Novel : Room for Two Bab 28: Cuma Cemburu

- Penulis

Selasa, 19 November 2024 - 07:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Room for Two Bab 28 Karya Bumban Dafnah

Room for Two Bab 28 Karya Bumban Dafnah

Novel : Room for Two Bab 28: Cuma Cemburu

Room for Two Bab 28 Karya Bumban Dafnah
Room for Two Bab 28 Karya Bumban Dafnah

Karena pesawat yang kami tumpangi delay, kedatangan kami di Balikpapan pun mengalami keterlambatan. Saat itu waktu di jam tanganku menunjukkan pukul 20.47 WIB, atau pukul 21.47 WITA. Demi menghemat tenaga, Reivan memutuskan untuk check-in ke hotel terlebih dahulu alih-alih langsung mendatangi rumah Alston.

Reivan sempat memesan dua kamar, masing-masing satu untuknya dan satu untukku. Namun, aku memintanya membatalkan pesanan kedua agar kami bisa tidur bersama-sama seperti biasa. Tidak perlu banyak perdebatan, Reivan langsung menyetujui permintaankudengan penyesuaian tentu saja. Penyesuaian yang kumaksudkan terletak pada jumlah kasurnyaReivan memilih twin bed, bukannya single. Namun, rupanya ia tidak bertanya kepada resepsionis apakah kamar itu cocok untuk pasangan suami istri yang tidak benar-benar menjadi suami istri ataukah tidak.

Begitu tiba di kamar, aku dibuat kaget oleh kamar mandi yang menerawang. Dinding yang membatasi tempat tidur dan kamar mandi serta toilet dibuat tanggungsetengah ke bawah dibatasi tembok berkertas dinding putih gading sedangkan setengah ke atas diganti dengan kaca buram. Meski buram, tetapi siapa pun tetap bisa melihat bayangan orang yang sedang beraktivitas di sana. Jelas itu bukan hal yang benar mengingat aku dan Reivan belum pernah memandangi kondisi tubuh masing-masing tanpa busana.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Maka kuputuskan untuk langsung berbaring tanpa membersihkan tubuh terlebih dahulu. Kupunggungi dinding kamar mandi saat Reivan sedang berada di dalam sana. Besok pagi, pagi-pagi sekali, sangat pagi kurasa, aku akan mandi lebih dulu agar Reivan tidak sempat melihatku.

Untunglah semuanya berjalan sesuai rencana. Satu jam sebelum Reivan bangun, aku sudah berpakaian dan berdandan. Nahas, tidak lama setelahnya aku malah mual-mual sehingga menarik perhatian Reivan, bahkan sebelum alarm di ponselnya berbunyi.

Saat aku berlutut di toilet sambil memuntahkan ludah-ludah asin yang tak kunjung berhenti, Reivan tiba-tiba datang dan membelai-belai punggungku. Ia membantu memegangi rambutku lalu bertanya dengan suara serak, Kamu udah mandi?

Aku mengangguk tanpa melihat wajahnya.

Keramas pagi-pagi? Biar apa?

Biar enggak gerah. Aku mau ke kamar.

Reivan membantuku berdiri kemudian membimbingku ke kasur. Dengan sigap ia menyediakan segelas air putih untuk kuminum. 

Baru jam 4, Ishana, kata Reivan dengan mata menyipit, mungkin karena masih digantungi rasa kantuk.. Segitu semangatnya kamu mau ketemu Alston sampai harus mandi pagi-pagi banget. Biasanya juga kamu mandi lebih siang dari saya.

Aku terdiam, sama sekali tak menyangka Reivan akan memiliki pemikiran semacam itu. Bisa-bisanya Reivan berpikir demikian. Aku hendak meluruskan, tetapi sebelum sempat aku bicara, rasa mual yang menyebalkan itu kembali mendera. 

Ada total tiga sesi keluar masuk kamar mandi yang kujalani. Ketika episode mual muntah itu berakhir, otot-otot di perutku rasanya nyeri sekali hingga bahkan untuk batuk pun aku harus menahan diri.

Kuat enggak buat nyamperin Alston? tanya Reivan sembari membantu mengompres perutku yang nyeri. Pasti kuat, dong. Enggak pun pasti akan dikuat-kuatin, kan?

Kuberikan lirikan maut kepada Reivan. Biasanya lirikan itu berhasil membungkam Alston saat ia tahu bahwa dirinya telah bicara keterlaluan, tetapi tidak demikian dengan Reivan. Ia terkesan tidak menangkap alarm kekesalanku.

Mau sarapan pagi di resto atau di kamar? Atau, seperti biasa, kamu belum mau makan?

Belum mau makan

Atau mau nunggu sarapan bareng Alston?

Reivan terus memancing amarahku, tetapi aku memutuskan bertahan dan tetap mengabaikannya. Sejak keberangkatan ke Balikpapan kemarin, meski memperhatikan dan menjagaku dengan sepenuh hati, tetapi Reivan terus memberikan sindiran-sindiran halus yang menyakiti perasaanku. Entah mengapa, padahal ide mendatangi Alston ke Balikpapan pun datang dari dirinya, bukan dariku.

Ketika Reivan akhirnya pergi mandi, aku bergegas mengganti pakaian. Mempertimbangkan suhu di luar yang cukup tinggi, kuputuskan untuk mengenakan midi dress berlengan panjang. Aku membutuhkan ruang yang leluasa untuk bergerak, sementara celana jeans yang berbahan ketat hanya akan membuatku tidak nyaman saat berkeringat.

Wah, beda, ya, kalau mau ketemu calon suami dan calon mertua. Pakai bajunya harus rapi dan cantik supaya enggak malu-maluin

Cukup, Reivan! Aku muak! Aku benar-benar muak dengan semua sindiran yang ia lontarkan! Kenapa, sih, kamu nyindirin aku terus?

Kapan saya nyindirin kamu?

Tadi, barusan, sekarang! Dari kemarin! Memangnya kamu pikir aku enggak sadar?

Memangnya saya bilang apa? Reivan berjalan santai mendekati ranjangku sambil mengeringkan rambutnya menggunakan sehelai handuk. Setelah berada cukup dekat denganku, ia mendudukkan diri di sebelahku lalu kembali bertanya, Kata-kata saya yang mana yang bikin kamu kesindir?

Semuanya! Tentang kita pasangan asal-asalan, tentang aku yang mandi pagi karena semangat mau ketemu Alston, tetang sarapan, dan barusan, tentang baju!

Kenapa harus kesindir? Itu semua fakta, kan?

Aku enggak suka kamu ngomong gitu!

Terus saya harus gimana? Saya harus diam, enggak boleh komentar? Semua tentang kamu saya harus tutup mulut?

Ya pokoknya jangan bahas apa-apa lagi soal Alston! Memangnya kenapa kalau aku pakai gaun hari ini? Di luar itu panas, aku pengin pakai baju yang longgar dan cuma baju ini yang aku bawa! Terus kenapa kalau aku belum mau sarapan? Biasanya juga aku skip sarapan, kan, karena perutku sakit, Reivan, dan aku mual kalau harus dipaksain makan! Lalu kenapa juga kalau aku mandi pagi hari ini? Aku cuma risih lihat kamar mandinya yang menerawang, aku enggak mau kamu lihat aku pas lagi mandi.

Jadi saya enggak boleh lihat kamu pas kamu lagi mandi tapi Alston boleh lihat kamu telanjang?

Sebuah tamparan yang tidak kurencanakan mendarat telak di pipi kiri Reivan. Kata-kata itu terlalu menyakitkan untuk kuterima, bahkan meski kalimat itu mengandung kebenaran sekali pun.

Aku udah minta maaf. Berkali-kali, berkali-kali ¦. Aku memang salah, Reivan, tapi enggak adil kalau kamu terus-terusan kayak gini. Aku udah mau pergi dari rumah kamu, aku udah pasrah seandainya kamu mau nyerein aku sekarang juga. Aku udah enggak mau ngelibatin kamu dalam masalah ini, tapi kamu yang ngajak aku ke sini! Kamu yang nyuruh aku untuk cari alamatnya! Ini semua rencana kamu, bukan aku! Satu-satunya rencanaku adalah ngegugurin kandungan ini, tapi itu juga kamu bilang enggak boleh, jadi sebetulnya kamu itu maunya aku gimana, sih?!

Belum pernah kurasakan amarah sebesar hari itu. Aku begitu murka dengan semua hal buruk yang terjadi kepadaku. Aku adalah bom yang siap meledak, dan Reivan, dengan ceroboh, menekan tombol peledaknya. 

Aku enggak minta kamu untuk nemenin aku nyari Alston ke sini, aku enggak pernah minta kamu bawa aku ke sini! Yang aku mau itu hidupku kembali seperti semula, sebelum ada bayi ini! Sebelum aku selalu mual muntah setiap pagi! Aku muak! Aku capek! Lebih baik aku mati aja kalau gini! Aku muak sama diriku sendiri! Aku muak sama hidupku! Aku muak! Semua gara-gara bayi sialan ini!

Kupukuli perutku. Kusalurkan rasa benci yang begitu dalam dalam setiap ayunan tanganku. Aku ingin bayi itu merasakannya, aku tidak menginginkannya, ayahnya tidak menginginkannya, tidak ada yang menginginkannya. Lebih baik dia mati! Dia telah memilih rahim yang salah!

Ishana!

Reivan merangkul sekaligus menjepit kedua lenganku hingga tidak bisa memukul lagi. Aku meronta sekuat tenaga, enggan mengalah pada keadaan yang menyudutkanku.

Lepas! Biar aku mati! Biar aku mati sana anak ini.

Enggak-enggak. Saya minta maaf. Please. Maaf, setop!

Rasa lelah yang menyerang membuatku terpaksa berhenti meronta. Aku kehilangan tenaga. Tanganku tak mampu bergerak, bahkan kakiku tak sanggup lagi berdiri tegak. Yang kurasakan hanyalah kesakitan dan keputusasaan. Aku tak tahu apa lagi yang bisa kulakukan. Aku tak mau menanggung rasa malu itu sendirian, tapi nyatanya saat itu pun aku tak berkawan. Semua orang memusuhiku. Tidak ada yang mengerti perasaanku apalagi mau membantuku.

Maaf, maaf saya keterlaluan.

Aku tidak peduli lagi dengan kata-kata Reivan, dia memang selalu begitu. Meminta maaf tapi kemudian melakukannya lagi. Dia selalu menyakitiku lalu membuatku tidak tega untuk tidak memaafkannya.

Aku mau pulang. Bawa aku pulang. Sekarang. Aku mau pulang

Reivan membaringkanku di kasur lalu membelai-belai tanganku. Aku memalingkan tatapan dari wajahnya dan menepis tangannya.

Tapi kita udah di sini. Kamu harus ketemu Alston dulu. Kita harus minta pertanggungjawabannya

Aku menggeleng. Buat apa? Aku capek. Saat mengatakan itu air mataku meluber.

Reivan menghela napas. Maaf. Gara-gara saya. Maaf ¦ saya cuma cemburu. []

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Foto:Kantor Dinas Kesehatan Kota Parepare. BPK dalam LHP atas LKPD Pemerintah Kota Parepare Tahun Anggaran 2025 menyoroti pembayaran tagihan listrik

Viral

BPK Ungkap Temuan Perjadin Dinkes Parepare, Ada Apa?

Jumat, 7 Agu 2026 - 15:20 WIB