Novel : Petaka Sebuah Janji (27)

- Penulis

Rabu, 13 November 2024 - 09:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Petaka Sebuah Janji (27)

Novel : Petaka Sebuah Janji (27)

Sepulang subuhan, Pakde berdiri di tengah ruangan, Pak Kardi menghadap pintu keluar. Keduanya bersedekap sambil memejamkan mata, dengan khusuk membaca mantra pelindung. Rangga membaca surat-surat pendek dan beristigfar sebanyak-banyaknya dalam hati.

Di kamar belakang, Simbok duduk di sajadah terus membaca ayat kursi tanpa henti. Suaminya, sebagaimana hari-hari biasa, mencuci mobil majikannya, sambil terus berzikir. Sementara Arum bergegas masuk kamar memeluk Ratih yang tampak ketakutan.

Sayang, baca ayat kursi banyak-banyak! Ratih hafal, kan? Ratih hanya mengangguk. Setelah putrinya tenang, Arum mengambil Quran untuk tadarus.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bun, tolong Quran buat Ratih juga. Keduanya khusyu membaca ayat-ayat suci.

Sementara di luar rumah, angin berembus lumayan kencang, kerikil berjatuhan seperti gerimis. Dakim yang sedang membersihkan mobil, berteriak-teriak ketakutan. Dengan wajah pucat pasi terduduk lemas di samping mobil. Pakde berlari menuju teras, Pak Kardi mengikuti lalu menuju samping rumah tempat Dakim berada.

Pak Kardi langsung menyemprot area tempat kerikil itu jatuh sambil berkomat-kamit melafalkan mantra untuk melenyapkan gendam yang dibawa oleh kerikil-kerikil itu. Begitu tersiram air, kerikil-kerikil itu berdesis sambil mengeluarkan asap. Jeritan Dakim yang tanpa sengaja menginjak kerikil saat berdiri sedikit membuyarkan konsentrasi Pakde dan Pak Kardi. Pertahanan keduanya goyah. Telapak kaki Dakim yang melepuh langsung disemprot air dan diludahi pak Kardi.

Di kamarnya, Ratih tidak konsentrasi, selintas rasa kangen pada suaminya menghampiri. Lehernya terasa kering. Dia menggapai gelas minum di nakas. Belum lagi gelas menempel bibirnya, pecah berkeping-keping, sebuah kerikil jatuh ke lantai, Ratih menjerit kaget, bajunya basah.

Astagfirullah, Ratih! Ada apa? tanya bundanya sambil bangkit dari sajadah.

Nggak tau, Bunda, jawabnya sambil mencari kerikil yang jatuh di lantai.

Ratih menemukannya menggelinding hingga ke kolong bangku riasnya. Saat mau mengambil, Arum berteriak menghentikannya.

Jangan dipegang, bilang Pakde dulu! Arum segera membuka pintu kamar, lalu berteriak melapor, Pakde, di sini ada kerikil, gelas minum Ratih pecah!

Pakde bergegas menuju kamar Ratih. Mengamati kerikil, sambil membaca ayat-ayat suci. Mengambil tisu untuk alas memegang kerikil. Tisu mengepulkan asap, Pakde menjatuhkan kerikil, merasa jarinya kepanasan seperti tersentuh api.

Astagfirullahaladzim¦, seru Pakde, dia ingat telapak kaki Dakim yang melepuh setelah menginjak kerikil.

Ratih melebarkan mata ketakutan, begitu juga bundanya. Keduanya menutup mulut mereka yang ternganga. Mereka sama-sama membayangkan jika Ratih ceroboh mengambil kerikil begitu saja, tangannya pasti terbakar.

Jeng Rum, tolong ambilkan air, cepat!

Arum segera masuk kamar mandi, lalu mengisi gelas di wastafel setengahnya, kemudian diberikan kepada iparnya. Pakde menjepit kerikil dengan pinset lalu merendamnya di air gelas. Terdengar bunyi seperti bara api yang terkena air, mengerikan sekali. Tiba-tiba terdengar suara kaca pecah. Pletok, prang dari arah ruang tamu.

Jeng Rum, tolong ambil air dalam wadah yang lebih besar. Sekalian jepitan kue.

Astagfirullah, teriak Rangga di ruang tamu. Sesuatu meluncur dari kaca jendela yang pecah, jatuh di kaki kursi sofa, nyaris menyentuh kakinya. Rangga gemetar, wajahnya pucat, keringat dingin mengembun.

Pakde segera berlari ke ruang depan sambil membawa gelas berisi kerikil. Bibirnya tak henti-hentinya berkomat kamit. Arum datang dari dapur dengan baskom kecil berisi air putih dan jepitan kue. Rangga masih terpaku dengan wajah pias. Dia melihat ke arah sesuatu dengan bentuk aneh, yang masuk dari kaca jendela yang pecah. Sementara Ratih di kamarnya terduduk lemas di pembaringan. Air matanya meleleh di pipi. Dia menangis lirih.

Pakde menjepit benda yang masuk dari kaca pecah, lalu merendamnya di air baskom. Desis bara api terkena air disertai asap mengepul, seperti kerikil di halaman dan di kamar Ratih. Serangan iblis yang tidak main-main.

Pak De lalu duduk bersila dihadapan baskom dan gelas. Bibirnya tak henti berkomat kamit, jarinya menghitung ruas-ruasnya dari kanan ke kiri beberapa kali. Kemudian minta tutup gelas dan baskom. Pakde memejamkan mata, melafalkan mantra-mantra lalu meniup di atas kedua wadah, kemudian wadah ditutup. Kedua wadah ditaruh di pojok ruangan. Rangga menelepon seorang anak buahnya untuk memasang kaca pengganti yang pecah. Benar-benar pagi yang sangat melelahkan dan menegangkan.

Ternyata, kegagalan serangan yang terjadi semalam, menyinggung perasaan si dukun sakti. Dia langsung mengirim serangan berikutnya di pagi harinya. Serangan batu kerikil dan sesuatu yang memecahkan kaca jendela. Kedatangan Pakde Narto, sedikit banyak membuat keluarga Rangga merasa tenang. Mereka hanya bisa berzikir dan tadarus Quran serta istigfar. Tanpa bantuan Pakde mereka tidak mampu melawan serangan yang tidak kasat mata.

Sementara Mpek An Cong yang sudah tiba di kediaman Sumbogo, begitu masuk langsung duduk di lantai tepat di depan pintu. Dengan tenang dan penuh konsentrasi, duduk menghadap arah tempat tinggal Ratih, dia meningkatkan ketajaman ilmunya menghadapi pembalasan Erlika pada kekalahan sebelumnya.

Selesai mesu budi, dia menyuruh ayah Toni untuk meminta Ratih kembali ke rumahnya, dia juga memberitahu kalau rumah keluarga Ratih mendapat serangan. Pagar gaib yang dipasangnya robek. Jika Ratih dan Toni tinggal bersama, serangan akan terfokus di kediaman Sumbogo. Erlika harus dihadapi bersama-sama.

Barman! panggilnya.

Barman yang sedang bersiap-siap mau ke kantor keluar kamar, menemui Mpek An Cong.

Ya, Mpek.

Kamu mau kemana? Keadaan tambah gawat, nyawa mantumu taruhannya. Masih ngurusi perusahaan. Biar si Daniel, tarik istrinya kalau perlu!

Tapi, Meimei kan juga sibuk, menangani hotel Semarang!

Di sana dia juga nggak sendiri!

Baiklah, Mpek. Kalau begitu kita sarapan dulu. Badan juga perlu makan. Energi Mpek sudah terkuras. Mpek harus sehat dan kuat.

Ngerti Bar, aku paham! ucapnya sambil berdiri, dilanjutkan meregangkan otot, dan berlalu menuju ruang makan, Barman mengikutinya. Sementara Ninit ke kamar Toni, mengajaknya sarapan.

