Jenazah PMI asal Banyuwangi yang meninggal dunia di Kamboja akhirnya tiba di rumah duka.
Perjuangan panjang pemulangannya menimbulkan rasa haru dan duka mendalam bagi keluarga dan warga sekitar.
Kisah ini menjadi potret nyata risiko besar yang dihadapi pekerja migran, terutama yang berangkat secara nonprosedural.
Pemulangan Jenazah PMI Disambut Isak Tangis dan Duka

Jenazah PMI bernama Rizal Sampurna akhirnya dipulangkan ke kampung halamannya di Lingkungan Sukowidi, Kelurahan Klatak, Banyuwangi, pada Senin (12/5/2025) dini hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kedatangan jenazah disambut isak tangis dari keluarga yang sudah lebih dari sebulan menunggu kepastian.
Sejak menerima kabar duka pada awal April, keluarga belum melihat langsung kondisi jenazah Rizal hingga ia tiba dalam peti.
Jenazah PMI itu diantar oleh perwakilan dari Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Pemkab Banyuwangi, dan aktivis pekerja migran.
Rombongan jenazah tiba sekitar pukul 03.00 WIB dan langsung disambut pelukan dan air mata oleh keluarga besar serta warga setempat.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, turut hadir dan menyampaikan belasungkawa secara langsung kepada pihak keluarga.
Proses Panjang Pemulangan Jenazah PMI dari Kamboja
Rizal diketahui berangkat ke Kamboja secara nonprosedural, tanpa melalui jalur resmi pemerintah.
Hal inilah yang membuat keberadaannya sulit dilacak saat pertama kali dikabarkan meninggal dunia.
Jenazah PMI ini diduga menjadi korban tindak pidana perdagangan orang setelah bekerja sebagai operator judi online.
Selama proses pencarian dan pemulangan, Pemkab Banyuwangi aktif berkoordinasi dengan P2MI dan KBRI Phnom Penh.
Pada awalnya, biaya pemulangan jenazah PMI ini akan ditanggung sepenuhnya oleh Pemkab Banyuwangi.
Namun, lewat kerja diplomatik dari pihak KBRI, perusahaan tempat Rizal bekerja akhirnya diminta bertanggung jawab.
Perusahaan tersebut bersedia menanggung seluruh biaya pemulangan dari Phnom Penh ke Jakarta.
Selanjutnya, jenazah dipindahkan dari Jakarta menuju Bandara Juanda, lalu diteruskan ke Banyuwangi dengan bantuan penuh dari pemerintah daerah.
Setibanya di rumah duka, jenazah PMI langsung disemayamkan dan diberi kesempatan bagi keluarga untuk melihat terakhir kalinya.
Ibunda Rizal, Sulastri, tak kuasa menahan air mata saat menyaksikan wajah anaknya di dalam peti.
Ia menyatakan rasa syukur meskipun dalam keadaan duka, karena jenazah sang anak bisa pulang ke tanah kelahiran.
Sekitar pukul 08.00 WIB, jenazah Rizal dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum RW 1 Lingkungan Sukowidi.
Prosesi pemakaman berlangsung khidmat, dihadiri keluarga, tetangga, dan warga yang ikut merasakan kesedihan mendalam.
Jenazah PMI ini menjadi simbol perjuangan dan pengorbanan para pekerja migran yang kerap tak terlihat oleh mata publik.
Peringatan Keras dari Pemerintah Soal Kasus Jenazah PMI
Bupati Ipuk Fiestiandani berharap peristiwa menyedihkan seperti ini menjadi yang terakhir.
Ia menegaskan pentingnya memilih jalur resmi saat bekerja ke luar negeri agar perlindungan hukum tetap bisa diberikan.
Kami berharap masyarakat tidak tergiur bujuk rayu dan lebih berhati-hati dalam mencari pekerjaan di luar negeri, kata Ipuk.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada KBRI Phnom Penh, P2MI, dan semua pihak yang telah membantu proses pemulangan jenazah PMI.
Sementara itu, pihak keluarga menyampaikan bahwa mereka telah mengikhlaskan kepergian Rizal.
Namun mereka juga berharap kejadian serupa tidak menimpa orang lain dan ada langkah nyata dari pemerintah untuk mencegahnya.
Kasus jenazah PMI ini membuka mata banyak pihak tentang bahaya berangkat kerja ke luar negeri secara ilegal.
Meski iming-iming gaji besar seringkali menggiurkan, risiko menjadi korban penipuan hingga perdagangan orang jauh lebih besar.
Pemerintah harus lebih gencar memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya prosedur resmi.
Selain itu, perlindungan terhadap PMI juga harus ditingkatkan, khususnya dalam pengawasan perusahaan perekrut.
Tragedi yang menimpa Rizal bukan hanya soal satu orang, tetapi cermin dari sistem migrasi tenaga kerja yang masih menyimpan celah.
Dengan adanya kasus ini, semoga tidak ada lagi jenazah PMI lain yang harus dipulangkan dari luar negeri dalam kondisi menyedihkan.
Masyarakat dan pemerintah perlu bergandengan tangan untuk mencegah jatuhnya korban berikutnya.
Kisah pilu jenazah PMI ini menjadi pengingat keras akan pentingnya literasi migrasi bagi masyarakat di daerah.
Setiap keberangkatan harus diawali dengan pengetahuan yang cukup agar tidak berakhir dalam duka yang menyayat.***
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest






