Redaksiku.com – Sebuah kota kecil di Jawa Barat menjadi sorotan nasional setelah memulai uji coba kendaraan umum listrik tanpa pengemudi pertama di Indonesia.
Pemerintah Kabupaten Subang, bekerja sama dengan sebuah startup teknologi transportasi, mengoperasikan dua unit kendaraan otonom di kawasan percontohan pusat kota sejak awal Juni 2025.
Langkah ini merupakan bagian dari program Subang Smart Mobility yang diluncurkan awal tahun ini, bertujuan mengurangi polusi, meningkatkan efisiensi transportasi publik, serta membuka peluang baru bagi pengembangan kota pintar di wilayah non-metropolitan.
Ini bukan hanya uji coba teknologi, tapi langkah konkret menuju sistem transportasi yang lebih bersih, lebih aman, dan lebih efisien, ujar Bupati Subang, H. Dadang Suhendar, saat ditemui di lokasi peluncuran kendaraan otonom pada Senin (9/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kendaraan Listrik Tanpa Pengemudi Pertama di Kota Kecil
Dua unit kendaraan otonom yang diuji coba berbentuk mini-van berkapasitas 8 penumpang. Mobil ini menggunakan tenaga listrik penuh dan dikendalikan oleh sistem kecerdasan buatan (AI) yang tertanam di dalamnya. Tidak ada sopir, setir, atau pedal gas. Penumpang cukup menekan tombol panel digital untuk memilih tujuan.
Rute awal kendaraan ini meliputi area sepanjang 3,2 kilometer yang mencakup Kantor Bupati Subang, Alun-Alun Subang, Rumah Sakit Umum Daerah, serta kampus Politeknik Negeri Subang. Uji coba akan berlangsung selama 60 hari ke depan, dengan pengawasan teknis dari tim gabungan dinas perhubungan dan mitra teknologi PT Mobilku AI.
Kami memasang berbagai sensor dan kamera LIDAR di setiap kendaraan, yang mampu mengenali rambu, pejalan kaki, dan kendaraan lain dalam radius 360 derajat, jelas Arman Putra, CTO PT Mobilku AI, saat konferensi pers di Balai Kota Subang.

Antusiasme dan Kekhawatiran Warga
Peluncuran kendaraan otonom ini mengundang rasa penasaran warga. Sejak hari pertama uji coba, puluhan orang antre untuk mencoba naik kendaraan tanpa sopir tersebut. Meski demikian, tidak sedikit warga yang merasa canggung atau bahkan khawatir.
Awalnya saya takut, soalnya tidak ada sopir. Tapi tadi sudah naik dua kali, ternyata halus jalannya, ujar Rika Nurhayati (34), warga Kelurahan Karanganyar.
Sementara itu, beberapa pengemudi angkot menyuarakan keresahan mereka atas potensi hilangnya mata pencaharian jika kendaraan ini menjadi moda utama di masa depan.
Kami mendukung kemajuan teknologi, tapi tolong jangan lupakan kami sopir angkot. Kami juga perlu makan, kata Dedi (46), salah satu pengemudi angkot trayek TanjungwangiSubang Kota.
Pemerintah kabupaten memastikan bahwa program kendaraan otonom ini tidak dimaksudkan menggantikan sepenuhnya angkot konvensional, melainkan menjadi pelengkap di wilayah layanan publik tertentu, seperti rumah sakit, sekolah, dan kantor pemerintahan.
Kolaborasi Pemerintah dan Startup Lokal
Menurut data dari Dinas Perhubungan Subang, proyek ini didanai melalui skema kolaborasi pemerintah daerah dengan investor swasta, dengan total nilai investasi mencapai Rp 8,5 miliar untuk fase pertama.
Startup lokal PT Mobilku AI, yang sebelumnya dikenal lewat proyek mobil swakemudi di kampus ITB Bandung, dipercaya sebagai mitra utama. Perusahaan ini memasok teknologi kendaraan, sistem navigasi, serta tim teknis.
Kami ingin membuktikan bahwa kendaraan otonom tidak harus dimulai dari kota besar seperti Jakarta atau Bandung. Kota kecil pun bisa jadi pelopor, ujar CEO Mobilku AI, Livia Santoso, yang juga lulusan teknik elektro ITB.
Selain uji coba teknis, Mobilku AI juga menyediakan pelatihan literasi teknologi transportasi bagi pelajar SMK dan mahasiswa di Subang, agar masyarakat lokal ikut terlibat dalam ekosistem inovasi.
Tantangan di Lapangan
Selama lima hari pertama uji coba, tercatat dua insiden kecil yang terjadi, yaitu pengereman mendadak saat seekor kucing menyeberang jalan, dan sistem yang salah membaca genangan air sebagai hambatan padat. Meski tidak ada korban atau kerusakan, tim teknis melakukan penyesuaian algoritma secara langsung.
Ini wajar dalam fase uji coba. Tujuannya memang untuk mengetahui batas toleransi sistem dalam kondisi dunia nyata, kata Arman Putra.
Kendaraan juga hanya beroperasi maksimal 25 km/jam dan tetap diawasi oleh petugas darat melalui sistem kendali jarak jauh. Jika terjadi kendala teknis, petugas dapat menghentikan kendaraan secara manual melalui sistem override.
Menuju Transportasi Masa Depan?
Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyatakan dukungannya terhadap langkah Subang dan menyebutnya sebagai model percontohan yang bisa diterapkan di kota lain seperti Majalengka dan Cirebon.
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dalam keterangannya kepada media menyebut proyek ini sebagai tonggak sejarah transportasi cerdas di daerah.
Sementara itu, Kementerian Perhubungan RI menyatakan akan memantau perkembangan uji coba di Subang sebagai referensi untuk menyusun regulasi nasional kendaraan otonom.
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Redaksiku
Halaman : 1 2 Selanjutnya