Sambil makan, Mpek An Cong mengutarakan kalau keadaan keluarga Ratih dalam bahaya terutama Ratih. Jlep, sesuatu yang tajam menghujam ulu hati Toni. Sejak dia disandera oleh kekasih pujaan hatinya, mata hati Toni mulai terbuka. Dia mengakui semua kata-kata Papahnya benar. Erlika yang cantik jelita, manis tutur katanya, sangat pandai membuat pasangannya bahagia, ternyata hitam pekat hatinya. Dia ambisius dan pendendam.

Sambil mengembuskan napas dalam keluhan, Toni bergumam dalam hati, apa lagi yang dilakukannya sekarang? 

Desahan Toni terdengar, ketiganya menoleh ke arahnya. Ada apa Ton? tanya mereka hampir bersamaan. Toni mengembuskan napas kuat-kuat.

Aku ¦ aku menyesal. Sekarang Toni mohon Mpek melindungi Ratih! katanya lirih. Air mata penyesalan berlinangan.

Ton, Mpek sedang membicarakan masalah ini! Nanti, Papah bicarakan dengan ayah Rangga, kata papahnya menenangkan.

Semua terdiam, Mpek menghabiskan sarapannya dengan sangat terburu-buru. Dia ingin melihat apa yang terjadi di kediaman istri Toni. Setelah sarapan, makan buah dan minum susu, energi Mpek An Cong seakan bertambah. Dia istirahat sebentar untuk memberi kesempatan perutnya mencerna semua makanan yang masuk dengan sempurna.

Setelah memusatkan semua akal budi ke arah rumah tinggal keluarga Danusaputra, Mpek An Cong merasakan energi positif yang cukup besar di sana. Dia harus mengetahui siapa pemilik energi itu, dan minta Barman menanyakan kepada Ayah Ratih.

Barman segera menghubungi ayah Ratih, ditunggu beberapa saat tidak diangkat. Sementara Rangga, tanpa melihat siapa yang menghubunginya langsung menolak lalu mematikan ponselnya. Barman mengklik sambungan cepat nomor Rangga dijawab mesin sedang berada diluar jangkauan.

Kok ndak diangkat ya, sekarang malah diluar jangkauan! Ada apa? gumamnya khawatir.

Mpek, ndak diangkat. Sepertinya malah di-non aktifkan HP-nya, lapor Barman.

Siangan aja nanti. Sepertinya mereka sedang sibuk memagari rumah. Biasanya sih, serangan cuma malam hari, jawab Mpek An Cong.

Mereka tidak mengetahui adanya serangan-serangan yang menggempur rumah besannya. Sekitar pukul 10.00, Barman menelepon lagi. Ponsel Rangga sudah aktif. Rangga minta maaf ponselnya dimatikan agar tidak mengganggu konsentrasi.

Rangga menceritakan kalau tepat tengah malam tadi ada serangan di kamar Ratih. Beruntung semua selamat. Rangga juga menceritakan, barusan ada serangan hujan batu kerikil, dan gelas yang dipegang Ratih pecah terkena kerikil. Kerikil-kerikil itu entah datang dari mana. Lalu disusul lemparan benda aneh yang memecahkan kaca jendela di ruang tamu, padahal jalanan sedang sepi. Barman benar-benar syok. Sedikit banyak dia punya andil dalam kesengsaraan Ratih yang telah dianggap seperti putrinya sendiri.

Setelah mengembuskan napas berat, Barman memberitahu Rangga, jika target utama kejahatan Erlika kecuali Toni memang Ratih. Mpek An Cong meminta agar Ratih kembali ke rumahnya, agar Mpek bisa fokus dalam memagari keduanya. Mpek Cong juga tanya, siapa pemilik energi positif yang dirasakan ada di rumah njenengan.

Oh, mungkin itu energi Kangmas Narto, ipar istri saya, jawab Rangga.

Kemudian Barman menyampaikan keinginan Mpek An Cong untuk bekerja sama dengan pemilik energi positif. Mpek An Cong ingin mereka bisa bersama-sama menghadapi dukun sakti suruhan Erlika yang mempunyai ilmu lebih tinggi dari yang sebelumnya.

Terus terang, Mas Rangga, gadis tengik itu sekarang memakai jasa dukun yang lebih sakti. Itulah akar masalah sekarang. Mpek ingin menghancurkannya. Namun, dia butuh bantuan. Jika ada seseorang yang masih ada kaitan keluarga, itu akan lebih baik.

Rangga terdiam, tidak segera mengiyakan. Dia masih trauma melihat penderitaan putrinya di rumah mertua. Dia cukup syok ketika istrinya melihat bilur-bilur biru bekas pukulan benda lentur di tubuh Ratih. Arum baru menceritakan saat sampai di rumah. Rangga hampir lepas kendali.

Ini menyangkut Ratih. Aku tidak bisa menjawab sekarang. Kami diskusikan terlebih dahulu. Mas Barman, aku tidak mau putriku terkorban, hanya untuk bisa masuk dalam keluarga Sumbogo! katanya lembut namun tegas. Sambungan terputus. Barman termangu, hatinya terluka, menatap nanar ponselnya tanpa berkedip.

Ratih terpaksa menikah karena mbak Ninit masuk ICCU. Dia juga terpaksa mau tinggal di sana demi kesehatan mbak Ninit. Lalu apa arti bilur-bilur di tubuh putriku? Itu hasil kerja manusia! Kenapa mereka tidak terbuka? gumam Rangga lirih dalam hati. Dia mengembuskan napas dengan gemas.

Rangga gelisah, Pakde memperhatikannya. Keraguan Rangga terbaca jelas. Dia merasakan sesuatu telah terjadi.

Dimas, maaf. Aku lihat ada kegelisahan yang dimas Rangga rasakan. Kalau boleh tau, ada apa?

Setelah mengembuskan napas keras, untuk mengeluarkan gumpalan yang mengganjal di dadanya. Dilanjutkan memperbaiki duduknya, Rangga berdeham, lalu menyampaikan unek-uneknya.

Kangmas, tadi keluarga Barman meminta Ratih kembali ke sana. Sebenarnya saya keberatan. Saya tidak tega melepasnya ke sana. Terlalu banyak penderitaan yang ditanggungnya. Dan lagi, Ratih ¦ didia mengalami penganiayaan fisik ¦. Rangga menangis tertahan, tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Seperti disengat lebah, Pakde terkejut.

Apa? Katakan yang jelas!

Iya, Kangmas. Arum melihat bekas-bekasnya. Ketika ditanyakan, Ratih hanya menangis.

Siapa pelakunya?

Ratih hanya menangis, dia bungkam ketika ditanya. Padahal dia masih kesakitan, saat bundanya membaluri minyak gosok.

Sebenarnya ada apa dengan keluarga itu? gumam lirih Pakde.

Keduanya terdiam, keadaan sunyi hanya terdengar zikir dan tadarus. Tiba-tiba Rangga berjengit, dia ingat sesuatu.

Kangmas, Arum kemarin bilang, kalau mertua perempuan Ratih, bolak-balik minta maaf saat Ratih kesakitan. Ratih juga melepas pelukan menahan tangis dan kembali tiduran saat mertuanya masuk membawa obat. Arum mencurigainya.

Pakde termangu-mangu. Keprihatinan yang dalam terpantul di wajah yang mulai tampak garis-garis usia mulai dalam. Rangga termenung dalam duka. Tiba-tiba keduanya dikejutkan oleh suara azan masuk waktu zuhur. Keempat laki-laki di rumah itu bergegas menuju masjid.

Selesai salat Zuhur berjamaah, Arum, Ratih dan Simbok berkumpul di dapur. Mereka menyiapkan makan siang. Mereka berbincang sambil makan. Rangga menyampaikan keinginan besan dan Mpek An Cong.

Ratih nggak mau Ayah! tolak Ratih dengan tegas.

Pakde dan Rangga saling menatap. Arum merasa ada sesuatu yang disembunyikan. Aku juga keberatan, bisik Arum ketus dalam hati.

Kenapa Nduk, kamu ndak mau? Itu rumah suamimu, tanya Pakde dengan lembut.

Ratih takut Pakde. Ratih mau di sini saja!

Assalamualaikum. Tiba-tiba terdengar salam dari arah pintu samping.

Waalaikumsalam, jawaban mereka bersamaan, sambil menoleh.

Yayo! Katanya seminggu yang lalu, mau dateng? tanya bundanya. Hayo makan sini. Mbok, minta piring, Yayo dateng!

Setelah menyalami dan mencium tangan semua orang kecuali adiknya, Yayo duduk. Dengan tergopoh Simbok datang membawa perlengkapan makan tambahan.

Den Yayo, datang kados angin! Simbok ndak dengar, lho.

Pakai jurus ¦ menghilang! ¦. kata Yayo sambil kedua tangan melakukan gerakan-geraka lucu membuat semua tertawa. Simbok sehat, kan? lanjutnya. Setelah menjawab pertanyaan momongannya, Simbok kembali ke ruang belakang.

Pakde, tumben dateng? Bunda kok nggak crita? Tau gitu kan, bisa nebeng Pakde, gak usah beli bensin.

Mas Yayo kok gitu? Trus barang-barangnya gimana? sergah Ratih.

Kontraknya masih dua bulan lagi, eman-eman, ta. Klo ke Jogja kan, gak usah tidur di hotel, jawabnya sambil cengengesan.

Otakmu tuh nggak mau rugi, Yok, sahut ayahnya.

Sudah ¦ makan dulu, critanya nanti. Terlalu panjang. Aku laper berat! sahut Yayo.

Mereka meneruskan makan, disambung dengan cerita masalah Ratih. Dan kini, rumah mereka menjadi tidak aman dan nyaman lagi.

Oh iya, masmu Bagas juga mau pulang, Yok. Minggu depan, katanya! ujar bundanya.

Mas Bagas dapet cuti, memang? tanya Yayo.

Mas Bagas pulang! Mau bantuin Ayah, sahut Ratih.

Serius, Ayah! Berarti ¦, kata Yayo ngambang sambil senyum-senyum misterius.

Gak jadi bantuin Ayah? Wis kono sakarepmu! sergah ayahnya ketus.

Ayah! Segitunya. Maksud Yayo, dua bulan ini, sambil ngabisin kontrak kamarnya, Yayo kelarin dulu kerjaan di sana.

Lho, kowe wis kerjo tah, Le? sahut bundanya.

Bun, Yayo kan dua tahun terakhir ini nyambi, lumayan kok gajinya.

Mas Yayo kok, diem-diem aja, ya! Pelit, mosok gaji pertama nggak bagi-bagi!

Bukan gitu ¦ wah ngerti ngene ra sah crito.

Alah dasar pelit! Ayah, lihat ¦ dari dulu mas Yayo pelit kan? Ratih mengadu dengan manja.

Duwitmu nggo opo, Yok? tanya ayahnya.

Pasti buat nlaktir pacarnya, Ayah. Mas Yayo, emang gitu, sambar Ratih.

Wah, kowe dah punya pacar to? tanya bundanya.

Belum Bun! Ratih aja tuh, ngaco!4

Sudah ¦ sudah ¦ kalian ini kalau jauh kangen, kalau dekat persis Tom & Jerry! lerai bundanya. Sekarang jelasin, kenapa pulangnya mundur! lanjutnya.

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Foto:Kantor Dinas Kesehatan Kota Parepare. BPK dalam LHP atas LKPD Pemerintah Kota Parepare Tahun Anggaran 2025 menyoroti pembayaran tagihan listrik

Viral

BPK Ungkap Temuan Perjadin Dinkes Parepare, Ada Apa?

Jumat, 7 Agu 2026 - 15:20 WIB