Redaksiku.com – Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan bergabung dalam serangan ofensif yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam sidang bersama anggota parlemen di Westminster pada Senin (2/3), menyusul meningkatnya tekanan politik agar Inggris tidak terseret lebih jauh ke dalam konflik yang kian memanas di Timur Tengah.
Pernyataan resmi itu muncul di tengah kekhawatiran publik dan parlemen mengenai potensi keterlibatan militer Inggris dalam eskalasi regional. Starmer menekankan bahwa setiap keputusan terkait penggunaan kekuatan militer harus memiliki landasan hukum yang jelas serta mempertimbangkan keselamatan personel militer dan warga sipil Inggris.
Penegasan Sikap Pemerintah
Dalam pidatonya, Starmer menyatakan secara eksplisit bahwa Inggris tidak menjadi bagian dari serangan ofensif yang dilakukan oleh Washington dan Tel Aviv terhadap target-target di Iran. Ia menegaskan bahwa keputusan tersebut didasarkan pada prinsip hukum internasional dan kewajiban melindungi kepentingan nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kami tidak akan mempertaruhkan nyawa personel militer Inggris kecuali jika terdapat dasar hukum yang sah, ujar Starmer di hadapan parlemen. Pernyataan itu sekaligus menjawab spekulasi mengenai kemungkinan dukungan logistik atau militer Inggris dalam operasi tersebut.
Menurutnya, kebijakan luar negeri Inggris tetap berpegang pada prinsip pertahanan diri kolektif dan perlindungan terhadap sekutu lama, namun tidak berarti terlibat dalam tindakan ofensif tanpa legitimasi hukum yang jelas.
Konteks Eskalasi Timur Tengah
Ketegangan regional meningkat tajam setelah Amerika Serikat melancarkan operasi militer terhadap sejumlah fasilitas strategis Iran. Serangan tersebut memicu respons keras dari Teheran dan memperluas risiko konflik lintas negara.
Dalam konteks tersebut, sejumlah anggota parlemen Inggris mendesak pemerintah untuk memberikan kejelasan mengenai posisi London. Mereka mengingatkan pengalaman masa lalu, termasuk keterlibatan Inggris dalam konflik Irak dan Afghanistan, yang memicu perdebatan panjang terkait legalitas dan konsekuensi kemanusiaan.
Starmer menanggapi kekhawatiran tersebut dengan menegaskan bahwa Inggris tidak akan terlibat dalam operasi yang berpotensi memperburuk situasi tanpa mandat hukum yang kuat.

Isu Pangkalan Militer di Siprus
Salah satu isu yang menjadi sorotan adalah penggunaan pangkalan militer Inggris di Siprus. Wilayah tersebut menjadi lokasi strategis bagi operasi militer Barat di Timur Tengah karena kedekatannya dengan kawasan konflik.
Menanggapi spekulasi tersebut, Starmer memastikan bahwa pangkalan Inggris di Siprus tidak digunakan oleh pesawat pengebom Amerika Serikat untuk melancarkan serangan terhadap Iran. Ia juga menyatakan tidak ada korban jiwa warga atau personel Inggris dalam rangkaian insiden yang terjadi.
Pernyataan ini dinilai penting untuk meredam kekhawatiran publik bahwa Inggris terlibat secara tidak langsung dalam operasi militer tersebut.
Prinsip Hukum dan Legitimasi
Dalam sistem demokrasi Inggris, penggunaan kekuatan militer di luar negeri umumnya memerlukan pembahasan serius di parlemen, terutama jika tidak berada dalam kerangka pertahanan langsung. Starmer menekankan bahwa setiap tindakan militer harus sesuai dengan hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Pakar hukum internasional di London menilai pernyataan perdana menteri mencerminkan kehati-hatian politik dan hukum. Inggris, sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB, memiliki tanggung jawab diplomatik untuk mendorong stabilitas dan menghindari eskalasi tanpa mandat yang sah.
Keputusan untuk tidak terlibat dalam serangan ofensif juga dinilai sebagai upaya menjaga posisi Inggris sebagai aktor diplomatik yang kredibel dalam mendorong penyelesaian damai.
Dinamika Politik Domestik
Secara domestik, sikap Starmer mendapat respons beragam. Sejumlah anggota parlemen dari berbagai partai menyambut baik keputusan tersebut dan menilai pemerintah telah belajar dari pengalaman masa lalu.
Namun ada pula yang menekankan pentingnya solidaritas dengan sekutu, khususnya Amerika Serikat dan Israel. Mereka berpendapat bahwa kerja sama pertahanan tetap penting dalam menghadapi ancaman keamanan global.
Starmer mencoba menyeimbangkan kedua pandangan tersebut dengan menegaskan bahwa Inggris tetap berkomitmen pada pertahanan kolektif bersama sekutu, tetapi tidak akan terlibat dalam operasi ofensif tanpa legitimasi hukum yang jelas.
Dampak terhadap Hubungan Transatlantik
Keputusan London untuk tidak bergabung dalam serangan terhadap Iran berpotensi memengaruhi dinamika hubungan transatlantik. Meski demikian, para analis menilai hubungan strategis Inggris dengan Amerika Serikat tetap kuat dan tidak semata ditentukan oleh satu operasi militer.
Inggris dan AS memiliki kerja sama luas di bidang pertahanan, intelijen, dan keamanan. Oleh karena itu, perbedaan sikap dalam satu isu tidak serta-merta mengganggu fondasi hubungan bilateral.
Di sisi lain, keputusan ini dapat memperkuat citra Inggris sebagai negara yang menempatkan hukum internasional sebagai dasar kebijakan luar negeri.
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai sumber
Halaman : 1 2 Selanjutnya






