Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 3)

- Penulis

Jumat, 4 Oktober 2024 - 20:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 3)

Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 3)

Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 3)

Bab 3

Ruangan enam kali enam meter dengan desain simpel itu menjadi lebih ramai dari biasanya. Meja kayu jati oval dengan enam buah kursi yang terletak di tengah ruangan yang biasanya hanya diduduki Gayatri dan Gumilar saat jam makan, kini sudah bertambah dengan kehadiran Kirei dan juga Atta. Selagi Kirei dan Atta masih dalam cuti kerja, mereka sengaja memanfaatkan momen kebersamaan, salah satunya di meja makan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Ehm.” Gayatri mendehem saat melihat Kirei menyuapkan sepotong roti pada Attala.

“Mama,” Kirei segera menjauh dari Attala dan memperbaiki duduknya, sedangkan Attala berusaha menampakan raut wajah datar dan tenang seperti biasanya.

“Kalian sudah pernah menengok rumah baru kalian? Bagaimana sejauh ini persiapan unduh mantunya?” Gayatri meletakkan sepiring mangga potong yang dibawanya dari dapur.

“Rencana hari ini mau melihat ke sana, Ma. Mama mau ikut? Ibu dan Ayah juga berencana ke sana hari ini.” Jawab Attala pada Gayatri.

“Nanti Mama tanya Papa kalian dulu. Kalau ada waktu luangnya hari ini, kami menyusul ke sana,” tangan Gayatri cekatan mengambil sepotong roti dan mengoleskan mentega, kemudian meletakkan di piring suaminya.

Gumilar yang sudah rapi dengan setelan jas hitam berdasi biru tua segera bergabung dengan istri dan anak beserta menantunya di meja makan. Senyum sumringah terpancar dari wajahnya.

“Pa, nanti setelah pulang dari rapat deviden, Mama mau ke rumah Pak Nugroho, itu orang pintar yang dulu membersihkan rumah ini saat Papa terkena kiriman santet.” Gayatri meletakkan susu hangat di sebelah piring Gumilar.

“Untuk apa, Ma?” Gumilar mengambil sepotong roti dan memasukkan ke mulutnya.

“Rumah ini sepertinya butuh dibersihkan, Pa. Ular tadi malam itu bisa jadi pertanda buruk untuk keluarga kita, bahkan rumah tangga Kirei dan Attala,” jelas Gayatri.
Gumilar menghela nafas panjang. Dia berusaha tenang menghadapi situasi yang canggung ini. Baginya bukan hal baru lagi istrinya membicarakan hal seperti itu. Tapi, bagi Kirei dan Attala tentu akan memiliki persepsi yang berbeda. Jalan pikiran mereka berdua lebih rasional dan bisa dicerna akal daripada mempercayai hal mistis seperti itu.

“Bagaimana menurut kalian, Kirei, Attala?” Gumilar menatap anak dan menantunya itu sambil memberikan kode dengan kedipan mata, bermaksud agar mereka berdua bisa mengambil keputusan bijak agar tidak menyakiti hati Gayatri.

” Kalau menurut Kirei, kita ambil tindakan yang lebih rasional saja, menelusuri siapa yang sudah mengirim kado itu melalui pihak WO, Pa.” Kirei menatap Attala.

“Bagi Atta, lebih baik kita pakai kedua cara itu, Pa. Nanti Atta akan menghubungi pihak WO untuk menelusuri pengirim kado itu agar jelas motifnya. Kalaupun Mama mau memanggil orang pintar silakan, Ma.” Attala memberikan jawaban yang lebih menenangkan. Baginya sangat perlu untuk menghargai Gayatri sebagai ibu mertuanya sekaligus menjaga stabilitas rumah tangga yang baru dibangunnya agar tidak memiliki konflik antara menantu dan mertua.
Sudah banyak permasalahan yang terjadi antara menantu dan mertua yang berujung rusuh karena masing-masing tidak bisa menempatkan diri pada posisi yang bijaksana. Saling beradu ego dan kepandaian. Yang muda dengan segala alasan rasionalitas, sementara yang tua merasa sudah banyak pengalaman sehingga menjadi overprotective dan menuntut untuk dituruti.

Mendengar jawaban Attala, Kirei justru marah dan segera beranjak dari ruang makan. Tidak berapa lama terdengar suara pintu kamar ditutup dengan kasar. Gumilar menatap Attala dan memberikan kode agar segera menyusul Kirei ke kamar.

“Sudah biarkan dulu, Kirei memang begitu sifatnya. Ia selalu marah dan menolak kalau Mama memberikan saran. Anak perempuan selalu saja membuat jengkel.” Gayatri melanjutkan sarapannya.

Sementara itu Attala mengikuti Kirei ke kamar. Ia ingin memastikan istrinya baik-baik saja setelah perdebatan di meja makan tadi.

Kirei memang tidak suka dengan hal-hal berbau mistis. Baginya itu semua tidak bisa diterima akal sehat, tidak logis, diluar nalar. Meskipun, ia minim pengetahuan agama, tetapi ia tahu kalau percaya pada dukun itu adalah syirik alias menyekutukan Tuhan.

“Rei, kamu baik-baik saja?” Atta mengusap punggung Kirei yang terlihat turun naik karena terisak-isak.

Kirei tak merespon. Tubuhnya masih telungkup sempurna di atas kasur sembari sesekali terdengar suara sesenggukan.

“Ayolah, jangan seperti anak kecil lagi. Kita harus bisa mengimbangi sikap Mama. Tidak ada salahnya kita mendengar dan menerima saran beliau. Anggap saja sebagai bentuk hormat dan bakti kita. Apalagi saat ini kita berada di rumah beliau. Kelak kalau kita sudah pindah ke rumah kita sendiri. Kita bisa bebas mengatur kehidupan seperti yang kamu mau.” Attala mengusap rambut Kirei.

Kirei yang menyimak penuturan suaminya langsung berbalik badan dan mengambil sikap tegak. Dia melihat mata Atta dalam-dalam. Apa yang disampaikan suaminya memang benar. Tidak ada salahnya menerima saran Mama. Toh, sebentar lagi, ia akan tinggal di rumah sendiri dan bebas mengatur kehidupan. Itulah yang Kirei suka dari Atta, logis dan bisa menyeimbangkan sikap. Sehngga bisa menjaga suasana agar tidak larut dalam emosi yang berlebihan.
Tanpa menunggu lama, Kirei memeluk erat suaminya. Bahasa cinta suaminya memang luar biasa. Act of service-nya begitu terasa. Suaminya itu selalu bisa langsung mengambil tindakan yang tepat atas emosinya yang meledak-ledak ciri khas perempuan. Ia melanjutkan tangisnya dalam pelukan suaminya. Setelah puas, dia merenggangkan pelukan dan menatap suaminya dengan mesra.

“Terima kasih, Mas. Mas sudah meredakan emosi sekalgus mengingatkan aku tentang kewajiban berbakti pada Mama,.” Kirei mengelus pipi Attala perlahan.

“Sudah kewajibanku, Rei. Kamu istriku yang harus aku bahagiakan dan Mama adalah mertua yang harus aku hormati. Bukankah begitu?” Attala mengecup bibir Kirei. Mengunci tubuh istrinya dalam pelukan dan hasrat yang menggelegak. Kemesraan semalam diulanginya kembali dengan sempurna. Tanpa peduli lagi Gumilar dan Gayatri sudah meninggalkan rumah untuk urusan mereka.

Attala yang sedingin es. Ternyata, bisa luluh pada perempuan yang ada di hadapannya ini. Sifat dan sikap Kirei juga perhatiannya mampu membuatnya merasa dibutuhkan. Satu hal yang ada dalam diri pria adalah berguna bagi pasangannya. Bersama Kirei, ia bisa merasakan hal itu.

Perut yang lapar membangunkan dua insan yang tertidur setelah puas mereguk manisnya mabuk asmara. Keduanya menggeliat manja dengan rasa bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hanya tatap mata penuh cinta dan senyum manja yang bisa mewakilinya.

‘Kamu lapar, Sa-sayang?” tanya Attala dengan terbata-bata. Untuk pertama kalinya, ia memanggil sayang pada seorang perempuan. Karena hal itu juga, ia merasa gugup.

“Apa, Mas? Aku enggak denger,” sahut Kirei pura-pura. Ia hanya ingin menggoda Attala yang mulai menunjukkan tanda-tanda kebucinan.

“Sayang, kamu lapar?” Attala berbisik dengan nada menggoda.

“Alhamdulillah, terima kasih, Tuhan. Akhirnya, suamiku bilang sayang juga.” Spontan Kirei memeluk Attala dari samping. Kemudian, ia duduk dan menyandarkan punggung sembari menutup sebagian tubuhnya dengan selimut. “Tentu, Mas. Perutku sudah keroncongan.”

“Aku juga. Sebaiknya, kita segera membersihkan diri dan bersiap agar tidak keduluan Mama dan Papa yang sebentar lagi pulang dari urusan mereka. Kalau mereka sudah pulang, kita bisa jadi bahan candaan.” Atta memeluk istrinya sekali lagi. Menciumnya di ubun-ubun, lalu bergeser ke telinga.

” Eh, sudah-sudah. Ayo mandi, Mas. Malu kalau Mama sama Papa datang dan kita masih di kamar.” Kirei mencubit perut Atta perlahan. Dia berharap romantisme pasangan baru yang mereka rasakan bisa bertahan selamanya tanpa ada hambatan yang berarti. Langgeng dalam rumah tangga bahagia, memiliki keturunan yang sholih dan cerdas, mampu menjaga cinta yang merupakan anugerah Tuhan sampai waktunya tiba. Meski begitu, Kirei tidak pernah tahu bahwa ada sosok yang begitu tersakiti dengan pernikahan mereka.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru