Bab. 2
Rumah kedua. Ya, aku membeli rumah ini secara diam-diam tanpa sepengetahuan Haura, karena sudah pasti agar pergerakanku dan semua perbuatannku dengan Tiwi tidak diketahui oleh keluargaku dan siapa pun yang mengenalku selain Tiwi, tentunya.
Kompleks perumahan ini masih sunyi. Beberapa rumah terlihat masih tak berpenghuni. Beberapa yang lainnya sudah ada yang menempati, tetapi tidak dalam waktu yang lama. Hampir semua penghuni kompleks ini menjadikan tempat ini sebagai tempat singgah sementara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mereka menjadikan rumah di sini untuk tempat refreshing dari lelahnya bekerja setiap hari. Mereka akan datang saat akhir pekan, atau bahkan hanya saat liburan tiba. Mungkin, bahkan beberapa dari mereka ada yang sama sepertiku, menjadikan tempat ini sebagai tempat pelarian hiruk pikuknya kehidupan kota.
Aku memilih membeli rumah di sini karena tempatnya yang tidak terlalu jauh. Aku hanya membutuhkan kurang lebih 30 menit dari kantorku agar aku bisa mendatangi Tiwi kapan pun saat aku sedang di kantor dan tiba-tiba membutuhkannya, atau merindukannya.
Rumah ini bahkan lebih besar dan mewah dari rumahku bersama Haura dan anak-anak. Rumah masa depanku bersama Tiwi. Aku rela memberikan apa pun untuk membahagiakan Tiwi. Termasuk saat ia memintaku membelikan rumah untuknya. Namun, tak pernah terpikirkan olehku akan adanya masalah baru. Aku sampai lupa bahwa Tiwi juga perempuan dewasa yang sehat, yang bisa hamil dan memiliki anak.
Saat itu aku yang sedang dimabuk asmara dengan Tiwi, tidak pernah terpikirkan apa pun. Yang ada dalam pikiranku saat itu aku selalu bahagia saat bersamanya. Ia bisa memuaskanku terlebih untuk masalah ranjang. Aku akan memberikan apa pun yang dia minta agar dia bisa memberikan apa yang kuinginkan yang tak kudapatkan dari istriku.
“Kamu masih ingat, kan, kita membeli rumah ini untuk apa?” Tiwi memberiku pertanyaan yang tanpa menunggu jawaban dariku, lalu ia berkata, “Untuk membangun masa depan kita bersama, seperti yang kamu katakan saat pertama kali kamu mengajakku ke sini.”
“Tapi, untuk saat ini aku tak mungkin meninggalkan Haura dan anakku, Tiwi.”
Aku masih berdiri di depan wastafel setelah mencuci tangan.
“Apa yang membuatmu jadi ragu untuk meninggalkan mereka?”
Tiwi yang sedang membereskan meja makan menghentikan sejenak kegiatannya. Ia mendekatiku.
Aku tetap diam saat Tiwi mendekat dan melingkarkan tangannya di pinggangku, memelukku dari belakang.
Aku teringat kembali apa yang pernah kusamapaikan padanya dulu.
Ya, alasan lain aku memilih selingkuh dengan Tiwi adalah karena sifat manjanya. Dengan dia aku merasa menjadi laki-laki yang jantan. Sebenarnya aku sangat menyukai tipe perempuan yang lembut dan manja. Saat itulah aku merasa menjadi laki-laki berkharisma.
“Apa kamu sungguh mau meninggalkanku, Irfan? Tegakah kamu membiarkan anak ini lahir tanpa melihat ayahnya?” Tiwi merengek lagi. Mukanya mengiba. Namun, aku masih tetap bergeming.
“Ayolah, ceraikan Haura, tinggalkan dia,” rengeknya.
Aku berbalik badan. Kugenggam dan mengecup tangannya. Kutatap lekat wajahnya, lalu memeluknya.
“Iya, Sayang. Akan kucoba lagi bicara pada Haura,” ucapku untuk menenangkannya.
Kami mengakhiri percakapan di dapur malam itu dengan pelukan hangat. Lalu, kami menuju kamar larut dengan pikiran masing-masing hingga terlelap dalam tidur malam itu.
Sejujurnya aku belum pernah mengutarakan apa pun pada Haura. Rasanya aku tak akan pernah tega untuk menyampaikan padanya. Aku tak memiliki alasan yang kuat untuk mencoba benar-benar meninggalkannya, menceraikannya.
Tidak ada yang berubah dari Haura selama dia menjadi istriku. Dia selalu melaksanakan tugas dan perannya sebagai istri dan ibu yang baik bagi anakku. Bahkan, kini aku sadar telah melakukan hal bodoh dengan menduakannya dengan wanita lain.
Dulu, saat hubunganku dan Tiwi masih sedang masa-masa kasmaran dan dimabuk asmara, aku pernah menjanjikan untuk menceraikan Haura dan menikahinya. Namun, aku meminta waktu. Aku akan menikahinya kalau hubungan kami bisa bertahan lebih dari dua tahun. Tiwi pun menyanggupi hal ini.
Dua bulan yang lalu, Tiwi dikenalkan dengan Danish seorang laki-laki anak dari kerabat papanya Tiwi. Mereka bermaksud untuk menjodohkan Tiwi dengan Danish.
Aku mengerti alasan orang tua Tiwi ingin menjodohkan Tiwi dengan Danish. Orang tua mana yang tidak khawatir melihat anak gadisnya yang sudah cukup umur belum juga menikah. Kini usia Tiwi 24 tahun. Menurut budaya bangsa Asia perempuan yang sudah mencapai usia di atas 20 tahun dianggap sudah matang untuk menikah dan membangun rumah tangga.
Selain itu, orang tua Tiwi melakukan perjodohan ini bukan hanya alasan itu saja. Hubungan keluarga Tiwi dan keluarga Danis sudah cukup akrab. Mereka ingin tetap menjaga hubungan kekerabatan dengan orang tua Danish hingga keturunannya. Karena itulah Tiwi tidak bisa serta-merta menolak perjodohan ini.
Ia tetap menerima perjodohan ini dengan syarat ia meminta waktu untuk mengembangkan kariernya sampai mendapatkan posisi yang diinginkannya. Keluarga Danish pun menyetujuinya. Mereka bersedia untuk menunggu kesiapan Tiwi untuk menikah.
Halaman : 1 2 Selanjutnya












