Novel: A Way to Find You (Part 22)

- Penulis

Minggu, 1 Desember 2024 - 15:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel: A Way to Find You (Part 22)

Novel: A Way to Find You (Part 22)

Sebelumnya: A Way to Find You (Part 21)

***

Novel: A Way to Find You (Part 22)

BAB 22

Dari lekuk tubuhnya, tampak jelas bahwa sosok itu adalah wanita. Giska membelalak. Tubuhnya seolah membeku di tempat. Ia sampai memejamkan mata selama beberapa detik, berharap saat ia kembali menatap ke depan, siluet itu sudah menghilang. Namun, sosok tersebut masih ada di sana, berdiri mengawasi mereka dalam diam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Si ¦ siapa? Giska mencoba bertanya dengan segenap keberanian. Siapa kamu? tanyanya lebih keras.

Detik-detik yang berlalu terasa begitu mencekam. Tidak ada yang bergerak maupun bersuara di antara mereka. Giska terpaku di atas tempat tidur, dan siluet itu pun juga tetap bergeming di tempatnya. Hanya terdengar gemuruh hujan yang masih turun dengan derasnya di luar sana.

Karena lama-lama merasa jengah, ketakutan Giska berubah menjadi keberanian. Ia tidak suka ada yang mengganggu ketentraman rumahnya seperti ini. Siapa pun itu yang berdiri di sana pastilah seorang penyusup. Setelah berhasil menguasai otot-otot tubuhnya, Giska bangkit berdiri dan berlari ke arah saklar lampu.

Cahaya terang langsung menyirami kamar. Bersamaan dengan itu, siluet yang tadi berdiri membaur dengan kegelapan juga menghilang. Giska celingukan, memastikan sosok itu tidak ada lagi di dalam kamarnya. Debar jantungnya perlahan mereda setelah yakin hanya tinggal ia dan Bima di sana.

Giska baru menyadari Bima masih mematung dengan posisi yang sama di atas tempat tidur. Ia buru-buru menghampiri lelaki itu dan menurunkan tangannya yang masih terangkat menunjuk pojok ruangan. Udah, udah nggak ada, ujarnya pelan. Ia memeluk suaminya untuk menenangkan lelaki itu sekaligus dirinya sendiri.

˜Apa itu yang disebut orang-orang sebagai makhluk halus?™ pikir Giska. Kalau memang benar, berarti ini sudah kedua kalinya ia melihat makhluk tersebut. Yang pertama adalah saat di kamar mandi tadi sore. Dua-duanya memang hanya berupa sosok bayangan tidak jelas, tapi Giska yakin matanya tidak salah tangkap.

Giska mendengar dengkur halus dari lelaki yang tengah ia peluk. Entah bagaimana, Bima jatuh tertidur lagi dalam situasi seperti ini. Giska pun membaringkan tubuh sang suami. Malam itu, untuk pertama kalinya, mereka tidur dengan lampu menyala.

Mas, semalem itu apa? tanya Giska esok harinya saat mereka sarapan bersama.

Apaan? Bima malah balik bertanya.

Lho, kamu nggak inget? Giska mengangkat kedua alisnya. Aneh kalau Bima tidak ingat, padahal ia yang menunjuk ke arah sosok misterius itu pertama kali. Kamu mimpi sesuatu nggak tadi malem?

Bima mengingat-ingat sebentar. Nggak, tuh.

Mimpi lihat apa, gitu?

Nggak inget.

Giska mengembuskan napas. Ya udah, deh. Lupain aja.

Keanehan ternyata masih berlanjut. Giska baru saja pulang sore itu setelah menghadiri acara ulang tahun seorang anak dari temannya. Ketika sampai di gerbang perumahan, ia menyapa Pak Tanto, satpam yang berjaga di sana.

Lho, Mbak Giska baru aja pulang? tanya Pak Tanto dengan mimik bingung. Ia sampai keluar dari posnya dan mendekati mobil Giska yang masih berhenti di depan portal.

Iya, Pak. Oh, tadi pagi masih Mas Heru, ya, yang jaga pas saya keluar?

Berarti, Mbak Giska keluar dari pagi? Di rumah nggak ada orang?

Giska mengangguk. Saya ada acara full seharian ini di luar. Rumah kosong karena Bi Tami, kan, baru aja ke sana kemarin.

Terlihat jelas Pak Tanto makin kebingungan. Giska, yang melihat gelagat aneh dari satpam tersebut, langsung bertanya, Emangnya kenapa, Pak?

Saya barusan nganterin paket ke rumah Mbak Giska.

Memang sudah menjadi aturan di perumahan itu bahwa kurir paket dilarang masuk. Paket-paket diantar cukup sampai di pos satpam. Tinggal nanti satpam yang bertugas menyerahkan paket-paket tersebut pada para penghuni perumahan. Satpam bisa meminta penghuni mengambil langsung di pos, memberikannya saat si penghuni lewat, atau mengantarkannya langsung ke rumah mereka. Kebetulan, karena paket Giska yang datang tadi siang lumayan banyak, Pak Tanto berinisiatif mengantarkannya daripada menumpuk di pos. Ia tidak tahu kalau rumah itu sedang dalam keadaan kosong.

