Keadaan itu rasanya lamaaa ¦ sekali. Langit di atas lautan seperti kain velvet hitam yang dihamparkan. Bulan separuh menggantung, tampak pucat diujung gumpalan awan yang terus bergerak. Yakin sih, mbulane bakal ngumpet! Dan terbukti, umpetan tenan. Yayo nyengir menyebalkan, yang lain menggerutu.
Sampai suatu saat, Yayo nggak tahan ngantuknya. Yayo berhenti di bawah pohon sengon yang rindang. Udaranya sejuk sekali. Angin semilir dengan gas CO2 dari dedaunan makin memberatkan mata. Deburan ombak yang tadi menyeramkan, seperti lagu nina bobo yang menghanyutkan. Kami berdua pun terlelap.
Semua yang mendengarkan, merasakan kelelahan yang menimpa Yayo. Mereka terbawa arus oleh ceritanya, sampai melupakan siapa teman seperjalanannya. Semua menghela napas panjang dan mengeluarkannya perlahan untuk mengurai ketegangan. Semua ingin mengetahui bagaimana akhirnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kami terbangun oleh ketukan di kaca mobil. Di luar ada beberapa orang berdiri. Yayo bangun lalu membuka kaca. Udara segar mampu mengembalikan separuh nyawaku. ˜Assalamualaikum.’ Yayo menyapa, dijawab mereka berbarengan, ˜Waalaikumsalam.™ Normal, kan? tanya Yayo, dijawab dengan anggukan pelan oleh semua, yang masih dalam ketegangan.
Ternyata, Yayo berhenti di depan sebuah masjid di Pantai Parang Kusumo!
Syukurlah, seru bundanya lega. Wajah-wajah tegang mulai mengendur. Senyum tipis mulai merrkah. Mereka tidak peduli lagi pada pohon sengon besar tempat Yayo berhenti untuk tidur. Yang penting Yayo sudah berada di alam nyata.
Kami salat berjamaah Subuh. Kemudian kami minta izin untuk rebahan sebentar untuk meluruskan tubuh. Mereka mengijinkan. Kami rebahan di teras mesjid. Setelah pegel-pegelnya ilang, kami mampir ke warung terdekat untuk ngopi dan sarapan. Sekitar jam tujuh kami berangkat.
Temenmu turun di Ambal? tanya Pakde.
Iya Pakde. Lucunya, waktu mau turun, orang itu wajahnya ramah sekali. Menyenangkanlah pokoknya. Coba begitu sejak awal bertemu, menyenangkan sekali, kan? Eh dia bilang ˜Hati-hati ya, sekarang pulanglah dan jangan mampir-mampir!™ Begitu pesannya dengan suara halus tapi tegas tak dapat disangkal.
Yayo mengakhiri ceritanya. Semua terkesiap sekaligus merasakan kelegaan mendengar kisahnya. Mereka bersyukur Yayo selamat
Lalu, siapa nama orang itu, nak Yayo? tanya Pak Kardi yang sedari tadi diam saja.
Astagfirullahaladzim, seru Yayo sambil mengeplak keningnya. Yayo nggak nanya, lupa!
Huuuh, mas Yayo! Segitu lama berdua masa nggak nanya? Memangnya diem-dieman?
Iya Rat! Itulah, ada temennya tapi serasa sendirian!
Untung nggak tiba-tiba ngilang di depan mata Mas Yayo, nyeremin, kan?
Kau ini, nggak prihatin sama masmu! sahut Yayo kesal.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Semua saling pandang. Ratih yang duduk di sofa panjang bersama bundanya langsung mengkeret. Sang bunda memeluknya, memberi ketenangan. Rangga segera bangkit dan berlalu menuju ruang tamu.
Eh, Mpek Cong! Selamat siang. Silakan masuk. Rangga menyapa ramah.
Setelah menyilakan duduk, Rangga masuk memberitahu keluarganya. Mereka semua keluar. Rangga memperkenalkan Pakde dan Pak Kardi. Mpek An Cong merasakan energi positif keduanya. Mereka berkumpul di ruang tamu. Pakde membawa gelas dan baskom kecil tempat kerikil dan benda yang terbungkus kain lusuh.
Mungkin Mpek An Cong sudah mendengar. Inilah kiriman mereka tadi pagi, kata Pakde seraya menaruh barang yang dibawanya.
Mpek An Cong langsung bersemedi kedua tangan menangkup di depan dada. Dia melihat berkas sinar merah seperti tali yang terputus, terikat pada keduanya.
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest






