Redaksiku.com – Indonesia kini kembali menggenjot rencana pembangunan World Mangrove Center (WMC) sebagai pusat kolaborasi internasional untuk konservasi dan restorasi ekosistem pesisir. Langkah ini menjadi krusial mengingat Indonesia memegang kendali atas sekitar 3,4 juta hektar hutan mangrove, yang mencakup hampir seperempat dari total luas mangrove di seluruh dunia. Posisi geografis dan kekayaan biodiversitas ini menempatkan Indonesia di garda terdepan dalam agenda perlindungan ekosistem laut global.
Mangrove jauh melampaui sekadar deretan pepohonan di garis pantai. Secara ekologis, ia berfungsi sebagai benteng alami dalam meredam abrasi serta terjangan badai, sekaligus menjadi penyerap karbon biru yang sangat efektif. Selain itu, ekosistem ini menyediakan ruang hidup bagi berbagai spesies fauna dan menjadi tumpuan ekonomi bagi jutaan masyarakat pesisir yang menggantungkan hidupnya pada hasil laut.
Tantangan dalam Pengelolaan Ekosistem Pesisir
Dyan Murtiningsih, Direktur Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan Kementerian Kehutanan, menegaskan bahwa pengelolaan mangrove tidak bisa dilihat dari satu sisi saja. Ia menekankan adanya tiga dimensi yang harus berjalan beriringan, yakni sisi ekologi, sosial-ekonomi, dan kontribusi terhadap iklim global.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, di balik fungsinya yang vital, ekosistem mangrove di Indonesia dan dunia terus menghadapi ancaman nyata. Beberapa tekanan utama yang menghambat pemulihan mangrove meliputi:
- Perubahan fungsi lahan yang masif untuk kegiatan tambak, pemukiman, hingga industri.
- Pencemaran lingkungan dari limbah domestik maupun aktivitas industri di sekitar pesisir.
- Dampak krisis iklim yang memicu kenaikan permukaan air laut secara tidak menentu.
- Kapasitas kelembagaan di tingkat daerah yang belum merata dalam melakukan pemantauan dan rehabilitasi.
Keterbatasan sumber daya dan kompleksitas tantangan di lapangan membuat upaya pelestarian mangrove tidak bisa dilakukan oleh satu pihak secara parsial.
Menurut Dyan, kolaborasi menjadi kata kunci utama. Tidak ada satu negara, kementerian, atau organisasi tunggal yang memiliki kapasitas penuh untuk menyelesaikan persoalan kerusakan ekosistem pesisir yang begitu luas dan kompleks ini sendirian.
Jejak Diplomasi Mangrove Dunia
Keinginan Indonesia untuk menjadi pusat pembelajaran mangrove dunia bukanlah wacana baru. Perjalanan ini sudah dimulai sejak konferensi internasional mangrove di Bali pada tahun 2017. Pemerintah kemudian membawa gagasan tersebut ke forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan harapan dapat menyatukan standar perlindungan mangrove secara global.
Upaya diplomasi ini membuahkan hasil dengan lahirnya Resolusi Nomor 12 Tahun 2019 dalam forum UNEA-4 di Nairobi, Kenya. Resolusi tersebut kini menjadi panduan penting bagi negara-negara pemilik ekosistem mangrove di seluruh dunia untuk mengelola kawasan pesisir mereka dengan pendekatan yang lebih berkelanjutan dan berbasis sains.
Indonesia saat ini mengelola 3,4 juta hektar hutan mangrove, menjadikannya pemilik ekosistem mangrove terluas di dunia.
Konsep Operasional World Mangrove Center
Ketua Forum Daerah Aliran Sungai Nasional, Putera Parthama, menjelaskan bahwa World Mangrove Center tidak diproyeksikan sebagai lembaga birokrasi besar yang membutuhkan gedung perkantoran megah. Sebaliknya, WMC akan berfungsi sebagai simpul jaringan atau hub yang menghubungkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, akademisi, peneliti, pengusaha, hingga komunitas lokal.
Fungsi utama dari pusat ini nantinya akan mencakup beberapa aspek strategis, seperti:
- Melakukan riset kolaboratif untuk memperbarui data spasial mangrove di tingkat global.
- Menjadi platform pertukaran praktik terbaik bagi negara-negara yang memiliki ekosistem pesisir serupa.
- Melakukan penguatan kapasitas melalui pelatihan bagi pengelola hutan mangrove di berbagai negara.
- Mengembangkan standar internasional terkait verifikasi dan pengukuran potensi penyerapan karbon biru.
Keberhasilan WMC sangat bergantung pada skema pendanaan yang inovatif, salah satunya melalui pendekatan blended finance yang mengombinasikan dana pemerintah, investasi swasta, dan hibah internasional.
Para ahli kehutanan, termasuk Agus Justianto, menekankan bahwa keberlanjutan pendanaan adalah tulang punggung dari inisiatif ini. Skema pendanaan campuran diharapkan dapat menutupi kesenjangan biaya yang dibutuhkan untuk restorasi skala besar, mengingat biaya penanaman kembali mangrove seringkali jauh lebih tinggi daripada sekadar menjaga hutan yang sudah ada.
“Tidak ada satu negara, satu kementerian, atau satu organisasi pun yang bisa menyelesaikan persoalan ini sendirian.”
— Dyan Murtiningsih
Dengan adanya WMC, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pengelola hutan mangrove terbesar, tetapi juga pemimpin dalam inovasi kebijakan pesisir. Jika berjalan sesuai rencana, pusat ini akan menjadi rujukan utama dunia bagi siapapun yang ingin mempelajari cara menyeimbangkan kebutuhan ekonomi masyarakat dengan pelestarian ekosistem yang rapuh namun sangat berharga ini.
Pertanyaan Umum
Apa tujuan utama dari World Mangrove Center?
WMC bertujuan menjadi pusat kolaborasi global untuk riset, pertukaran praktik terbaik, dan pengembangan standar konservasi serta restorasi mangrove di seluruh dunia.
Mengapa Indonesia dianggap sangat penting dalam isu mangrove dunia?
Indonesia memiliki sekitar 3,4 juta hektar hutan mangrove, yang merupakan hampir 25 persen dari total luas mangrove di bumi, sehingga kebijakan Indonesia sangat memengaruhi stabilitas ekosistem pesisir global.
Bagaimana model kerja World Mangrove Center?
WMC tidak beroperasi sebagai lembaga birokrasi kaku, melainkan sebagai simpul jaringan yang menghubungkan peneliti, pemerintah, organisasi internasional, dan masyarakat untuk berbagi data serta teknologi pengelolaan pesisir.
Ringkasan
Indonesia tengah membangun World Mangrove Center (WMC) sebagai pusat kolaborasi internasional untuk riset, standar konservasi, dan restorasi ekosistem pesisir. Sebagai pemilik 3,4 juta hektar hutan mangrove, Indonesia berperan strategis dalam memimpin upaya global menjaga keberlanjutan ekosistem karbon biru.






