Redaksiku.com – Imran Tabri menatap tajam ke arah laut lepas menjelang senja pada Senin, 27 Juli 2026, ketika gelombang tinggi masih menghantui pesisir Pantai Maurongga, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Sebagian besar nelayan di pesisir pantai selatan Pulau Flores ini terpaksa menghentikan aktivitas melaut mereka akibat cuaca ekstrem yang membuat air laut menjadi keruh.
Kondisi perairan yang kurang bersahabat tersebut tidak hanya menyulitkan pencarian hasil tangkapan utama, tetapi juga memaksa para pencari gurita lokal untuk mencari sumber penghasilan alternatif. Perahu-perahu tradisional terpaksa ditarik jauh ke daratan agar tidak rusak dihantam ombak besar yang terus menerjang garis pantai.
Dinamika Tangkapan Gurita di Pantai Maurongga
Sebagai salah satu nelayan yang telah menekuni profesi ini sejak 2015, Imran memahami betul karakter perairan di wilayah tersebut. Keahlian memancing gurita ia peroleh semasa tinggal di kawasan pantai selatan Kota Ende, sebelum akhirnya menetap dan membawa keterampilan itu ke Desa Maurongga setelah menikah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Potensi sumber daya kelautan di wilayah ini tergolong sangat besar, mengingat dulunya belum banyak warga lokal yang memanfaatkan komoditas tersebut secara optimal. Gurita hasil tangkapan biasanya dipasarkan langsung kepada para pengepul atau dijual secara eceran kepada pengendara yang melintas di pinggir jalan dengan kisaran harga yang bervariasi.
Satu ekor gurita ukuran standar biasanya dihargai antara Rp15.000 hingga Rp20.000 oleh para nelayan di tingkat lokal.
Aktivitas Alternatif Saat Musim Gelombang Tinggi
Ketika aktivitas penangkapan ikan dan gurita lumpuh total akibat cuaca buruk, denyut ekonomi keluarga nelayan tetap harus berjalan. Perempuan dan anak-anak di desa pesisir tersebut mengambil alih peran ekonomi dengan memanfaatkan material alam yang ada di sepanjang garis pantai.
Mereka disibukkan dengan kegiatan mengumpulkan bebatuan ceper berwarna hijau yang banyak ditemukan di pesisir pantai untuk dijual kembali. Batu-batu tersebut kemudian dikemas secara teliti ke dalam karung sebelum diangkut dan ditumpuk di dekat pohon kelapa.
- Warga mengumpulkan batu ceper berwarna hijau tua yang banyak terdapat di pesisir pantai Maurongga.
- Batu-batu tersebut dimasukkan ke dalam karung berukuran 25 kilogram untuk memudahkan proses pengangkutan.
- Hasil jerih payah ini dijual seharga Rp20.000 per karung sebagai tambahan penghasilan dapur keluarga.
Komoditas batu hijau dari pesisir Ende ini ternyata memiliki pasar tersendiri di luar daerah karena keunikan warnanya. Imran menjelaskan bahwa wilayah sebelah timur bahkan memiliki variasi warna hijau yang jauh lebih terang dan banyak dicari oleh pembeli dari luar wilayah kabupaten.
Pertanyaan Umum
Mengapa nelayan di Pantai Maurongga tidak melaut?
Nelayan terpaksa menghentikan aktivitas melaut karena terjangan gelombang tinggi yang membuat air laut menjadi keruh dan membahayakan keselamatan pelayaran tradisional.
Bagaimana cara warga bertahan hidup saat cuaca buruk?
Untuk menyambung hidup saat tidak bisa mencari gurita, perempuan dan anak-anak nelayan mengumpulkan batu ceper hijau di pantai untuk dijual seharga Rp20.000 per karung.
Berapa harga jual gurita di tingkat nelayan?
Gurita hasil tangkapan nelayan lokal di Maurongga umumnya dihargai antara Rp15.000 hingga Rp20.000 per ekor saat dijual ke pengepul atau pembeli langsung.
Ringkasan
Artikel ini melaporkan inisiatif para nelayan gurita di Pantai Maurongga, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, yang menghadapi tantangan cuaca ekstrem dan gelombang tinggi pada akhir Juli 2026. Imran Tabri, seorang nelayan berpengalaman sejak 2015, bersama warga setempat, terpaksa menghentikan aktivitas melaut karena kondisi perairan yang keruh dan berbahaya bagi perahu tradisional.
Di tengah lumpuhnya hasil tangkapan utama yang biasanya dihargai Rp15.000 hingga Rp20.000 per ekor, keluarga nelayan tetap bertahan hidup dengan mencari sumber penghasilan alternatif. Perempuan dan anak-anak di desa pesisir mengumpulkan serta mengemas batu ceper hijau khas pesisir pantai ke dalam karung berukuran 25 kilogram untuk dijual seharga Rp20.000 per karung kepada pembeli luar daerah.






