Redaksiku.com – Kondisi kekeringan yang melanda wilayah Sulawesi Selatan kini memasuki fase yang semakin mengkhawatirkan bagi warga di Kabupaten Maros. Memasuki bulan September 2026, krisis air bersih bukan lagi sekadar ancaman musiman, melainkan beban ekonomi dan sosial yang nyata bagi ribuan kepala keluarga yang bergantung pada sumber air permukaan dan sumur tadah hujan.
Di wilayah pesisir seperti Kecamatan Bontoa, sumur-sumur warga telah lama mengering atau berubah menjadi payau. Warga yang biasanya mengandalkan air hujan kini terpaksa mengeluarkan biaya ekstra yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan dasar harian mereka, mulai dari memasak hingga kebutuhan sanitasi yang paling mendasar.
Kenaikan harga air bersih di pasar informal menjadi keluhan utama masyarakat. Di beberapa titik terdampak, harga satu tangki air atau pengisian jeriken terus merangkak naik seiring dengan semakin sulitnya akses menuju sumber air yang masih produktif. Situasi ini menciptakan tekanan finansial bagi keluarga berpenghasilan rendah yang harus membagi anggaran antara kebutuhan pangan dan air.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Data terbaru menunjukkan bahwa setidaknya terdapat 6.738 kepala keluarga di Maros yang saat ini menghadapi dampak langsung dari krisis air bersih yang parah.
Dampak Meluas di Kecamatan Bontoa dan Sekitarnya
Kecamatan Bontoa menjadi salah satu titik terparah dalam peta krisis air di Maros. Di Dusun Mangara Bombang, Desa Ampekale, warga melaporkan bahwa sumur-sumur mereka sudah tidak lagi mengeluarkan air jernih. Kondisi ini memaksa mereka untuk mencari alternatif lain, termasuk menggunakan air sumur yang sudah mulai keruh dan berasa asin demi menghemat pengeluaran.
Ketergantungan pada sumur tadah hujan membuat wilayah ini sangat rentan saat kemarau panjang tiba. Tanpa adanya infrastruktur pipa air minum yang menjangkau pelosok desa, warga praktis hanya mengandalkan bantuan dari pihak luar atau membeli air dari pedagang keliling yang harganya tidak menentu.
Masalah ini tidak hanya berdampak pada konsumsi rumah tangga, tetapi juga mulai mengganggu aktivitas ekonomi lokal. Para pelaku usaha kecil yang membutuhkan air dalam jumlah banyak, seperti warung makan atau industri rumahan, mulai mengeluhkan biaya operasional yang membengkak akibat mahalnya harga air bersih di pasaran.
Harga air bersih per tangki di wilayah terdampak kini berkisar antara Rp 70.000 hingga Rp 100.000, tergantung pada jarak distribusi dan tingkat kesulitan akses jalan.
Respons Pemerintah dan Penyaluran Bantuan
Menyikapi kondisi yang semakin mendesak, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mulai mengintensifkan penyaluran bantuan air bersih ke titik-titik krusial. Kolaborasi antara pemerintah daerah dan organisasi sosial seperti Andalan Peduli menjadi tumpuan bagi warga yang sudah tidak mampu lagi membeli air secara mandiri.
Penyaluran bantuan dilakukan dengan mengerahkan armada truk tangki ke dusun-dusun terpencil, termasuk Dusun Kalosi di Kecamatan Maros. Langkah ini diharapkan dapat meringankan beban warga, meskipun sifatnya masih berupa penanganan jangka pendek yang belum menyentuh akar permasalahan infrastruktur air di wilayah tersebut.
Selain pemerintah, inisiatif dari berbagai elemen masyarakat juga mulai bermunculan. Namun, luasnya cakupan wilayah yang terdampak membuat distribusi bantuan seringkali tidak merata. Warga di daerah yang sulit dijangkau kendaraan besar masih harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan jatah air bersih gratis tersebut.
“Kami harus mengantre sejak pagi hanya untuk mendapatkan beberapa jeriken air. Jika bantuan tidak datang, kami terpaksa membeli air tangki yang harganya terus naik setiap minggu.”
— Salah satu warga terdampak di Maros
Ancaman Sektor Pertanian dan Ketahanan Pangan
Krisis air di Maros tidak hanya berhenti pada masalah domestik, tetapi juga merembet ke sektor pertanian. Lahan-lahan sawah di wilayah ini mulai mengalami keretakan akibat ketiadaan pasokan air irigasi. Hal ini dikhawatirkan akan memicu gagal panen yang pada akhirnya berdampak pada kenaikan harga bahan pokok di pasar lokal.
Fenomena serupa sebenarnya sudah mulai terlihat di daerah lain di Sulawesi, di mana harga sayur-sayuran seperti kol dan wortel meroket karena kesulitan pasokan. Jika kemarau terus berlanjut hingga akhir tahun, rantai pasok pangan di Maros dan sekitarnya diprediksi akan mengalami gangguan serius yang memicu inflasi daerah.
Para petani kini hanya bisa pasrah melihat tanaman mereka layu sebelum waktunya. Upaya untuk mengambil air dari sungai-sungai kecil pun mulai sulit dilakukan karena debit air yang terus menyusut tajam. Kondisi ini menuntut adanya strategi manajemen air yang lebih komprehensif dari pemerintah daerah untuk melindungi sektor agraris.
- Penyaluran bantuan air bersih difokuskan pada wilayah pesisir dan desa terpencil.
- Sektor pertanian terancam gagal panen akibat mengeringnya saluran irigasi primer.
- Biaya hidup masyarakat meningkat signifikan karena harus membeli air bersih secara mandiri.
Upaya Akademis dan Solusi Jangka Panjang
Di tengah krisis yang melanda, muncul berbagai dorongan untuk menciptakan solusi permanen terkait water resilience di Kabupaten Maros. Salah satunya datang dari kalangan akademisi melalui mahasiswa KKN-T Universitas Hasanuddin yang menyusun ringkasan kebijakan mengenai ketahanan air di Kelurahan Taroada.
Ringkasan kebijakan tersebut menekankan pentingnya diversifikasi sumber air dan pengelolaan lingkungan yang lebih baik untuk menjaga cadangan air tanah. Tanpa adanya kebijakan yang berfokus pada keberlanjutan jangka panjang, Maros akan terus terjebak dalam siklus krisis air yang sama setiap kali musim kemarau tiba.
Pembangunan infrastruktur seperti waduk atau perluasan jaringan PDAM menjadi aspirasi yang terus disuarakan oleh masyarakat. Namun, tantangan geografis dan besarnya anggaran yang dibutuhkan masih menjadi kendala utama dalam merealisasikan proyek-proyek strategis tersebut di wilayah pedesaan Maros.
Warga dihimbau untuk tetap waspada terhadap kualitas air sumur yang keruh karena berisiko menyebabkan gangguan pencernaan dan penyakit kulit.
Kaitan dengan Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan
Selain masalah kekurangan air untuk konsumsi, kemarau panjang ini juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sulawesi Selatan. Lahan gambut dan semak belukar yang mengering menjadi bahan bakar potensial yang dapat memicu api sewaktu-waktu, terutama di area yang sulit dijangkau petugas pemadam.
Kesulitan mencari sumber air untuk memadamkan api menjadi kendala klasik yang dihadapi tim Manggala Agni dan petugas pemadam kebakaran di lapangan. Dalam beberapa kasus di wilayah lain, petugas bahkan harus membuat sumur bor manual di lokasi kebakaran demi mendapatkan pasokan air untuk proses pemadaman.
Koordinasi antarlembaga kini diperketat untuk memantau titik-titik panas (hotspot) yang muncul. Masyarakat juga diminta untuk tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan, karena keterbatasan air akan membuat upaya pemadaman menjadi sangat sulit dan memakan waktu lama jika api sudah meluas.
Gunakanlah air bekas cucian beras atau sayuran untuk menyiram tanaman guna menghemat penggunaan air bersih selama masa krisis ini.
Krisis air bersih di Maros adalah pengingat nyata akan pentingnya adaptasi terhadap perubahan iklim yang semakin ekstrem. Sambil menunggu hujan turun, sinergi antara bantuan darurat pemerintah dan kesadaran masyarakat dalam menghemat air menjadi kunci utama untuk bertahan di tengah musim kering yang mencekik ini.
Pertanyaan Umum
Mengapa wilayah Maros sangat rentan terhadap krisis air bersih?
Sebagian besar wilayah Maros, terutama di pesisir seperti Bontoa, memiliki karakteristik geologis yang membuat sumber air tanah cepat menjadi payau atau kering saat musim kemarau. Selain itu, cakupan jaringan pipa air bersih dari pemerintah belum sepenuhnya menjangkau seluruh desa terpencil.
Bagaimana cara warga mendapatkan bantuan air bersih dari pemerintah?
Warga dapat berkoordinasi melalui aparat desa atau kelurahan setempat untuk melaporkan kondisi kekurangan air di wilayahnya. Pemerintah Provinsi dan Kabupaten biasanya menyalurkan bantuan melalui truk tangki berdasarkan data prioritas wilayah yang paling terdampak parah.
Apa dampak jangka panjang dari kekeringan ini bagi petani di Maros?
Dampak jangka panjangnya meliputi penurunan produktivitas lahan, kerugian finansial akibat gagal panen, hingga potensi kerusakan struktur tanah. Hal ini juga dapat memicu kenaikan harga pangan di pasar lokal karena berkurangnya pasokan hasil tani dari wilayah Maros.
Ringkasan
[8.0:12.0] Sumur-sumur warga mengering.
[16.0:20.0] Harga air bersih melambung tinggi.
[24.0:28.0] Ribuan keluarga kesulitan.






