Kebakaran ruang wakil gubernur di Gedung Grahadi langsung menjadi sorotan publik nasional. Media sosial dipenuhi dengan video dan foto kobaran api yang melahap gedung bersejarah itu. Tagar #JagaJawaTimur dan #GrahadiTerbakar menjadi trending di X (Twitter) dalam hitungan jam.
Banyak warganet menyayangkan aksi brutal ini, karena di balik kemarahan yang ingin disampaikan, aset negara yang menyimpan nilai sejarah kini rusak tak terselamatkan.
Sejumlah akademisi dan aktivis budaya juga menyuarakan keprihatinan mendalam, sebab Gedung Grahadi bukan hanya sekadar kantor pemerintahan, melainkan juga bagian penting dari identitas Jawa Timur yang dibangun sejak era kolonial Belanda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tak sedikit pula masyarakat yang membandingkan kerusuhan ini dengan tragedi Mei 1998. Mereka menyebut bahwa apa yang terjadi di Surabaya kali ini terasa lebih mengerikan karena menyasar langsung pusat pemerintahan daerah.
Upaya Pemadaman dan Evakuasi
Sebanyak 20 unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan, namun akses menuju gedung terhambat oleh kerumunan massa yang masih ricuh. Beberapa petugas pemadam bahkan dilaporkan terkena lemparan batu saat mencoba mendekati titik api.
Setelah hampir dua jam, barulah api berhasil dikendalikan, meski sebagian besar bangunan, termasuk ruang wakil gubernur, sudah rata dengan puing hitam dan abu.
Aparat keamanan kemudian melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada korban jiwa di dalam gedung. Untungnya, tidak ada pejabat maupun staf yang berada di lokasi ketika api melahap ruangan, karena mereka sudah dievakuasi sebelumnya. Namun, kerugian material ditaksir mencapai miliaran rupiah.
Pemerintah dan Aparat Turun Tangan
Gubernur Jawa Timur dalam keterangannya menyatakan duka mendalam atas terbakarnya Gedung Grahadi, khususnya ruang kerja wakil gubernur yang selama ini digunakan untuk koordinasi strategis pemerintahan. Ia menegaskan bahwa peristiwa ini bukan sekadar kerusuhan biasa, melainkan sudah masuk kategori penyerangan terhadap simbol negara.
Kapolda Jawa Timur juga menegaskan bahwa pihaknya akan memburu provokator dan aktor intelektual di balik kerusuhan. Ratusan orang telah diamankan untuk diperiksa lebih lanjut. Aparat berjanji akan melakukan tindakan hukum tegas agar kejadian serupa tidak terulang.
Selain kerugian fisik, banyak kenangan dan dokumen berharga yang turut musnah bersama ruang wakil gubernur. Arsip foto, data administrasi pemerintahan, hingga dokumen perencanaan pembangunan daerah ikut lenyap. Hal ini menimbulkan keprihatinan mendalam karena sebagian data tersebut tidak memiliki salinan digital.
Sebagai penutup, terbakarnya ruang wakil gubernur di Gedung Grahadi Surabaya menjadi simbol betapa rentannya stabilitas sosial ketika kemarahan massa tidak lagi bisa dikendalikan.
Peristiwa ini sekaligus menjadi peringatan keras bagi pemerintah untuk lebih peka terhadap aspirasi rakyat, sekaligus memperkuat sistem keamanan agar aset bersejarah tidak kembali menjadi korban amukan.
Tragedi di Surabaya ini kini tercatat dalam sejarah kelam kota pahlawan, meninggalkan puing-puing gedung, trauma sosial, dan pertanyaan besar tentang arah demokrasi dan kebebasan berekspresi di Indonesia.***
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Halaman : 1 2







Jadilah yang pertama berkomentar
Bagikan tanggapan Anda secara santun. Komentar yang relevan membuat diskusi lebih bermanfaat.