maupun pelaku usaha juga masuk dalam kategori tertentu di sektor informal.
Namun besarnya proporsi tersebut menunjukkan tantangan pemerintah bukan hanya membuka lapangan kerja, melainkan memperbesar kesempatan memperoleh pekerjaan dengan produktivitas dan perlindungan yang lebih baik.
Pertanian Masih Jadi Penyerap Tenaga Kerja Terbesar
Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan tetap menjadi lapangan usaha dengan jumlah pekerja terbesar.
Pada Mei 2026, sekitar 42,60 juta orang bekerja di sektor tersebut atau setara 28,75 persen dari seluruh penduduk bekerja.
Di belakang pertanian terdapat perdagangan besar dan eceran yang menyerap sekitar 17,80 persen pekerja, disusul industri pengolahan sekitar 13,53 persen berdasarkan rincian data Sakernas Mei 2026.
Struktur tersebut menunjukkan sektor tradisional dan perdagangan masih memegang peranan besar dalam menyediakan lapangan kerja di Indonesia.
Anak Muda Justru Punya Tingkat Pengangguran 17,37 Persen
Meski TPT nasional hanya 4,65 persen, kondisinya sangat berbeda ketika dilihat berdasarkan umur.
BPS mencatat kelompok usia 15–24 tahun memiliki TPT sebesar 17,37 persen pada Mei 2026. Ini merupakan tingkat pengangguran tertinggi dibandingkan kelompok umur lainnya.
Artinya, secara proporsional kelompok muda menghadapi kesulitan mendapatkan pekerjaan jauh lebih besar daripada rata-rata nasional.
Angka tersebut juga meningkat dibandingkan Februari 2026, ketika TPT usia 15–24 tahun tercatat 16,36 persen.
Perkembangan ini menjadi salah satu catatan paling penting dari data ketenagakerjaan terbaru.
Ketika pengangguran nasional turun, pengangguran kaum muda justru masih menjadi tantangan besar.
Mengapa Pengangguran Anak Muda Tinggi?
Kelompok usia 15–24 tahun banyak terdiri atas orang yang baru memasuki pasar kerja.
Sebagian merupakan lulusan SMA, SMK, diploma maupun perguruan tinggi yang baru mulai mencari pekerjaan.
Mereka harus bersaing dengan pencari kerja yang telah memiliki pengalaman, sementara kebutuhan perusahaan tidak selalu sama dengan kompetensi lulusan yang tersedia.
TPT usia muda sebesar 17,37 persen menunjukkan transisi dari pendidikan menuju dunia kerja masih menjadi salah satu titik kritis pasar tenaga kerja Indonesia.
Karena itu, program pelatihan, magang, pendidikan vokasi dan pencocokan antara keterampilan pencari kerja dengan kebutuhan perusahaan menjadi semakin penting.
Lulusan SMK Punya TPT Tertinggi
Persoalan lain muncul ketika data dibedah berdasarkan tingkat pendidikan.
Pada Mei 2026, lulusan SMK mempunyai TPT tertinggi sebesar 7,68 persen.
Angkanya sebenarnya sedikit membaik dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 7,74 persen.
Namun posisi lulusan SMK tetap menjadi yang tertinggi dibandingkan jenjang pendidikan lainnya.
Kondisi ini menjadi paradoks tersendiri mengingat pendidikan kejuruan dirancang agar lulusannya lebih siap memasuki dunia kerja.
Lulusan SMA 6,17 Persen
Setelah SMK, TPT tertinggi berikutnya terdapat pada lulusan SMA sebesar 6,17 persen.
Selanjutnya lulusan Diploma IV/S1/S2/S3 mempunyai TPT sekitar 6,09 persen.
Adapun TPT berdasarkan pendidikan lainnya adalah:
SMK: 7,68 persen
SMA: 6,17 persen
Diploma IV/S1/S2/S3: 6,09 persen
Diploma I/II/III: 4,75 persen
SMP: 4,16 persen
SD ke bawah: 2,31 persen.
Data ini menunjukkan pendidikan lebih tinggi tidak secara otomatis membuat seseorang terbebas dari risiko menganggur.
Kenapa Lulusan SD Justru Punya TPT Rendah?
Sekilas, TPT lulusan SD ke bawah sebesar 2,31 persen terlihat lebih baik dibandingkan lulusan sekolah menengah maupun perguruan tinggi.
Namun angka tersebut tidak berarti lulusan pendidikan dasar memiliki kondisi pekerjaan yang lebih baik.
TPT hanya mengukur proporsi pengangguran terhadap angkatan kerja dalam kelompok tersebut.
Kelompok pendidikan rendah dapat lebih cepat menerima berbagai jenis pekerjaan, termasuk pekerjaan informal dan pekerjaan dengan produktivitas atau pendapatan yang relatif rendah.
Sementara lulusan pendidikan menengah dan tinggi cenderung mencari pekerjaan yang sesuai dengan keterampilan, pendidikan, lokasi maupun harapan pendapatan mereka.
Karena itu, TPT perlu dibaca bersama kualitas dan karakter pekerjaan yang diperoleh.
Pengangguran di Perkotaan Lebih Tinggi
Perbedaan juga terlihat berdasarkan tempat tinggal.
Pada Mei 2026, TPT wilayah perkotaan tercatat sekitar 5,54 persen, lebih tinggi dibandingkan kawasan perdesaan.
Data yang disampaikan dalam paparan BPS menunjukkan TPT perdesaan sekitar 3,15 persen.
Salah satu faktor yang membedakan struktur pasar kerja kota dan desa adalah jenis lapangan pekerjaan.
Wilayah perdesaan mempunyai sektor pertanian dan pekerjaan informal yang besar, sedangkan di perkotaan pencari kerja lebih banyak bersaing mendapatkan pekerjaan formal di sektor jasa, perdagangan, manufaktur dan perkantoran.
Pengangguran Laki-laki Lebih Tinggi daripada Perempuan
Berdasarkan jenis kelamin, BPS mencatat TPT laki-laki pada Mei 2026 sebesar 4,85 persen.
Sementara TPT perempuan berada di level 4,32 persen.
Namun membaca angka ini juga harus mempertimbangkan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja atau TPAK.
TPAK laki-laki tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan perempuan.
Data BPS menunjukkan TPAK laki-laki naik menjadi sekitar 85,14 persen, sementara perempuan berada di sekitar 55,84 persen pada Mei 2026.
Artinya, lebih sedikit perempuan usia kerja yang masuk dalam kategori aktif di pasar tenaga kerja dibandingkan laki-laki.
TPAK Nasional Naik Tipis
Secara keseluruhan, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Indonesia mencapai 70,57 persen pada Mei 2026.
Angkanya naik sangat tipis, yakni 0,01 persen poin dari 70,56 persen pada Februari.
TPAK menunjukkan seberapa besar proporsi penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi, baik sudah bekerja maupun sedang mencari pekerjaan.
Kenaikan TPAK bersamaan dengan pertambahan jumlah penduduk bekerja menjadi salah satu indikator bahwa pasar kerja masih mampu menyerap sebagian tambahan angkatan kerja.
Hampir 11 Juta Orang Masih Setengah Menganggur
Turunnya pengangguran terbuka juga belum berarti seluruh orang yang bekerja telah mendapatkan jam kerja sesuai harapan.
BPS mencatat sekitar 10,79 juta orang atau 7,28 persen penduduk bekerja masuk dalam kategori setengah penganggur pada Mei 2026.
Kelompok ini sudah mempunyai pekerjaan, tetapi jam kerjanya masih di bawah jam kerja normal dan masih berupaya atau bersedia memperoleh tambahan pekerjaan.
Selain itu, terdapat sekitar 38,42 juta pekerja paruh waktu, setara 25,93 persen penduduk bekerja.
Sementara pekerja penuh waktu mencapai sekitar 98,98 juta orang atau 66,80 persen.
Data tersebut memperlihatkan mengukur kondisi pasar kerja tidak cukup hanya menggunakan angka pengangguran.
Upah Buruh Naik Jadi Rp3,39 Juta
BPS juga melaporkan rata-rata upah buruh pada Mei 2026 sebesar Rp3,39 juta per bulan.
Angka tersebut meningkat dibandingkan Februari 2026 yang tercatat sekitar Rp3,29 juta.
Namun nilai rata-rata nasional tidak menggambarkan besaran pendapatan seluruh pekerja.
Upah berbeda berdasarkan wilayah, sektor pekerjaan, pendidikan, jenis pekerjaan, pengalaman, serta karakter perusahaan tempat seseorang bekerja.
Lowongan Kerja Tetap Tersedia, Persaingan Tinggi
Data Pusat Pasar Kerja Kementerian Ketenagakerjaan memberikan gambaran lain mengenai aktivitas pencarian kerja.
Pasker mencatat hingga Juli 2026, sekitar 28.331 perusahaan telah memposting lowongan melalui KarirHub dan JOSS sepanjang Januari–Juli 2026. Terdapat 61.496 lowongan dengan kebutuhan tenaga kerja sekitar 261.538 orang.
Pada saat yang sama, jumlah lamaran yang diajukan melalui KarirHub mencapai lebih dari 2 juta lamaran sepanjang Januari–Juli 2026.
