Karhutla di Kalsel ganggu habitat bekantan (ANTARA-HO/MC-Diskominfokalsel).
Redaksiku.com – Kebakaran hutan dan lahan yang melanda Kalimantan Selatan kembali membawa dampak serius, kali ini mengancam kelangsungan hidup populasi bekantan di habitat alami mereka. Ancaman ini tidak serta-merta berakhir ketika kobaran api berhasil dipadamkan, mengingat kerusakan ekosistem memerlukan proses pemulihan yang sangat panjang.
Ancaman Nyata bagi Vegetasi dan Jalur Migrasi Satwa
Founder Sahabat Bekantan Indonesia sekaligus akademisi Biologi Konservasi Universitas Lambung Mangkurat, Amalia Rezeki, menjelaskan bahwa primata endemik ini sangat bergantung pada ekosistem tepian sungai dan kawasan lahan basah. Ketika karhutla terjadi, kerusakan tidak hanya menimpa pepohonan tetapi juga merusak rantai makanan secara keseluruhan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Gangguan lingkungan tersebut biasanya memicu berbagai dampak ikutan yang kompleks bagi satwa liar:
- Penurunan kualitas udara akibat asap tebal yang mengganggu sistem pernapasan satwa.
- Kerusakan tutupan pohon yang berfungsi sebagai tempat berlindung dan beristirahat.
- Penyusutan drastis ketersediaan pakan alami di sepanjang jalur jelajah kelompok bekantan.
- Perubahan pola perilaku harian serta dorongan untuk melakukan migrasi paksa.
Perpindahan kelompok bekantan ke kawasan baru sering kali memicu risiko tambahan akibat kedekatan dengan aktivitas manusia.
Pemantauan Pascakeakaran dan Kondisi Populasi di Lapangan
Proses pemulihan pascakarhutla menuntut perhatian khusus terhadap berbagai indikator ekologis di kawasan terdampak. Para ahli menekankan pentingnya evaluasi berkelanjutan agar upaya konservasi tidak berhenti sekadar pada pemadaman api di lapangan.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan sebelumnya mencatat laporan kematian 12 bekantan akibat karhutla di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Lokasi kejadian tersebut berada di areal penggunaan lain yang merupakan tanah milik desa, di luar kawasan konservasi resmi.
Populasi bekantan di Kalimantan Selatan pada tahun 2025 diperkirakan mencapai sekitar 3.700 individu yang tersebar di dalam maupun di luar kawasan konservasi.
Tantangan Pengelolaan Habitat di Luar Kawasan Konservasi
Sebagian besar populasi bekantan di Kalimantan Selatan ternyata hidup di luar kawasan konservasi yang ketat, termasuk di area hutan produksi dan lahan milik warga. Kondisi ini membuat upaya perlindungan satwa membutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat setempat.
“Dalam konservasi, kita tidak boleh hanya mengukur keberhasilan dari berhasil atau tidaknya memadamkan api. Kita juga harus melihat apakah habitatnya masih mampu mendukung kehidupan bekantan setelah kebakaran terjadi,”
— Amalia Rezeki
Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak menjadi salah satu contoh lokasi yang terus dipantau secara intensif untuk mengukur daya dukung lingkungan. Pengamatan berkala ini krusial guna memastikan ketersediaan pakan serta stabilitas ekosistem bagi kelompok bekantan yang bertahan hidup di area rawan.
Pertanyaan Umum
Bagaimana karhutla memengaruhi kelangsungan hidup bekantan di Kalimantan Selatan?
Kebakaran merusak vegetasi tepian sungai yang menjadi sumber pakan utama, menurunkan kualitas udara, serta memaksa kelompok bekantan berpindah mencari habitat baru yang lebih aman.
Di mana lokasi terdampak parah yang telah dilaporkan oleh pihak berwenang?
BKSDA Kalimantan Selatan mencatat adanya laporan 12 bekantan yang mati akibat karhutla di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
Berapa estimasi jumlah populasi bekantan di wilayah Kalimantan Selatan?
Berdasarkan pendataan, populasi bekantan di provinsi ini pada tahun 2025 diperkirakan mencapai sekitar 3.700 individu, di mana sebagian besar hidup di luar kawasan konservasi resmi.
Ringkasan
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan menimbulkan ancaman serius bagi kelangsungan hidup bekantan, dengan BKSDA Kalsel melaporkan kematian 12 ekor primata endemik tersebut akibat kebakaran di Desa Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Berdasarkan estimasi tahun 2025, total populasi bekantan di provinsi ini mencapai sekitar 3.700 individu yang tersebar di dalam maupun di luar kawasan konservasi.
Menurut Amalia Rezeki, selaku Founder Sahabat Bekantan Indonesia sekaligus akademisi Biologi Konservasi Universitas Lambung Mangkurat, dampak karhutla tidak berhenti pada pemadaman api saja, melainkan merusak ekosistem lahan basah yang menjadi jalur migrasi dan sumber pakan utama satwa. Kerusakan vegetasi ini memicu penurunan kualitas udara, penyusutan pakan alami, serta migrasi paksa bekantan ke kawasan baru yang meningkatkan risiko konflik dengan aktivitas manusia.












