Sengketa lahan Atalarik Syach kembali menjadi sorotan publik setelah rumahnya di Cibinong, Bogor, dieksekusi oleh aparat.
Aktor sinetron ini mengungkapkan ketidakadilan dalam proses eksekusi yang dilakukan meski kasusnya masih dalam tahap gugatan hukum.
Dalam video yang diunggah melalui Instagram, aktor senior ini tampak menghadang aparat yang datang untuk membongkar rumah yang telah ia tempati selama lebih dari 15 tahun. Ia menyuarakan kekecewaan mendalam karena merasa tidak mendapatkan perlakuan hukum yang adil.
Aktor kelahiran 1973 itu bahkan menandai Presiden dan Gubernur Jawa Barat untuk meminta perhatian atas kasus yang ia sebut sebagai bentuk ketidakadilan terhadap rakyat kecil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia mengaku sudah membeli tanah tersebut sejak tahun 2000, namun justru kini harus kehilangan rumahnya dalam kondisi proses hukum yang menurutnya belum selesai.
Meski sempat mencoba melakukan mediasi di lokasi, petugas tetap melanjutkan proses eksekusi yang akhirnya meratakan seluruh bangunan milik Atalarik.
Kronologi Eksekusi Rumah Atalarik Syach yang Menghebohkan

Peristiwa ini bermula dari unggahan Atalarik Syach pada Kamis, 15 Mei 2025. Dalam video singkat yang ia bagikan di Instagram Stories, tampak dirinya berdiri di depan rumahnya dan menghadang sejumlah aparat yang akan mengeksekusi bangunan tersebut.
Ia menolak keras tindakan tersebut karena menurutnya, tidak ada surat pemberitahuan resmi sebelumnya.
Dalam narasinya, Atalarik Syach mengatakan bahwa sejak tahun 2015, ia terus berjuang mempertahankan hak atas tanah yang ia beli secara sah.
“Saya lagi dizalimi. Saya berjuang untuk mempertahankan tanah saya dari tahun 2015. Tanah ini, wilayah ini dibeli dari tahun 2000,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa tanah seluas 7.000 meter persegi tersebut sudah ia tempati selama lebih dari satu dekade.
Menurutnya, jika memang tanah itu bermasalah, seharusnya sudah ada komplain sejak awal pembangunan pagar pada tahun 2003.
Namun, menurut keputusan majelis hakim Pengadilan Negeri Cibinong, proses pembelian tanah itu dianggap tidak sah, sehingga eksekusi harus tetap dilakukan.
Meski begitu, Atalarik Syach menyebut bahwa gugatan hukum baru masih berlangsung dan belum inkrah, sehingga ia menilai tindakan eksekusi terlalu terburu-buru dan tidak adil.
Dalam video yang diunggahnya di akun Instagram pribadinya tersebut, Atalarik Syach berulang kali menekankan bahwa dirinya merasa dizalimi.
Ia mengaku tidak menerima surat peringatan atau pemberitahuan tertulis apa pun sebelum eksekusi berlangsung. Bahkan, saat ia menanyakan nama-nama petugas yang datang, tidak ada satu pun yang mau memberikan jawaban.
Ia juga mengatakan bahwa dirinya hanyalah rakyat kecil dan bukan penjahat, namun tidak diberi ruang untuk membela diri secara hukum. Menurutnya, ia tidak pernah melarikan diri atau menghindar, sehingga tidak seharusnya diperlakukan seperti kriminal.
Atalarik Syach menyebut bahwa rumah tersebut diratakan oleh petugas dari Pengadilan Negeri, bahkan saat upaya hukum baru masih berjalan. Hal inilah yang membuat dirinya merasa sangat terpukul secara emosional maupun materi.
Sengketa Tanah Atalarik Syach Sudah Berjalan Lama
Sengketa lahan yang menimpa Atalarik Syach ternyata bukan baru terjadi. Pada tahun 2016, ia pernah mengungkapkan dalam sebuah wawancara bahwa rumah tempat tinggalnya memiliki permasalahan hukum.
Ia menyatakan bahwa tanah tersebut ia beli secara sah dan telah ditinggali selama 15 tahun.
Kala itu, ia heran mengapa baru sekarang muncul masalah, padahal sudah lama ia mendirikan bangunan di atasnya. Ia juga mengklaim telah menyertakan saksi dalam proses jual beli, sehingga menurutnya tidak ada alasan hukum untuk membatalkan transaksi tersebut.
Namun, keputusan pengadilan yang menyatakan tanah tersebut tidak sah menyebabkan posisi Atalarik Syach menjadi lemah secara hukum. Meski ia masih terus mengajukan gugatan dan menempuh jalur hukum, rumahnya tetap dieksekusi, membuatnya merasa frustrasi dan kecewa.
Reaksi Publik Terhadap Perjuangan Atalarik Syach
Kasus ini memicu reaksi beragam dari publik. Banyak netizen menyatakan simpati kepada Atalarik Syach, terutama setelah melihat videonya yang penuh emosional dan ketegangan saat menghadapi aparat.
Tak sedikit pula yang mempertanyakan mekanisme eksekusi oleh pihak pengadilan jika memang status hukum belum final.
Sebagian warganet juga menyoroti keberanian Atalarik Syach dalam menyuarakan ketidakadilan yang ia alami, bahkan hingga menandai pejabat tinggi di media sosial.
Hal ini memperlihatkan betapa kuatnya tekadnya untuk melawan ketidakadilan, meski berhadapan dengan sistem hukum yang rumit.
Meski begitu, ada pula pihak yang mendukung langkah pengadilan jika memang putusan sebelumnya sudah menyatakan bahwa pembelian tanah itu tidak sah secara hukum.
Mereka menilai bahwa prosedur tetap harus dijalankan sesuai aturan, apapun status sosial pemiliknya.
Halaman : 1 2 Selanjutnya






