Redaksiku.com – Kebakaran hutan dan lahan yang melanda wilayah Kalimantan Barat telah mencapai titik kritis, mengancam kelangsungan hidup populasi orangutan yang habitatnya terus tergerus. Fenomena ini memaksa satwa primata yang dilindungi tersebut keluar dari hutan untuk mencari perlindungan, yang kemudian memicu konflik berkepanjangan dengan masyarakat lokal.
Dampak Langsung Karhutla terhadap Satwa Liar
Kondisi di lapangan saat ini sangat memprihatinkan, terutama bagi keberlangsungan hidup orangutan di Kabupaten Ketapang. Berdasarkan data terbaru, tim penyelamat harus bekerja ekstra keras untuk mengevakuasi individu-individu yang terjebak dalam kepungan asap dan api.
Argitoe Ranting, Direktur Operasional Program Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (Yiari), mengungkapkan bahwa eskalasi kebakaran terjadi begitu cepat. Dalam kurun waktu kurang dari satu bulan, pihaknya terpaksa mengevakuasi sembilan ekor orangutan yang kehilangan akses terhadap sumber pakan dan tempat tinggal akibat hutan yang terbakar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Total satwa yang berhasil diselamatkan oleh tim gabungan BKSDA Kalbar dan Yiari mencapai 23 ekor orangutan serta berbagai jenis satwa liar lainnya yang terancam punah.
Selain orangutan, tim penyelamat juga telah mengevakuasi sejumlah satwa lain yang terdampak, di antaranya:
- Sembilan ekor trenggiling yang habitatnya ikut terancam oleh api.
- Tiga ekor kukang yang ditemukan dalam kondisi stres di area berdekatan dengan lahan terbakar.
- Satu ekor bekantan, satu ekor musang, dan satu ekor lutung kelabu.
Siklus Konflik Antara Manusia dan Satwa
Praktik pembukaan lahan dengan cara membakar yang tidak terkendali menjadi akar masalah utama yang menciptakan siklus kerugian bagi semua pihak. Ketika hutan terbakar, orangutan kehilangan ruang jelajah alaminya, sehingga mereka terpaksa masuk ke area kebun warga untuk bertahan hidup.
Kondisi ini menciptakan dilema karena baik orangutan maupun masyarakat lokal sama-sama menjadi korban dari praktik pembukaan lahan yang merusak ekosistem hutan gambut.
Silverius Oscar Unggul, Ketua Umum Yiari, menekankan bahwa dampak dari kebakaran ini melampaui kerusakan lingkungan semata. Masyarakat lokal mengalami kerugian ekonomi yang nyata akibat tanaman kebun mereka yang rusak, sementara rasa takut akan kehadiran satwa liar di pemukiman pun meningkat drastis.
“Pembukaan lahan dengan cara membakar dan tidak terkendali memicu kebakaran yang merusak habitat orangutan.”
— Silverius Oscar Unggul
Tanggung Jawab Pemulihan dan Mitigasi
Penanganan dampak karhutla kini menjadi beban berat bagi negara, yang mencakup upaya pemadaman api, pemantauan lapangan, hingga proses translokasi satwa. Pemerintah melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat terus berkoordinasi dengan lembaga konservasi untuk melakukan mitigasi lebih lanjut.
Tim medis dari berbagai pihak telah disiagakan selama 24 jam untuk memantau kesehatan satwa yang berhasil dievakuasi. Langkah ini dilakukan sebagai upaya pemulihan sebelum satwa-satwa tersebut nantinya dikembalikan ke habitat yang lebih aman dan jauh dari jangkauan api.
Masyarakat diimbau untuk segera melaporkan kepada otoritas terkait jika melihat satwa liar yang tampak kebingungan atau terdampar di area kebun guna meminimalisir potensi konflik fisik.
Penting untuk dipahami bahwa upaya translokasi satwa liar hanya dilakukan sebagai langkah terakhir ketika habitat asli mereka sudah benar-benar tidak memungkinkan untuk ditinggali akibat bencana karhutla.
Pertanyaan Umum
Apa penyebab utama orangutan masuk ke permukiman warga?
Orangutan terpaksa masuk ke kebun atau permukiman warga karena habitat hutan mereka di Kalimantan Barat telah rusak atau terfragmentasi akibat kebakaran hutan dan lahan yang masif.
Langkah apa yang diambil pemerintah untuk menangani satwa terdampak?
BKSDA Kalimantan Barat bekerja sama dengan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (Yiari) melakukan evakuasi, pemantauan satwa di lokasi terdampak, serta menyiagakan tim medis selama 24 jam untuk memulihkan kondisi satwa yang diselamatkan.
Selain orangutan, satwa apa saja yang terdampak kebakaran?
Selain orangutan, tim penyelamat juga mengevakuasi trenggiling, kukang, bekantan, musang, dan lutung kelabu yang terancam oleh kepungan api di area lahan gambut.
Ringkasan
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, telah memaksa tim gabungan BKSDA Kalbar dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (Yiari) melakukan evakuasi darurat terhadap 23 orangutan serta sejumlah satwa liar lainnya. Menurut Argitoe Ranting, Direktur Operasional Yiari, sebanyak sembilan orangutan berhasil diselamatkan dalam kurun waktu kurang dari satu bulan akibat kehilangan sumber pakan dan tempat tinggal karena kepungan asap dan api.
Kerusakan ekosistem ini memicu konflik antara satwa dan masyarakat lokal, di mana orangutan terpaksa memasuki area kebun warga untuk bertahan hidup. Ketua Umum Yiari, Silverius Oscar Unggul, menegaskan bahwa praktik pembukaan lahan dengan cara membakar yang tidak terkendali menjadi akar masalah yang merugikan lingkungan sekaligus ekonomi masyarakat. Saat ini, otoritas terkait telah menyiagakan tim medis selama 24 jam untuk memulihkan satwa yang dievakuasi sebelum nantinya ditranslokasi ke habitat yang lebih aman.