Angka tersebut bukan representasi seluruh pasar kerja Indonesia karena hanya berasal dari platform tertentu milik Kemnaker, tetapi dapat menggambarkan besarnya aktivitas pencari kerja.
Per 2 Agustus 2026, KarirHub juga mencatat sekitar 701 ribu pencari kerja aktif.
Turunnya Pengangguran Belum Menyelesaikan Persoalan Kualitas Kerja
Data Mei 2026 membawa dua pesan berbeda.
Dari sisi kuantitas, pasar kerja Indonesia membaik.
Jumlah penduduk bekerja bertambah 522 ribu dibandingkan Februari, sementara TPT turun menjadi 4,65 persen.
Pekerjaan formal juga bertambah menjadi 60,31 juta orang.
Namun di sisi lain, 87,88 juta pekerja masih berada di sektor informal, pengangguran usia muda mencapai 17,37 persen, dan lulusan SMK mempunyai TPT 7,68 persen.
Artinya, pekerjaan rumah berikutnya tidak sekadar menurunkan angka pengangguran menjadi semakin kecil.
Yang menjadi tantangan adalah menciptakan lebih banyak pekerjaan yang produktif, stabil, sesuai kompetensi dan memberikan pendapatan yang layak.
Pengangguran Usia Muda Jadi Alarm
Angka 17,37 persen untuk kelompok 15–24 tahun menjadi salah satu bagian data yang paling perlu mendapat perhatian.
Besarnya angka tersebut berarti masalah pengangguran terkonsentrasi secara tidak proporsional pada generasi yang baru memasuki dunia kerja.
Jika transisi dari sekolah atau perguruan tinggi menuju pekerjaan terlalu panjang, dampaknya tidak hanya dirasakan individu.
Perusahaan juga kehilangan potensi tenaga muda, sementara keterampilan lulusan dapat semakin tidak relevan jika terlalu lama tidak digunakan.
Karena itu, hubungan antara pendidikan dan industri menjadi isu strategis.
SMK Kembali Dihadapkan pada Masalah Link and Match
Posisi lulusan SMK sebagai kelompok dengan TPT tertinggi kembali menghidupkan pembahasan mengenai link and match pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri.
Secara konsep, siswa SMK memperoleh keterampilan teknis yang lebih spesifik dibandingkan pendidikan umum.
Namun tingginya TPT menunjukkan kompetensi yang tersedia belum selalu bertemu dengan lowongan yang tersedia pada lokasi dan waktu yang sama.
Selain kualitas pendidikan, persoalan dapat mencakup pertumbuhan industri di suatu daerah, kebutuhan pengalaman kerja, perkembangan teknologi hingga perubahan jenis kompetensi yang dibutuhkan perusahaan.
Data Mei menunjukkan TPT SMK turun tipis dari 7,74 menjadi 7,68 persen, tetapi tetap tertinggi di antara seluruh jenjang pendidikan.
Data Pengangguran Terbaru Indonesia Mei 2026
Berdasarkan data terbaru BPS yang dirilis 5 Agustus 2026, berikut gambaran ringkas ketenagakerjaan nasional:
Angkatan kerja: 155,41 juta orang
Penduduk bekerja: 148,19 juta orang
Pengangguran: sekitar 7,22 juta orang
Tingkat Pengangguran Terbuka: 4,65 persen
TPAK: 70,57 persen
Pekerja formal: 60,31 juta orang
Pekerja informal: 87,88 juta orang
Rata-rata upah buruh: Rp3,39 juta
TPT usia 15–24 tahun: 17,37 persen
TPT lulusan SMK: 7,68 persen.
Pengangguran Turun, Tantangan Belum Selesai
Secara umum, laporan ketenagakerjaan terbaru memberi sinyal positif.
Jumlah pekerja Indonesia terus bertambah dan angka pengangguran nasional kembali turun menjadi 4,65 persen atau sekitar 7,22 juta orang.
Tetapi angka nasional tersebut menyembunyikan beberapa tantangan besar.
Anak muda menghadapi TPT hampir empat kali lipat rata-rata nasional. Lulusan SMK masih menjadi kelompok pendidikan dengan tingkat pengangguran tertinggi. Mayoritas penduduk bekerja juga masih berada dalam kegiatan informal.
Karena itu, perkembangan pasar kerja Indonesia sepanjang sisa 2026 akan menarik untuk diperhatikan.
Pertanyaannya bukan sekadar apakah angka pengangguran kembali turun.
Yang jauh lebih penting adalah:
apakah pertumbuhan ekonomi mampu menghasilkan lebih banyak pekerjaan formal dan berkualitas, sekaligus membuka jalan lebih cepat bagi jutaan anak muda yang baru memasuki dunia kerja.
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest












