Redaksiku.com – PT Dian Swastatika Sentosa Tbk atau DSSA menjadi salah satu emiten yang ramai diperhatikan pelaku pasar menjelang pertengahan Agustus 2026.
Emiten Grup Sinar Mas tersebut sedang menjalankan dan menyiapkan sejumlah aksi korporasi besar, mulai dari pengalihan miliaran saham treasuri, rencana pengurangan modal, perubahan susunan pengurus hingga ekspansi bisnis infrastruktur digital.
Perhatian investor ikut tercermin pada pergerakan sahamnya. Pada perdagangan Rabu, 12 Agustus 2026, saham DSSA ditutup menguat 5,82 persen menjadi Rp1.000 per saham. Dalam lima hari perdagangan, kenaikannya mencapai sekitar 14,94 persen.
Sentimen terbaru datang dari rencana DSSA melakukan pengurangan modal melalui penarikan kembali sebagian saham hasil pembelian kembali atau buyback. Rencana itu akan dimintakan persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa atau RUPSLB yang dijadwalkan pada September 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di saat bersamaan, perseroan telah memulai proses pengalihan sebanyak-banyaknya 9.631.904.000 saham treasuri, setara maksimal 5 persen dari seluruh saham yang diterbitkan dan tercatat di Bursa Efek Indonesia.
DSSA Mau Kurangi Modal dengan Menarik Saham Treasuri
Keterbukaan terbaru DSSA menunjukkan perseroan bermaksud melakukan pengurangan modal dengan menarik kembali sebagian saham hasil buyback.
Langkah tersebut merujuk pada ketentuan POJK Nomor 29 Tahun 2023 mengenai pembelian kembali saham perusahaan terbuka. Salah satu mekanisme yang dapat digunakan untuk mengalihkan saham hasil buyback adalah pengurangan modal.
DSSA kemudian berencana menyesuaikan Pasal 4 Anggaran Dasar perseroan sehubungan dengan pengurangan modal tersebut.
Artinya, saham treasuri tertentu tidak akan kembali diedarkan ke pasar, tetapi dapat ditarik sehingga jumlah modal maupun saham perseroan akan disesuaikan setelah memperoleh persetujuan yang diperlukan.
Namun aksi tersebut belum dapat dianggap selesai karena masih harus memperoleh persetujuan pemegang saham melalui RUPSLB.
RUPSLB DSSA Dijadwalkan September 2026
Pemanggilan rapat yang diberitakan pada 13 Agustus menyebut RUPSLB DSSA dijadwalkan berlangsung 10 September 2026. Agenda utamanya mencakup persetujuan pengurangan modal melalui penarikan sebagian saham hasil buyback.
Selain itu, mata acara kedua adalah perubahan susunan anggota Dewan Komisaris dan Direksi DSSA.
Manajemen belum mengumumkan hasil perubahan tersebut karena keputusan akhirnya baru akan ditentukan setelah agenda memperoleh persetujuan rapat.
Keterbukaan BEI yang muncul pada 12 Agustus juga mencantumkan agenda pertama RUPSLB berupa persetujuan atas pengurangan modal perseroan.
Dengan demikian, September menjadi periode penting berikutnya bagi pemegang saham DSSA.
DSSA Punya 37,9 Miliar Saham Treasuri
Jumlah saham treasuri DSSA terbilang sangat besar.
Per akhir Juli 2026, perseroan tercatat masih memiliki 37.905.956.750 saham treasuri.
Jumlah tersebut berkaitan dengan program buyback sebelumnya dan kemudian mengalami penyesuaian setelah DSSA melakukan beberapa kali pemecahan nilai nominal saham atau stock split.
Sebelum stock split kedua, perusahaan melakukan buyback sebanyak sekitar 154,1 juta saham. Setelah dua kali stock split, jumlah ekuivalennya menjadi jauh lebih besar.
DSSA sebelumnya melakukan stock split 1:10 pada 2024, kemudian kembali melakukan stock split dengan rasio 1:25 pada 2026.

Stock Split 1:25 Bikin Saham DSSA Bertambah Drastis
Stock split kedua DSSA telah disetujui pemegang saham pada RUPSLB 11 Maret 2026.
Melalui aksi tersebut, setiap satu saham lama dipecah menjadi 25 saham baru. Jumlah saham ditempatkan dan disetor meningkat dari 7.705.523.200 saham menjadi 192.638.080.000 saham.
Nilai ekonomi kepemilikan investor pada dasarnya tidak berubah hanya karena stock split.
Tujuan DSSA saat itu adalah membuat harga saham lebih terjangkau, memperluas basis investor dan meningkatkan likuiditas perdagangan.
Perdagangan saham dengan nilai nominal baru kemudian mulai diterapkan pada April 2026.
Aksi ini juga menjelaskan mengapa angka saham treasuri yang sekarang tercatat mencapai puluhan miliar lembar.
Mulai Lepas 9,63 Miliar Saham Treasuri
Selain mempertimbangkan penarikan saham melalui pengurangan modal, DSSA juga telah mengumumkan pengalihan saham treasuri melalui bursa.
Perseroan berencana mengalihkan sebanyak-banyaknya:
9.631.904.000 saham
atau maksimal:
5 persen dari seluruh saham DSSA yang diterbitkan dan tercatat di BEI.
Pelaksanaan dimulai 10 Agustus 2026 dan dapat terus dilakukan sampai proses pengalihan selesai.
DSSA menunjuk PT Sinarmas Sekuritas sebagai anggota bursa yang membantu melaksanakan transaksi tersebut.
Pengalihan tidak memerlukan persetujuan RUPS dan harga transaksi akan mengikuti ketentuan pasar modal yang berlaku.
Bisa Dijual di Pasar Reguler atau Negosiasi
Dalam klarifikasi terbaru kepada Bursa Efek Indonesia, DSSA menjelaskan mekanisme penjualan saham treasuri dapat menggunakan pasar reguler dan/atau pasar negosiasi.
Pemilihan mekanismenya akan mempertimbangkan kondisi pasar ketika transaksi berlangsung, termasuk:
harga saham,
likuiditas,
jumlah saham yang akan ditransaksikan,
dan efektivitas pelaksanaan transaksi.
Manajemen juga menyatakan akan mengupayakan agar pengalihan saham tersebut ditujukan kepada pemegang saham publik.
Tujuannya antara lain membantu pemenuhan ketentuan porsi kepemilikan publik atau free float sebagaimana diatur BEI.
Aspek free float menjadi penting karena semakin banyak saham yang dimiliki publik, secara teori saham mempunyai ruang lebih besar untuk diperdagangkan di pasar.
Saham DSSA Justru Menguat
Rencana melepas saham treasuri dalam jumlah besar secara teori dapat meningkatkan jumlah saham yang tersedia bagi investor.
Namun sejauh ini, pergerakan pasar justru menunjukkan penguatan.
Pada Rabu, 12 Agustus 2026, DSSA naik 5,82 persen menjadi Rp1.000 per saham. Dalam periode lima hari perdagangan, kenaikannya mencapai 14,94 persen.
Sebelumnya pada 6 Agustus, saham DSSA juga sempat melonjak lebih dari 12 persen, beriringan dengan perhatian pasar terhadap rencana pengalihan saham treasuri dan transformasi bisnis perusahaan.
Meski begitu, kenaikan historis tidak dapat digunakan sebagai jaminan pergerakan harga selanjutnya.
Pengalihan miliaran saham treasuri berpotensi memengaruhi pasokan saham, volume transaksi maupun volatilitas apabila realisasinya berlangsung dalam jumlah besar.
Ada Tender Offer Saham KETR
Aksi korporasi DSSA tidak hanya berlangsung pada level perusahaan induk.
Anak usaha DSSA, PT Inti Mas Bangun Sejahtera (IMBS), juga melakukan aksi terkait saham PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR).
Rencana yang sebelumnya diumumkan adalah penawaran tender sukarela atau Voluntary Tender Offer (VTO) untuk memperoleh hingga sekitar 35 persen saham KETR. Masa tender dijadwalkan berlangsung 28 Juli sampai 26 Agustus 2026 setelah proses regulasi yang diperlukan.
KETR bergerak di bidang infrastruktur telekomunikasi, terutama jaringan kabel serat optik dan kabel bawah laut.
Langkah tersebut konsisten dengan upaya DSSA memperbesar eksposur terhadap ekosistem infrastruktur digital.
Dalam klarifikasi kepada BEI pada 11 Agustus, DSSA kembali menyebut tender sukarela yang dilakukan IMBS sebagai salah satu rencana aksi korporasi grup dalam beberapa bulan mendatang.
DSSA Tak Lagi Hanya Mengandalkan Batu Bara
Di balik ramainya aksi korporasi saham, DSSA juga sedang menjalankan transformasi bisnis.
Perusahaan yang selama ini banyak dikenal melalui bisnis energi dan pertambangan mulai memperbesar investasi di:
infrastruktur digital,
telekomunikasi,
data center,
kecerdasan buatan,
energi surya,
dan panas bumi.
Pada 2025, kontribusi infrastruktur digital dan teknologi terhadap pendapatan konsolidasi meningkat dari 4,8 persen menjadi 7,6 persen.
Pendapatan bisnis digital dan teknologi sendiri tumbuh sekitar 47 persen secara tahunan.
Sementara bisnis pertambangan masih menjadi salah satu penopang utama dengan produksi batu bara mencapai 57,2 juta ton pada 2025, naik 7,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pendapatan Kuartal I 2026 US$693,2 Juta
DSSA membukukan pendapatan usaha konsolidasian sebesar US$693,2 juta sepanjang tiga bulan pertama 2026.
Laba periode berjalan mencapai sekitar US$118,5 juta.
Per 31 Maret 2026, total aset DSSA mencapai US$4,6 miliar, sedangkan ekuitas sekitar US$2,4 miliar.
Yang menarik adalah perkembangan bisnis digital.
Pendapatan segmen infrastruktur digital dan teknologi naik 50 persen, dari US$46,1 juta pada kuartal pertama 2025 menjadi US$69,1 juta pada kuartal pertama 2026.
Pertumbuhan tersebut didukung penguatan bisnis telekomunikasi setelah integrasi MyRepublic Indonesia dan Moratelindo menjadi PT Ekamas Mora Republik Tbk atau MoraRepublic.
MoraRepublic Jadi Bagian Penting Strategi Digital
DSSA kini menjadikan MoraRepublic sebagai salah satu tulang punggung ekosistem digitalnya.
Per Juli, perusahaan menyebut MoraRepublic mengoperasikan jaringan backbone dan akses serat optik sepanjang lebih dari 166 ribu kilometer, dengan lebih dari 12,7 juta homepass.
Jumlah pelanggan ritelnya telah menembus lebih dari 2 juta pelanggan, ditambah lebih dari 17 ribu pelanggan bisnis.
DSSA juga telah memperoleh kepemilikan tidak langsung di PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) melalui PT Bali Media Telekomunikasi yang memiliki 24,57 persen saham EXCL.
Rangkaian transaksi tersebut menunjukkan transformasi DSSA tidak berhenti pada penyediaan internet rumah, tetapi bergerak menuju ekosistem telekomunikasi dan infrastruktur digital yang lebih luas.
Bangun Data Center AI-Ready 18 MW
Bisnis lain yang menjadi perhatian adalah pusat data.
Melalui PT SMPlus Digital Investama, DSSA sedang menyelesaikan pembangunan data center unggulan SMX01 di Jakarta.
Fasilitas Tier-IV yang diklaim AI-ready tersebut memiliki kapasitas lebih dari 18 MW dan ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV 2026.
Perusahaan juga sedang mengembangkan 25 Edge Data Centers untuk mendukung kebutuhan komputasi dengan latensi rendah, termasuk telekomunikasi, perusahaan dan aplikasi AI.
DSSA turut membentuk PT Brilian Teknologi Sejahtera melalui kemitraan dengan iFLYTEK, dengan fokus pengembangan solusi berbasis machine learning dan ekosistem AI.
Energi Terbarukan Jadi Pilar Berikutnya
Transformasi DSSA juga terjadi di sektor energi.
Dalam bisnis panas bumi, DSSA mengembangkan portofolio melalui kerja sama dengan PT FirstGen Geothermal Indonesia. Potensi pengembangannya disebut mencapai 440 MW yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia.
Di energi surya, DSSA memperkuat rantai pasok dengan pengoperasian fasilitas manufaktur sel dan modul surya terintegrasi berkapasitas 1 GW per tahun di Kawasan Ekonomi Khusus Kendal.
Di sektor pertambangan, perusahaan juga menjalankan elektrifikasi armada operasional. Hingga Mei 2026, PT Borneo Indobara telah mengoperasikan 176 kendaraan listrik dan hybrid sebagai bagian dari program pengurangan emisi.
Dengan strategi tersebut, DSSA menempatkan infrastruktur digital dan energi rendah karbon sebagai dua mesin pertumbuhan jangka panjang selain bisnis pertambangan.
Kenapa Dian Swastatika Sentosa Ramai Dicari?
Ada beberapa alasan mengapa nama Dian Swastatika Sentosa kembali ramai pada Agustus 2026.
Pertama, harga saham DSSA sedang menguat.
Kedua, terdapat rencana pengalihan 9,63 miliar saham treasuri yang dapat memengaruhi jumlah saham publik dan likuiditas perdagangan.
Ketiga, perusahaan menyiapkan pengurangan modal melalui penarikan sebagian saham buyback yang membutuhkan persetujuan RUPSLB.
Keempat, anak usaha DSSA sedang menjalankan tender offer KETR, memperbesar perhatian terhadap strategi telekomunikasi dan infrastruktur digital grup.
Dan kelima, DSSA sedang melakukan transformasi besar dari perusahaan yang sangat bergantung pada pertambangan menjadi grup dengan portofolio digital, telekomunikasi, pusat data, AI dan energi terbarukan.
Investor Kini Menunggu RUPSLB DSSA
Perkembangan selanjutnya yang layak ditunggu adalah keputusan pemegang saham.
RUPSLB pada September akan menentukan apakah rencana pengurangan modal dengan menarik kembali sebagian saham treasuri mendapat lampu hijau. Agenda perubahan susunan komisaris dan direksi juga akan menjadi perhatian.
Sebelum itu, pasar juga akan mengawasi bagaimana realisasi penjualan saham treasuri sejak 10 Agustus dan perkembangan tender offer KETR yang dijadwalkan berlangsung hingga akhir Agustus.
Dengan sederet aksi tersebut, Dian Swastatika Sentosa menjadi salah satu emiten dengan agenda korporasi paling padat pada Agustus–September 2026.
Kinerja bisnis digital yang tumbuh cepat dan investasi energi baru menjadi cerita fundamental jangka panjang. Namun dalam jangka pendek, fokus pasar kemungkinan masih tertuju pada saham treasuri, free float, RUPSLB serta bagaimana seluruh aksi itu memengaruhi struktur saham DSSA.
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest






