Redaksiku.com – Dunia maya kembali dihebohkan oleh tindakan tidak terpuji yang dilakukan oleh seorang pegawai Satuan Pelayanan Program Gizi di Bantul, Yogyakarta. Alih-alih menunjukkan rasa empati terhadap masyarakat, oknum pegawai tersebut justru membuat lelucon yang menargetkan anak-anak korban keracunan makanan di Sumatera Utara.
Perilaku ini memicu gelombang kecaman dari berbagai pihak, termasuk dari lembaga tempat ia bekerja sendiri. Kasus ini sekaligus membuka diskusi luas mengenai pentingnya kesadaran moral dan etika komunikasi digital bagi para pelayan publik yang terlibat langsung dalam program kesejahteraan masyarakat.
Kronologi Aksi Ejekan di Media Sosial
Video kontroversial tersebut memperlihatkan seorang pegawai SPPG bernama Gerard Permana yang sedang menikmati makanan sambil melontarkan kalimat bernada menyindir. Dengan gaya yang terkesan meremehkan, ia memakan potongan daging ayam sisa kemarin di hadapan kamera.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sesaat setelah menyantap makanan tersebut, ia bersandiwara seolah-olah mengalami gangguan kesehatan pada memorinya. Perilaku ini secara transparan mengarah pada kondisi yang dialami oleh seorang siswi korban keracunan program makan bergizi gratis di Brastagi.
Berikut adalah beberapa poin utama terkait insiden video kontroversial tersebut:
- Pelaku menggunakan potongan daging ayam untuk membuat lelucon di media sosial.
- Ia secara sengaja mempraktikkan adegan kehilangan ingatan sesaat setelah makan.
- Video tersebut diunggah di tengah sorotan publik terhadap kasus keracunan massal di Sumatera Utara.
Pernyataan di dalam video itu langsung dihubungkan oleh warganet dengan insiden yang menimpa Febiona Purba. Siswi asal SMK Bersama Brastagi tersebut sebelumnya dilaporkan mengalami trauma serta penurunan daya ingat hingga tujuh puluh persen akibat insiden keracunan.
Kasus keracunan di Brastagi sebelumnya sempat menarik perhatian khusus dari jajaran pemerintahan pusat hingga tingkat kementerian.
Respons Tegas dari Badan Gizi Nasional
Menanggapi beredarnya video yang meresahkan tersebut, pihak Regional Badan Gizi Nasional Yogyakarta langsung angkat bicara. Mereka menyampaikan rasa prihatin yang mendalam serta menyayangkan sikap pegawainya yang dinilai melanggar prinsip kemanusiaan.
Wirandita Gagat Widyatmoko selaku perwakilan BGN wilayah setempat menegaskan bahwa setiap staf yang bekerja dalam ekosistem pelayanan publik harus memiliki sensitivitas tinggi. Bencana atau musibah yang menimpa penerima manfaat tidak boleh dijadikan bahan candaan dalam bentuk apa pun.
Dalam situasi darurat atau pascakecelakaan pangan, respons utama yang harus ditunjukkan adalah kepedulian sosial. Hal ini penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap program-program pemerintah yang sedang berjalan di berbagai daerah.
Dampak dari insiden keracunan di Brastagi sempat membuat korban harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit rujukan utama di Jakarta atas perhatian khusus pejabat tinggi negara.
Permintaan Maaf dan Sanksi yang Disorot Publik
Akibat tekanan publik yang semakin besar di media sosial, Gerard Permana akhirnya dipanggil untuk menjalani pemeriksaan oleh pihak berwenang di lingkungan Badan Gizi Nasional. Menyusul pemeriksaan tersebut, ia merilis sebuah video baru yang berisi permohonan maaf terbuka kepada masyarakat.
Dalam video klarifikasinya, ia mengaku tidak memiliki niat buruk untuk menyindir para korban yang terdampak program makan bergizi gratis. Kendati demikian, respons dari korban dan keluarga di Brastagi telanjur diliputi rasa kecewa yang mendalam.
Kekecewaan masyarakat semakin bertambah setelah mengetahui bahwa insiden tersebut tidak diikuti dengan penjatuhan sanksi yang tegas dari instansi terkait. Situasi ini memicu perdebatan panjang mengenai standar penegakan disiplin bagi pegawai yang mencoreng nama baik institusi pelayanan masyarakat.
Pertanyaan Umum
Siapa yang membuat video kontroversial terkait korban makanan bergizi?
Video tersebut dibuat oleh Gerard Permana, seorang pegawai Satuan Pelayanan Program Gizi di Bantul, Yogyakarta.
Apa kaitan video tersebut dengan kejadian di Brastagi?
Video itu menyindir pernyataan tentang korban keracunan makanan di Brastagi yang sempat mengalami penurunan daya ingat hingga tujuh puluh persen.
Bagaimana tanggapan resmi dari Badan Gizi Nasional?
Pihak BGN menyampaikan rasa prihatin, menyayangkan tindakan tidak berempati tersebut, dan telah memanggil yang bersangkutan untuk dimintai keterangan.
Ringkasan
Artikel ini membahas kasus kontroversial yang melibatkan Gerard Permana, seorang pegawai Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) di Bantul, Yogyakarta, yang membuat lelucon di media sosial untuk mengejek Febiona Purba, siswi SMK Bersama Brastagi, Sumatera Utara, yang mengalami penurunan daya ingat akibat keracunan program makan bergizi gratis.
Akibat tindakan yang dinilai tidak berempati dan melanggar prinsip kemanusiaan ini, Badan Gizi Nasional (BGN) wilayah Yogyakarta melalui perwakilannya, Wirandita Gagat Widyatmoko, menyampaikan keprihatinan mendalam serta memanggil pelaku untuk diperiksa.
Meskipun Gerard Permana telah merilis video permohonan maaf terbuka dan mengaku tidak berniat buruk, publik tetap melayangkan kecaman luas serta menyoroti perlunya penegakan sanksi yang tegas demi menjaga kepercayaan masyarakat terhadap institusi pelayanan publik.












