Redaksiku.com – Momen menarik terjadi ketika Menteri Keuangan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa mendapat pertanyaan dari seorang siswa SMA mengenai cara mengatur keuangan agar tidak boros.
Pertanyaan sederhana itu justru memantik diskusi ringan namun sarat makna tentang pentingnya literasi keuangan sejak usia muda.
Dalam sesi dialog interaktif yang diikuti para pelajar, Purbaya tersenyum sebelum menjawab. Ia mengaku senang melihat anak muda mulai melek finansial dan berani bertanya soal pengelolaan uang di tengah derasnya tren konsumtif dan gaya hidup digital saat ini.
Menkeu Ajak Siswa Belajar Cerdas, Bukan Sekadar Ikut Tren
Menanggapi pertanyaan tersebut, Purbaya menekankan bahwa kunci utama agar tidak boros adalah memahami nilai uang dan kebutuhan pribadi, bukan sekadar mengikuti gaya hidup orang lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pelajari benar. Jangan hanya ikut-ikutan. Kalau mau membeli sesuatu, tanyakan dulu ke diri sendiri: apakah ini kebutuhan atau hanya keinginan? ujar Purbaya di hadapan para siswa.
Ia mengingatkan bahwa banyak orang terjebak dalam perilaku konsumtif karena mudah terpengaruh tren media sosial, seperti membeli barang hanya demi gengsi atau agar terlihat keren di dunia maya. Menurutnya, kebiasaan semacam itu bisa menjadi awal dari masalah keuangan di masa depan.
Sekarang banyak anak muda pengen tampil keren, pakai barang branded, padahal belum tentu mampu. Kalau terus-terusan ikut tren tanpa perhitungan, uang akan habis sebelum waktunya, ujarnya.
Pesan Penting: Jangan Hidup dari Utang
Lebih lanjut, Purbaya menyoroti fenomena penggunaan utang konsumtif di kalangan anak muda, seperti membeli gadget dengan cicilan atau berutang lewat aplikasi keuangan hanya untuk kebutuhan gaya hidup.
Belanja itu enggak masalah, mau yang mahal atau yang murah silakan. Tapi sesuaikan dengan kantong sendiri. Jangan ngutang, tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa utang produktif, seperti pinjaman untuk modal usaha atau pendidikan, memang bisa menjadi instrumen yang bermanfaat. Namun, jika digunakan untuk membeli barang konsumsi tanpa perencanaan, justru akan menjadi beban finansial di masa depan.
Kalau sudah terbiasa berutang untuk hal-hal yang tidak perlu, nanti susah berhenti. Akhirnya hidup selalu dikejar cicilan, bukan mimpi, tambahnya.

Pendidikan Finansial Harus Dimulai Sejak Dini
Purbaya menilai, literasi keuangan seharusnya diajarkan sejak bangku sekolah agar anak-anak memahami konsep dasar seperti menabung, mengatur pengeluaran, serta membedakan kebutuhan dan keinginan.
Menurutnya, generasi muda saat ini tumbuh di era digital yang serba cepat dan penuh godaan konsumtif. Berbagai iklan daring, promosi e-commerce, hingga fitur beli sekarang, bayar nanti membuat banyak remaja kesulitan menahan keinginan belanja impulsif.
Mengelola uang itu bukan soal pintar matematika, tapi soal kebiasaan. Kalau dari kecil sudah diajarkan disiplin menabung dan mengatur pengeluaran, nanti dewasa tidak kaget, ucapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa mengelola keuangan adalah bagian dari tanggung jawab pribadi. Setiap orang, apalagi anak muda, perlu memahami bagaimana setiap keputusan finansial berdampak pada masa depan mereka.
Bijak Mengelola Uang di Era Digital
Dalam era di mana transaksi digital semakin mendominasi, Purbaya menekankan pentingnya berhati-hati dalam menggunakan uang elektronik dan dompet digital.
Sekarang segalanya serba mudah. Klik satu tombol, barang langsung datang. Tapi justru di situ bahayanya. Karena tidak terasa uang keluar begitu cepat, katanya.
Ia menyarankan agar anak muda membiasakan diri membuat catatan pengeluaran harian, meskipun sederhana, untuk mengetahui ke mana uang mereka pergi setiap hari. Dengan begitu, mereka bisa mengevaluasi kebiasaan boros dan mulai memperbaikinya.
Kalau sudah tahu berapa yang dikeluarkan untuk hal-hal tidak penting, baru sadar ternyata banyak uang terbuang percuma, tambahnya.
Menkeu Dorong Gaya Hidup Finansial Sehat
Sebagai pejabat negara yang lama berkecimpung dalam bidang ekonomi dan fiskal, Purbaya menegaskan bahwa pola hidup hemat bukan berarti pelit, melainkan bijak.
Ia mengajak para pelajar untuk memiliki tujuan keuangan jangka panjang, seperti menabung untuk kuliah, membantu orang tua, atau bahkan berinvestasi sejak muda dengan cara yang aman.
Kalau kamu bisa menyisihkan sedikit dari uang jajan untuk tabungan atau investasi kecil, itu sudah langkah besar. Artinya kamu berpikir ke depan, bukan hanya hari ini, ucapnya.
Purbaya juga menekankan pentingnya memahami risiko dalam berinvestasi, terutama di tengah maraknya tawaran investasi digital yang belum tentu legal atau diawasi oleh otoritas.
Jangan tergiur iming-iming keuntungan cepat. Pelajari dulu. Kalau perlu, konsultasi ke orang yang paham atau baca informasi dari sumber resmi seperti OJK, jelasnya.
Generasi Melek Finansial, Fondasi Ekonomi Kuat
Menurut Menkeu, membangun generasi muda yang cerdas finansial merupakan langkah penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional di masa depan.
Kalau anak muda sudah bisa mengelola uang dengan baik, mereka tidak hanya mandiri tapi juga bisa membantu perekonomian tumbuh lebih sehat, ujarnya.
Ia mencontohkan, ketika remaja mulai menabung dan tidak boros, daya beli mereka menjadi lebih stabil. Selain itu, mereka akan lebih siap menghadapi krisis ekonomi karena memiliki tabungan darurat.
Negara yang maju itu karena masyarakatnya punya budaya menabung, bukan budaya konsumtif, tegasnya.
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai sumber
Halaman : 1 2 Selanjutnya






