Tapi tiba-tiba sebuah tangan besar menempel pada pintu kulkas itu dan mulai mendorongnya hingga pintu kulkas itu pun tertutup. Melihat tangan yang masih saja menempel di pintu itu, Amora pun memutuskan untuk membalikkan badannya, karena dia tahu ada seseorang yang kini berdiri di belakangnya.
Dan sesuai dengan dugaan Amora, kini terlihat Daren yang tengah menatap kedua mata Amora yang juga menatapnya dengan tangan kanan yang masih menempel pada pintu kulkas.
Melihat itu Amora menelan salivanya sejenak sebelum menghindar dari Daren dengan berjalan ke sebelah kanannya karena tidak ada sesuatu yang menghalanginya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tapi dengan cepat Daren langsung menaruh tangan kirinya di kulkas itu saat melihat pergerakan Amora, dan tindakannya itu membuat Amora kini berada di dalam kurungannya.
Melihat tindakan Daren barusan membuat Amora menghela nafasnya sebelum mendongakkan kepalanya untuk melihat ke arah dua mata tajam yang kini menatapnya, setelah itu Amora pun menyenderkan tubuhnya di kulkas.
“Kamu kenapa selalu menghindar dari saya?, saya hanya ingin menjelaskan kejadian siang hari itu” ucap Daren.
“Aku ngga ngehindarin kamu, aku cuma mau ngebiasain diri aku biar ngga selalu bergantungan sama kamu” jawab Amora sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan tangan kanan yang masih memegang sebotol air putih.
“Kenapa?, saya Suami kamu, Ra. Sudah seharusnya saya menggantikan posisi Papa kamu di hidup kamu. Saya rela kamu repotkan, saya rela kamu bergantungan sama saya. Karena memang itu sudah menjadi tanggung jawab saya.”
Mendengar segala penuturan itu membuat Amora terdiam sejenak dengan kedua mata yang masih menatap Daren, “Karena aku ngga mau nanti harus ngebenci kamu di saat aku udah jatuh sama kamu, Kak.”
Ucapan Amora barusan hanya bisa Amora ucapkan di dalam hatinya, karena dia tidak mungkin mengatakan itu semua langsung kepada Daren.
Karena tidak ingin memancing dirinya sendiri untuk berkata hal yang selalu dia pendam, Amora pun memutuskan untuk pergi dari kurungan Daren dengan cara menundukkan kepalanya hingga dia bisa melewati tangan Daren yang tadinya sejajar dengan kepalanya.
“Jawab saya, Ra” ucap Daren yang lalu menurunkan kedua tangannya dari kulkas.
Dengan emosi yang terus ditahannya, Amora menuangkan air putih dari botol itu ke sebuah gelas yang baru saja dia ambil, setelah Amora pun meminum air dingin itu, “Ngga ada yang perlu dijawab, Kak. Semua udah jelas kan?”
“Tidak, tidak ada yang jelas sedikit pun. Saya bingung dengan sikap kamu semenjak kita pulang dari Paris. Oke, oke kalau memang saya salah Siang itu.”
“Tapi itu benar-benar di luar dugaan saya, saya tidak pernah membayangkan bahwa Syla akan menyusul kita ke Paris. Setelah beberapa menit kamu pergi ke toilet, tiba-tiba Syla datang.”
“Saya awalnya menyuruh Syla untuk pergi secara baik-baik, tapi dia tidak mau karena dia tidak terima saya putuskan begitu saja. Dia marah-marah kepada saya dan entah kenapa dia langsung memeluk saya.”
“Bertepatan dengan itu, kamu datang. Itu semua terjadi begitu saja tanpa bisa saya cerna dengan cepat. Maaf, saya menyadari bahwa memang saya yang salah di sini, tapi saya mohon, berhenti bersikap seperti ini, Ra.”
Mendengar segala penuturan dari Daren membuat Amora semakin mencengkram erat gelas yang kini ada di genggamannya, “Maaf.”
Setelah mengucapkan itu Amora langsung berjalan pergi meninggalkan Daren sendirian di dapur, dengan sedikit berlari Amora menaiki tangga di dalam rumahnya itu dan berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Melihat itu semua, Daren hanya bisa menghela nafasnya kemudian sedikit menundukkan kepalanya, “Saya harus bagaimana lagi, Ra?”
“Jika dari awal saya tahu bahwa bukan kamu pelakunya, mungkin saya tidak akan pernah menyewa Nasyla. Saya akan membiarkan perasaan ini terus tumbuh, tanpa harus berusaha saya hilangkan.”
Setelah itu Daren kembali mengangkat kepalanya dan berjalan menuju salah satu lemari gantung yang ada di sana, lalu dia membuka pintu lemari itu dan mengambil salah satu botol berisikan minuman keras.
Di sebuah taman bermain terlihat seorang gadis kecil yang sepertinya masih berumur sekitar 5 tahun tengah bermain bersama seorang laki-laki yang lebih tinggi darinya.
Mereka berdua sangat gembira saat memainkan mainan-mainan yang ada di taman bermain itu, “Ian.”
“Apa, Ara?”
“Tadi aku mendengar kamu akan pergi ke Australia, apakah kamu akan pergi liburan lagi?” tanya gadis manis yang dipanggil ‘Ara’ itu.
Seorang laki-laki yang terlihat sangat tampan dan putih itu mulai berjalan menghampiri gadis itu, “Maaf, Ara. Aku akan pergi ke Australia.”
“Tidak apa-apa, Ian. Kamu akan kembalikan?, jadi kamu tidak perlu meminta maaf” jawab Gadis itu.
Anak laki-laki itu menggelengkan kepalanya, “Aku tidak akan kembali.”
“Apa maksudmu?” tanya Ara yang tidak paham dengan apa yang dikatakan Ian.
“Kata Papa, aku akan menetap di sana, dan katanya aku akan sangat lama di sana dan kemungkinan tidak akan kembali lagi ke Indonesia” jawab Ian dengan raut wajah sedih.
“Tidak, Ian. Kamu pasti berbohong kepadaku, kamu pasti ingin membuatku menangis lagi seperti kemarin” ujar Ara yang lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada yang mengartikan bahwa dia tengah marah.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya






