Ghea beserta suami dan anaknya kini mengatur pose untuk foto bersama. Salah seorang karyawan menghitung sebelum mengambil jepretan. Pada hitungan ketiga, Ghea secara tiba-tiba mengecup pipi kiri sang suami.
Dia sudah membayangkan itu saat tengah bersiap foto, pasti akan terlihat lucu dan romantis. Namun, yang terjadi justru di luar perkiraannya. Ghani seketika mendorong tubuhnya menjauh. Tidak keras ataupun sakit, tapi berhasil membuat perasaan Ghea terluka.
Wanita yang mengenakan blus merah muda itu tidak siap atas reaksi tersebut. Ekspresi terkejut bercampur kecewa tergambar jelas di wajah bulatnya. Ghea merasa bingung. Apa yang salah darinya?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Perhatiannya teralihkan sebentar ketika pegawai tadi menyerahkan ponselnya. Ekspresi para pegawai tadi juga tampak kaget, tetapi berusaha disembunyikan. Keheningan canggung seketika melingkupi mejanya. Ketiga pegawai tadi lantas tersenyum kikuk dan segera pergi.
Sayang, kamu kenapa kayak gitu? tanya Ghea lirih.
Apa? Kamu tadi ngapain pake cium-cium segala? Pria beralis tebal itu justru balik memprotes.
Selama sekian detik Ghea hanya menatap Ghani. Belum selesai rasa kecewa karena didorong Ghani, suaminya itu malah menambahi dengan ucapan menyakitkan. Tidakkah Ghani menyadari kalau sikapnya tadi melukai perasaan Ghea?
Ya memang apa salahnya? Itu caraku nunjukin cinta ke kamu. Biasanya juga gitu, kan? Ghea berkata sepelan mungkin, tidak ingin anaknya mendengar percakapan mereka. Sekilas dia lirik Aaron tengah menyolek krim kue dengan telunjuknya.
Lain kali nggak usah begitu di depan banyak orang. Biasa aja, jawab Ghani sembari membetulkan letak kacamatanya.
Ghea tidak tahan untuk tidak mendengus. Dia memperhatikan Ghani yang kini sudah kembali melanjutkan makan.
Biasa saja? Seperti pria itu yang tidak pernah mengucap kalimat manis atau pujian? Seperti pria itu yang selalu menghindar bila Ghea melakukan kontak fisik? Sikap seperti itukah yang menurut Ghani biasa saja?
Dia hendak bertanya kembali, tapi Aaron merengek minta kuenya segera dipotong. Ghea berharap anaknya tidak menangkap perdebatan tersebut.
Beberapa menit lalu dia merasa bahagia karena mendapat kejutan dari suaminya. Namun, dengan cepat kesenangan itu berubah menjadi sakit hati. Ghea mengatupkan bibirnya rapat, berusaha mengendalikan emosi.
Makanan di piringnya sisa sedikit, tapi Ghea tidak selera untuk menghabiskan. Dia lantas membuka galeri di ponsel, melihat hasil jepretan tadi. Buruk. Foto mereka buram karena pergerakan tiba-tiba.
Hati Ghea kembali mencelus. Sikap penolakan Ghani terus diputar berulang-ulang di kepalanya. Sebuah pemikiran seketika melintas di benaknya. Tujuh tahun pernikahan, Ghea menyadari kalau suaminya tidak benar-benar mencintainya.
Halaman : 1 2






