Redaksiku.com – Gelombang kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus mengepung wilayah Kalimantan telah memicu lonjakan drastis penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Situasi di lapangan menunjukkan bahwa sistem kesehatan di daerah terdampak mulai kewalahan menampung pasien yang membanjiri fasilitas kesehatan setiap harinya. Hingga pertengahan September 2026, ribuan warga dilaporkan harus mendapatkan perawatan intensif akibat terpapar kualitas udara yang memburuk secara ekstrem.
Di Kalimantan Tengah, data Dinas Kesehatan menunjukkan angka yang mengkhawatirkan dengan total 72.431 kasus ISPA yang tercatat sejauh ini. Sebaran kasus ini tidak merata, dengan titik-titik tertentu menjadi pusat penyebaran penyakit akibat konsentrasi lahan gambut yang terbakar secara masif. Wilayah-wilayah seperti Palangkaraya dan Kotawaringin Barat menjadi daerah dengan jumlah penderita paling tinggi, yang mencerminkan betapa parahnya dampak ekologis dan kesehatan dari kebakaran yang belum juga tertangani dengan tuntas.
Dinas Kesehatan mencatat total 72.431 kasus ISPA di Kalimantan Tengah, dengan 16.166 kasus di antaranya terkonsentrasi di Kota Palangkaraya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dampak Kesehatan pada Kelompok Rentan
Para ahli kesehatan menyoroti bahwa ancaman dari kabut asap ini tidak bisa dipandang sebelah mata, terutama bagi kelompok masyarakat yang memiliki daya tahan tubuh lebih rendah. Fachrial Kautsar dari Center for Indonesia’s Strategic Development Initiative (CISDI) menegaskan bahwa partikulat yang dihasilkan dari pembakaran lahan gambut memiliki karakteristik yang jauh lebih berbahaya. Menurutnya, partikulat tersebut 10 kali lebih berisiko merusak paru-paru anak-anak jika dibandingkan dengan polusi udara yang berasal dari emisi kendaraan atau aktivitas industri biasa.
Selain anak-anak, ibu hamil dan kelompok lanjut usia menjadi prioritas dalam pemantauan medis. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa sepanjang periode Juni hingga Agustus 2026, setidaknya terdapat 50.891 kasus ISPA yang tersebar di tujuh provinsi yang terdampak karhutla. Angka ini diprediksi akan terus merangkak naik selama titik api masih aktif dan belum ada upaya pemadaman yang benar-benar efektif di lapangan.
Kritik terhadap Penanganan Pemerintah
Janang Firman Palanungkai, Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalteng, memberikan kritik tajam terhadap langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah daerah. Meskipun status tanggap darurat karhutla telah ditetapkan sejak 31 Agustus, kondisi di lapangan justru dirasakan semakin memburuk oleh masyarakat. Salah satu kebijakan yang dianggap tidak tepat sasaran adalah pengerahan aparatur sipil negara (ASN) untuk turun langsung memadamkan titik api tanpa pembekalan yang memadai.
“Kami sampaikan dari 5 wilayah tersebut memang secara posisi lahan gambutnya cukup masif dan kebakarannya juga masif.”
— Janang Firman Palanungkai
Menurut Walhi, memobilisasi tenaga ASN tanpa alat pelindung diri (APD) yang standar serta pelatihan khusus pemadaman lahan gambut justru berisiko tinggi bagi keselamatan mereka sendiri. Selain itu, bantuan yang didistribusikan kepada masyarakat terdampak dinilai masih sangat minim. Walhi mencatat bahwa mereka telah berupaya menyalurkan bantuan masker dan oksigen ke 29 desa serta menyediakan dua rumah aman asap, namun upaya tersebut masih jauh dari kata cukup untuk menampung kebutuhan warga yang terdampak masif.
Kesenjangan antara jumlah korban yang terus bertambah dengan ketersediaan sarana pendukung seperti rumah aman asap dan bantuan oksigen menjadi tantangan utama dalam penanganan krisis kesehatan di Kalimantan saat ini.
Upaya Mitigasi di Lapangan
Kebutuhan mendesak warga saat ini adalah akses terhadap udara bersih dan perlindungan dari paparan langsung kabut asap. Banyak warga yang terpaksa tetap beraktivitas di luar rumah meski indeks standar pencemar udara sudah masuk dalam kategori berbahaya. Keterbatasan stok masker berkualitas dan alat pemurni udara di tingkat desa membuat masyarakat rentan terkena dampak jangka panjang dari partikel berbahaya yang terhirup setiap hari.
Gunakan masker dengan standar N95 saat beraktivitas di luar ruangan dan pastikan sirkulasi udara di dalam rumah diminimalisir dengan menutup celah jendela serta pintu saat kabut asap sedang pekat.
Langkah pengerahan tenaga ASN untuk memadamkan api tanpa perlengkapan dan pelatihan khusus dapat membahayakan keselamatan personel dan tidak menjamin efektivitas pemadaman di area gambut yang dalam.
Pertanyaan Umum
Mengapa kasus ISPA meningkat drastis di Kalimantan?
Peningkatan kasus ISPA disebabkan oleh kualitas udara yang memburuk akibat kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan gambut. Partikulat halus yang terhirup secara terus-menerus menyebabkan peradangan pada saluran pernapasan warga di wilayah tersebut.
Siapa saja kelompok yang paling berisiko terhadap asap?
Kelompok yang paling rentan adalah anak-anak, ibu hamil, dan lansia. Anak-anak memiliki risiko 10 kali lebih besar mengalami gangguan paru-paru akibat partikulat karhutla dibandingkan dengan polusi udara perkotaan biasa.
Apa kendala utama dalam penanganan bencana asap ini?
Kendala utama meliputi kurangnya bantuan medis seperti oksigen dan masker di tingkat desa, minimnya rumah aman asap, serta strategi pemadaman yang dinilai kurang efektif dan tidak melibatkan personel yang terlatih secara khusus untuk menangani lahan gambut.
Ringkasan
Lonjakan kasus ISPA di Kalimantan terjadi akibat paparan kabut asap karhutla yang memburuk, dengan 72.431 kasus tercatat di Kalimantan Tengah. Partikulat dari lahan gambut sangat berbahaya bagi anak-anak, lansia, dan ibu hamil, sementara ketersediaan bantuan medis serta fasilitas rumah aman masih minim.






