Redaksiku.com – Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di kawasan Gunung Wilis, Jawa Timur, masih terus berlanjut di tengah tantangan medan alam yang ekstrem. Hingga akhir pekan ini, petugas gabungan di lapangan harus berpacu dengan waktu serta kondisi topografi yang terjal untuk melokalisir titik api yang tersisa di area puncak.
Kronologi dan Lokasi Terdampak Karhutla
Insiden kebakaran di kawasan hutan lindung ini terpantau sejak pertengahan pekan lalu dan langsung mendapat respons cepat dari otoritas setempat. Berdasarkan data resmi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana, peristiwa tersebut telah terpantau sejak beberapa hari sebelum penanganan intensif diperluas.
Area yang mengalami kebakaran cukup masif mencakup wilayah administratif Kabupaten Nganjuk dan sekitarnya. Sebaran titik api teridentifikasi di beberapa titik krusial:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
- Petak 24 yang masuk dalam wilayah RPH Gedangklutuk.
- Kawasan BKPH Pace di bawah pengelolaan KPH Kediri.
- Titik awal kejadian yang terpantau sejak hari Rabu tanggal 16 September 2026.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menjelaskan bahwa sebagian kecil dari total area yang terdampak telah berhasil dijinakkan oleh tim di lapangan. Namun, tantangan terbesar saat ini terkonsentrasi di bagian puncak yang sulit dijangkau kaki manusia maupun kendaraan taktis konvensional.
Kendala Medan Curam dan Strategi Penanganan
Petugas gabungan dari unsur Badan Penanggulangan Bencana Daerah, TNI, Polri, masyarakat peduli api, serta instansi kehutanan menghadapi hambatan geografis yang signifikan. Lereng yang terjal dan curam di jalur pendakian menuju puncak membuat personel pemadam kesulitan membawa peralatan berat secara manual.
Untuk mengatasi keterbatasan akses tersebut, tim mitigasi bencana menerapkan sejumlah metode taktis guna mencegah api merembet ke vegetasi yang lebih luas. Berbagai pendekatan teknis dikerahkan secara simultan:
- Pembuatan sekat bakar atau ilaran untuk memutus jalur rambatan api di atas tanah.
- Pengerahan drone penyemprot khusus milik Dinas Pertanian guna menjangkau kantong-kantong api.
- Pendinginan bertahap pada sektor lahan yang medannya relatif lebih aman untuk dilalui petugas.
Tim gabungan diperkirakan telah berhasil mengendalikan dan memadamkan api di sekitar dua hektare lahan terdampak karhutla.
Meskipun sebagian titik api di area bawah seperti Petak 47B RPH Kare telah dinyatakan padam sepenuhnya pada Jumat lalu, ancaman dari sisa bara di puncak masih memerlukan pengawasan ketat. Petugas tetapi siaga di posko darurat untuk mengantisipasi perubahan arah angin yang dapat memperluas cakupan area terbakar.
Imbauan Kewaspadaan Selama Musim Kemarau
Pihak berwenang terus menyerukan peningkatan kewaspadaan kolektif menyusul masih berlangsungnya fase musim kemarau di berbagai wilayah Indonesia. Kondisi cuaca yang kering dan tiupan angin kencang sangat berisiko memicu kemunculan titik api baru akibat kelalaian manusia.
Masyarakat yang beraktivitas di sekitar kawasan hutan diimbau untuk tidak melakukan tindakan ceroboh seperti membuang puntung rokok sembarangan atau meninggalkan sisa pembakaran yang belum padam total. Pembukaan lahan pertanian dengan cara membakar juga dilarang keras karena dampaknya yang merusak ekosistem dan berpotensi memicu bencana ekologis yang lebih besar.
Setiap warga yang berada di sekitar kawasan hutan diminta segera melapor kepada aparat terdekat apabila melihat tanda-tanda kemunculan asap atau titik api baru.
Pertanyaan Umum
Kapan kebakaran hutan di Gunung Wilis mulai terdeteksi?
Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Wilis mulai terpantau sejak hari Rabu, 16 September 2026, dan penanganannya masih berlangsung hingga saat ini.
Apa kendala utama yang dihadapi petugas dalam memadamkan api?
Kendala utama yang dihadapi oleh tim gabungan adalah kondisi medan di kawasan puncak gunung yang sangat curam serta sulit dijangkau secara langsung.
Bagaimana upaya yang dilakukan oleh tim gabungan di lapangan?
Petugas membuat sekat bakar atau ilaran di sekitar lokasi, menerjunkan drone penyemprot milik Dinas Pertanian, serta melakukan pendinginan di area yang terjangkau.
Ringkasan
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Wilis, Jawa Timur, yang terpantau sejak Rabu, 16 September 2026, masih belum sepenuhnya padam akibat terkendala medan puncak yang sangat curam dan sulit dijangkau. Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyatakan bahwa petugas gabungan dari unsur BPBD, TNI, Polri, serta instansi terkait terus berpacu dengan waktu untuk melokalisir titik api yang mencakup wilayah Kabupaten Nganjuk, termasuk RPH Gedangklutuk dan BKPH Pace di bawah KPH Kediri.
Untuk mengatasi hambatan geografis tersebut, tim mitigasi bencana mengerahkan berbagai strategi taktis, mulai dari pembuatan sekat bakar atau ilaran dan pendinginan bertahap hingga pengerahan drone penyemprot khusus milik Dinas Pertanian guna menjangkau kantong-kantong api. Meskipun sebagian area seluas sekitar dua hektare serta titik api di Petak 47B RPH Kare telah berhasil dikendalikan, petugas tetap siaga di posko darurat guna mengantisipasi sisa bara di puncak dan potensi perubahan arah angin.
Otoritas berwenang terus mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau dengan tidak membuang puntung rokok sembarangan, meninggalkan sisa pembakaran, ataupun membuka lahan dengan cara membakar. Warga juga diminta untuk segera melapor kepada aparat terdekat apabila mendapati tanda-tanda kemunculan asap atau titik api baru guna mencegah terjadinya kerusakan ekosistem yang lebih luas.






