Tolak Adanya Premanisme Berkedok Ormas di Bali, 13 Ribu Pecalang Gelar Deklarasi di Lapangan Renon

- Penulis

Sabtu, 17 Mei 2025 - 21:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ribuan Pecalang Bali tolak keras premanisme ormas demi jaga keamanan desa adat dan ketertiban masyarakat. (Foto: Instagram @lambe_turah)

Ribuan Pecalang Bali tolak keras premanisme ormas demi jaga keamanan desa adat dan ketertiban masyarakat. (Foto: Instagram @lambe_turah)

Pecalang menjadi garda terdepan dalam menjaga ketertiban dan keamanan di Bali. Baru-baru ini, mereka menggelar aksi besar-besaran untuk menolak keberadaan premanisme yang menyamar sebagai ormas.

Aksi ini menunjukkan betapa pentingnya peran pecalang dalam menjaga harmoni masyarakat adat Bali.

13.000 Pecalang Gelar Aksi Tolak Premanisme Berkedok Ormas di Bali

Ribuan Pecalang Bali tolak keras premanisme ormas demi jaga keamanan desa adat dan ketertiban masyarakat. (Foto: Instagram @lambe_turah)
Tolak Adanya Premanisme Berkedok Ormas di Bali, 13 Ribu Pecalang Gelar Deklarasi di Lapangan Renon

Pada Sabtu pagi (17/5/2025), lebih dari 13.000 pecalang dari 1.500 desa adat se-Bali berkumpul di Lapangan Niti Mandala Renon, Denpasar.

Aksi ini bertujuan menyatakan penolakan tegas terhadap keberadaan organisasi masyarakat (ormas) yang berperilaku seperti preman dan mengatasnamakan penjaga keamanan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Para pecalang menunjukkan solidaritasnya untuk menjaga Bali tetap aman dan bebas dari tindakan intimidasi yang dilakukan oleh oknum ormas.

Mereka menegaskan bahwa keamanan dan ketertiban di Bali harus dijaga oleh sistem keamanan yang berbasis desa adat, bukan oleh kelompok yang hanya mencari kekuasaan dengan cara yang salah.

Gelar Agung Pasikian Pecalang Bali ini sekaligus menjadi wujud nyata komitmen pecalang dalam melestarikan adat dan menjaga ketertiban masyarakat tanpa pamrih.

Peran Pecalang dalam Menolak Premanisme Berkedok Ormas dan Memperkuat Sistem Keamanan Adat

Penolakan premanisme oleh pecalang merupakan wujud nyata komitmen menjaga ketertiban yang telah menjadi bagian dari budaya Bali selama ribuan tahun.

Sebagai penjaga adat dan keamanan, pecalang menjalankan tugasnya tanpa mengharapkan honor, gaji, atau insentif, namun semangat mereka tetap tinggi.

Ketua Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali, Ida Panglingsir Agung Putra Sukahet, menyampaikan bahwa keberadaan pecalang sangat penting dan seharusnya diberikan insentif sebagai bentuk apresiasi atas pengabdiannya.

Pecalang telah menjaga Bali sebelum negara ini terbentuk, sehingga peran mereka tidak dapat tergantikan oleh ormas yang bertindak preman.

Pecalang juga berfungsi sebagai jembatan antara masyarakat adat dan aparat keamanan resmi, menjaga kedamaian sekaligus melestarikan nilai-nilai budaya yang menjadi pondasi kehidupan masyarakat Bali.

Penolakan terhadap ormas yang berperilaku preman ini menjadi bagian dari upaya menjaga keaslian fungsi pecalang agar tidak tergusur atau disalahgunakan.

Dengan tegas, para pecalang ingin mengingatkan bahwa keamanan berbasis adat adalah solusi terbaik untuk menghindari tindakan yang merugikan masyarakat, seperti premanisme. Mereka ingin menjaga tradisi serta memastikan keamanan yang adil dan damai.

Gelar Agung Pasikian Pecalang Bali: Suara Serentak Tolak Premanisme Ormas

Gelar Agung yang dihadiri lebih dari 13.000 pecalang dari seluruh Bali ini merupakan wujud aspirasi kolektif untuk menyuarakan penolakan terhadap premanisme berkedok ormas.

Ngurah Pradnyana, Penyarikan Utama Pasikian Pecalang Bali, menegaskan bahwa acara ini lahir dari keinginan para pecalang agar perjuangan mereka mendapat pengakuan positif dan tidak disalahpahami.

Para pecalang ingin menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar pengaman biasa, melainkan penjaga adat yang memiliki aturan dan etika khusus.

Kehadiran mereka di masyarakat bukan untuk mencari keuntungan materi, melainkan pengabdian murni demi menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan adat masing-masing.

Mereka menginginkan agar peran pecalang semakin diperkuat melalui wadah yang solid dan sistem keamanan desa adat yang terpadu.

Kehadiran 20 pecalang perempuan dalam gelar agung ini juga menunjukkan inklusivitas dan semangat kebersamaan dalam menjaga Bali.

Penolakan pecalang terhadap premanisme ormas mendapat sambutan positif dari masyarakat Bali.

Banyak yang merasa aman dan nyaman dengan keberadaan pecalang yang berlandaskan adat dan budaya lokal. Komentar-komentar di media sosial mencerminkan dukungan penuh kepada pecalang sebagai garda keamanan yang paling dipercaya.

Masyarakat Bali melihat pecalang sebagai simbol keamanan yang menyejukkan karena mereka bekerja tanpa kekerasan berlebihan dan dengan pendekatan yang berakar pada adat. Hal ini berbeda jauh dengan ormas yang sering dianggap menyalahgunakan kekuasaannya.

Harapan muncul agar contoh ketegasan pecalang ini diikuti oleh daerah lain di Indonesia, terutama yang mengalami gangguan keamanan akibat perilaku premanisme berkedok ormas. Sistem keamanan berbasis adat dianggap jauh lebih efektif dan berkeadilan dalam menjaga ketertiban.

Selain itu, masyarakat juga berharap agar pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap pecalang, termasuk pemberian insentif dan fasilitas agar mereka bisa menjalankan tugasnya dengan lebih baik dan terorganisir.

Pecalang menjadi simbol ketegasan dan komitmen Bali dalam menjaga keamanan berbasis adat dan menolak keras keberadaan premanisme yang menyusup lewat ormas.

Dengan dukungan penuh masyarakat dan sistem keamanan desa adat yang terus diperkuat, Bali berharap tetap menjadi pulau yang aman, tertib, dan damai.

Pemberian insentif dan pengakuan terhadap pecalang diharapkan bisa meningkatkan semangat pengabdian mereka, menjaga warisan budaya sekaligus memberikan perlindungan nyata kepada masyarakat Bali.

Semangat pecalang ini wajib diapresiasi dan dijaga agar tetap menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia dalam mengatasi masalah premanisme dan menjaga keamanan secara berbudaya.***

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penyebab Penjualan Motor Listrik Anjlok pada 2026
Penyebab Penjualan Motor Listrik Anjlok Menurut Aismoli
Dampak Karhutla Korporasi dan Lonjakan ISPA di Kalteng
AirNav dan Singapura Tukar Data ADS-B Pantau Pesawat FIR
Analisis Pengamat: Prabowo Diprediksi Pisah dengan Gibran pada 2029
Inisiatif Nelayan Gurita Ende Menjaga Laut Flores Selatan
Honkai: Star Rail 4.6 Hadirkan Karakter Pearl dan Event Baru
Fokus Transportasi Papua: Kadishub Soroti Akses Kepulauan

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 04:47 WIB

Penyebab Penjualan Motor Listrik Anjlok Menurut Aismoli

Selasa, 22 September 2026 - 04:19 WIB

Dampak Karhutla Korporasi dan Lonjakan ISPA di Kalteng

Selasa, 22 September 2026 - 03:36 WIB

AirNav dan Singapura Tukar Data ADS-B Pantau Pesawat FIR

Selasa, 22 September 2026 - 03:19 WIB

Analisis Pengamat: Prabowo Diprediksi Pisah dengan Gibran pada 2029

Selasa, 22 September 2026 - 02:52 WIB

Inisiatif Nelayan Gurita Ende Menjaga Laut Flores Selatan

Berita Terbaru

Tim KKN 214 UNS memberikan pendampingan modernisasi produk dan kemasan bagi pelaku UMKM di Desa Brunosari.

Pendidikan

KKN 214 UNS Inovasikan Produk dan Kemasan UMKM Desa Brunosari

Selasa, 22 Sep 2026 - 05:21 WIB

Anggota Komisi VIII DPR RI Dini Rahmania mendesak Menteri Agama mengevaluasi proses pengangkatan Rektor UINSA Surabaya.

Politik

Komisi VIII Minta Menag Evaluasi Pengangkatan Rektor UINSA

Selasa, 22 Sep 2026 - 05:10 WIB

Persija U-18 berhasil meraih peringkat keempat pada turnamen Hechi Cup 2026 yang digelar di Seoul, Korea Selatan.

Olahraga

Persija U-18 Raih Peringkat 4 Hechi Cup 2026, Ini Kata Kapten

Selasa, 22 Sep 2026 - 05:04 WIB

error: Content is protected !!