Pak Tanto berjalan makin mendekat dan berbisik, Masalahnya, tadi ada cewek di rumah Mbak Giska.

Giska membelalak. Cewek? tanyanya bingung. Perasaannya mulai tidak enak. Tamu, Pak?

Bukan, orang ceweknya ada di dalem rumah. Tadi, pas saya ke sana, saya pencet bel, nggak tahu kalau rumah lagi kosong. Terus, tiba-tiba ada yang jawab dari dalem. Suara cewek gitu.

Giska makin terkejut. Pak Tanto lihat orangnya?

Dia kayak cuma ngintip dari balik jendela, tapi saya nggak lihat jelas. Saya kira itu Mbak Giska. Ya udah, paketnya saya tinggal aja.

Giska menelan ludah. Kalau memang benar cewek yang diceritakan Pak Tanto tadi adalah manusia, bagaimana bisa ia masuk ke dalam rumah? Tamu pun harus lapor dulu di pos satpam sebelum satpam mengonfirmasi pada pemilik rumah. Jadi, kemungkinan besar yang dilihat Pak Tanto bukanlah orang. Giska mau tidak mau teringat lagi pada sosok penampakan yang ia lihat kemarin.

Mau saya temenin cek rumah, Mbak? Takutnya kalau cewek itu maling atau penyusup, tawar Pak Tanto yang tidak tega melihat keresahan di wajah Giska.

Boleh. Masuk aja, Pak. Giska membuka kunci mobil dan membiarkan Pak Tanto duduk di kursi penumpang depan.

Berdua dengan satpam kompleks yang sudah ia kenal dengan baik itu, Giska pulang menuju rumahnya yang terletak di area timur perumahan. Usai memarkirkan mobil di carport, keduanya turun.

Nih, paketnya masih ada di sini, Mbak. Pak Tanto menunjuk tumpukan paket di teras rumah. Berarti nggak diambil, dong, sama cewek tadi.

Giska menekan nomor sandi di smartdoor rumahnya. Mari masuk, Pak, ajaknya pada Pak Tanto. Saya periksa atas, Pak Tanto periksa lantai bawah, ya.

Mereka mengecek seluruh penjuru rumah dengan teliti, tapi tidak menemukan apa pun. Tidak ada tanda-tanda pembobolan atau pencurian. Semua barang masih aman ada di tempat. Pintu dan jendela juga masih tertutup rapat. Giska semakin yakin kalau yang Pak Tanto lihat tadi bukan manusia.

Mungkin, saya salah lihat, ya, tadi, ujar Pak Tanto, sengaja tidak mau membuat Giska takut. Padahal dalam hati, ia memikirkan hal yang sama dengan Giska.

Iya, kali, sahut Giska dengan seulas senyum tipis.

Ya udah, Mbak. Saya balik ke pos dulu. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi saya aja.

Baik, Pak. Makasih, ya.

Begitu Pak Tanto pergi, Giska mengangkut paket-paketnya masuk dan menyimpannya di ruang kerja. Ia pun memutuskan untuk menunggu di lantai bawah sampai suaminya pulang. Selama ini, Giska bukan orang yang penakut. Namun, setelah menyaksikan langsung hal-hal yang belum pernah ia lihat sebelumnya, perempuan itu jadi agak paranoid.

Untungnya, tak lama kemudian, terdengar suara motor Bima terparkir di halaman.

Lagi nungguin aku, ya, di bawah? sambut lelaki itu sambil memeluk dan mencium sang istri.

Giska mengangguk senang. Rasa aman dan tenang langsung membanjiri hati begitu melihat sang suami.

Gis, tolong cek suhu aku, dong. Kayaknya agak meriang, nih. Bima mengangkat tangan kanan Giska dan meletakkannya di kening.

Iya, agak hangat, Mas. Pasti karena kedinginan bolak-balik kantor pake motor, kata Giska cemas. Naik ke kamar, gih. Entar aku ukur pakai termometer.

Malam itu, Bima tidur lebih awal setelah meminum obat penurun demam. Giska sebenarnya ingin lembur menyelesaikan sebuah video, tapi karena takut, ia pun memilih untuk ikut tidur lebih awal.

˜Semoga, malam ini nggak ada gangguan lagi,™ doa Giska dalam hati.

Sayang, doanya tidak terkabul. Kali ini, gangguan tidak datang secara langsung, melainkan lewat mimpi. Dalam mimpi tersebut, Giska tengah berada di lantai atas rumahnya. Kondisi di sekelilingnya gelap gulita. Hanya ada sumber cahaya yang berasal dari lantai satu. Dengan hati-hati, Giska melangkah menuju tangga yang tersinari oleh lampu dari bawah.

Semakin dekat, Giska mendengar ada senandung dari lantai satu. Suaranya jelas seorang wanita. Wanita itu menyanyikan tembang berbahasa Jawa kuno dengan suaranya yang bercengkok merdu. Nadanya tinggi, tapi terkontrol sempurna seperti seorang sinden profesional.

Giska menuruni anak tangga dengan gerakan pelan. Di atas rasa takut, ada rasa penasaran yang menuntut untuk dituntaskan. Ia ingin tahu siapa wanita pemilik suara merdu tersebut. Mungkin, sosok itu adalah sosok yang sama yang mengganggu mereka sejak kemarin.

Giska sama sekali tidak pernah membayangkan ia akan melihat seorang wanita berpakaian adat Jawa di ruang tengah rumahnya. Wanita itu tengah berlenggok mengikuti nyanyian yang keluar dari mulutnya sendiri. Gerakannya halus, sehalus nada suaranya. Posisinya membelakangi Giska. Namun, seolah bisa merasakan kehadiran si pemilik rumah, wanita itu tiba-tiba membalikkan badan.

Giska tersentak kaget. Kini, ia bisa melihat jelas wujud wanita misterius itu. Wajahnya cantik rupawan, tapi tampak tajam dan mengintimidasi. Giska merasa tidak asing. Ia sepertinya pernah melihat wajah wanita itu di suatu tempat, tapi di mana?

Selagi Giska diam membeku, si wanita yang mengenakan kebaya hitam berbordir emas itu melangkah mendekat. Bibirnya yang terpoles lipstik merah menyunggingkan seulas senyum. Namun, Giska bisa melihat senyum itu tidak mencapai matanya.

Giska ingin berteriak, meminta si wanita menakutkan itu untuk berhenti mendekatinya. Namun, tenggorokannya tercekat. Tidak ada suara yang mampu ia keluarkan. Akhirnya, mereka berdiri berhadap-hadapan. Dari balik tubuh si wanita misterius itu, Giska melihat ada banyak bayangan-bayangan hitam besar yang bermunculan. Kini, rumahnya seolah dikuasai oleh aura gelap yang menyesakkan.

P-pergi! ucap Giska terbata. Lehernya seakan tercekik oleh tangan-tangan tak kasat mata. Ja ¦ ngan ¦ ganggu!

Wanita misterius itu melotot, tapi bibirnya menyeringai lebar. Lanangmu nggo aku, yo (suamimu untuk aku, ya), bisiknya.

Giska tidak begitu paham apa yang wanita itu katakan. Namun, ia mendengar kata ˜lanangmu™ yang ia tahu artinya adalah lelakimu atau suamimu dalam Bahasa Jawa. Giska menyimpulkan wanita itu tengah membicarakan Bima.

Jangan! bentak Giska sekuat tenaga. Mengetahui suaminya terseret dalam masalah ini, ia seolah mendapat kekuatannya kembali. Jangan berani-beraninya kamu ganggu suamiku! Pergi dari rumahku!

Si wanita tertawa melengking, dan saat itu juga Giska terbangun. Jantungnya berdegup kencang seolah baru saja berlari puluhan kilometer. Ia langsung menoleh ke arah Bima. Untungnya, lelaki itu tampak baik-baik saja dan masih tertidur lelap.

Giska menyentuh kening sang suami. Suhunya masih agak hangat. Ia berdoa semoga obat penurun demamnya bisa segera bekerja. Belum sempat ia membaringkan diri, mendadak terdengar ketukan dari luar jendela kamarnya.

Ketukan itu terdengar seperti suara kuku yang beradu dengan kaca jendela. Giska mematung di tempat. Masalahnya, kamar ini berada di lantai dua. Siapa yang sanggup mengetuk jendela setinggi hampir lima meter itu di tengah malam seperti ini?

***

Selanjutnya: A Way to Find You (Part 23)

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Terbaru! Spanyol vs Arab Saudi Main Malam Ini, Cek Jam Kick-offTerbaru! Spanyol vs Arab Saudi Main Malam Ini, Cek Jam Kick-off

Olahraga

Terbaru! Spanyol vs Arab Saudi Main Malam Ini, Cek Jam Kick-off

Minggu, 21 Jun 2026 - 08:08 WIB

Spektakuler! Konser Mahalini Ramaikan Jakarta Fair Malam Ini

Hiburan

Spektakuler! Konser Mahalini Ramaikan Jakarta Fair Malam Ini

Minggu, 21 Jun 2026 - 07:38 WIB

Waspada! Gunung Ibu Erupsi Pagi Ini, Sudah 45 Kali SepekanWaspada! Gunung Ibu Erupsi Pagi Ini, Sudah 45 Kali Sepekan

Bencana

Waspada! Gunung Ibu Erupsi Pagi Ini, Sudah 45 Kali Sepekan

Minggu, 21 Jun 2026 - 07:28 WIB