Redaksiku.com – Bank Dunia memperingatkan pertumbuhan ekonomi global berisiko anjlok hingga 1,3 persen pada 2026 apabila konflik di Timur Tengah berlangsung selama enam bulan atau lebih.
Peringatan tersebut disampaikan Kepala Ekonom Bank Dunia, Indermit Gill, dalam perkembangan terbaru yang dipublikasikan pada 22 Juli 2026.
Angka 1,3 persen merupakan skenario terburuk, bukan proyeksi dasar terbaru. Skenario itu menggambarkan kemungkinan yang dapat terjadi jika konflik terus meluas, jalur pelayaran terganggu, infrastruktur minyak mengalami kerusakan, dan harga energi bertahan tinggi.
Dalam skenario tersebut, pertumbuhan ekonomi dunia akan turun lebih dari separuh dibandingkan pertumbuhan sekitar 2,9 persen pada 2025. Inflasi global juga dapat melonjak hingga 4,5 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ringkasan Peringatan Terbaru Bank Dunia
| Indikator | Skenario terburuk |
|---|---|
| Pertumbuhan ekonomi global 2026 | 1,3 persen |
| Pertumbuhan global 2025 | 2,9 persen |
| Perkiraan inflasi global | 4,5 persen |
| Pemicu utama | Konflik berkepanjangan dan gangguan energi |
| Negara berisiko utang tinggi | 32 negara |
| Kelompok paling rentan | Negara berkembang dan berpendapatan rendah |
| Proyeksi pertumbuhan Indonesia 2026 | 5,0 persen |
| Proyeksi Indonesia 2027–2028 | 5,2 persen |
Proyeksi Indonesia sebesar 5 persen masih merupakan perkiraan resmi Bank Dunia dalam laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026. Belum ada pengumuman resmi bahwa angka tersebut telah direvisi setelah peringatan terbaru mengenai konflik global.
Mengapa Ekonomi Global Bisa Turun ke 1,3 Persen?
Bank Dunia menyusun beberapa skenario untuk mengukur dampak konflik Timur Tengah terhadap perekonomian dunia.
Skenario terburuk memperhitungkan pertempuran yang berlangsung sekurang-kurangnya enam bulan, kerusakan fasilitas produksi minyak, serta gangguan berkepanjangan pada jalur perdagangan utama.
Gangguan di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb dapat menghambat pengiriman minyak, gas, pupuk, belerang, helium, dan berbagai bahan penting lainnya. Kondisi tersebut bukan hanya menaikkan biaya energi, tetapi juga memengaruhi produksi pangan dan industri.
Tekanan menjadi semakin nyata ketika harga minyak kembali bergerak mendekati 100 dolar AS per barel. Kenaikan biaya energi dapat menghidupkan kembali ancaman stagflasi, yaitu kondisi ketika pertumbuhan ekonomi melemah tetapi inflasi tetap tinggi.

Angka 1,3 Persen Bukan Ramalan Pasti
Masyarakat perlu memahami bahwa Bank Dunia belum menyatakan ekonomi global pasti hanya tumbuh 1,3 persen.
Angka tersebut merupakan hasil pemodelan untuk skenario paling buruk. Realisasi pertumbuhan akan bergantung pada durasi konflik, pergerakan harga minyak, kelancaran perdagangan, kebijakan bank sentral, serta kemampuan pemerintah melindungi ekonomi domestik.
Apabila konflik mereda dan jalur energi kembali beroperasi normal, dampaknya dapat lebih kecil dibandingkan skenario tersebut.
Sebaliknya, apabila konflik meluas ke negara penghasil minyak lainnya, kerusakan infrastruktur semakin besar, atau jalur pelayaran terus ditutup, risiko terhadap pertumbuhan dan inflasi akan meningkat.
Harga Minyak Menjadi Ancaman Utama
Minyak mempunyai pengaruh besar terhadap hampir seluruh kegiatan ekonomi.
Kenaikan harga minyak meningkatkan biaya bahan bakar, listrik, transportasi, produksi, logistik, perjalanan udara, pertanian, dan distribusi barang.
Produsen dapat meneruskan peningkatan biaya tersebut kepada konsumen melalui kenaikan harga jual. Hal inilah yang berpotensi membuat inflasi kembali meningkat meskipun permintaan masyarakat sedang melemah.
Kenaikan minyak menuju sekitar 100 dolar AS per barel juga mendorong imbal hasil obligasi global naik karena pasar kembali memperkirakan bank sentral harus mempertahankan atau menaikkan suku bunga.
Inflasi Global Bisa Mencapai 4,5 Persen
Dalam skenario konflik berkepanjangan, Bank Dunia memperkirakan inflasi utama dunia dapat mencapai 4,5 persen.
Peningkatan tidak hanya berasal dari bahan bakar. Gangguan pasokan pupuk dan bahan pendukung pertanian dapat menaikkan biaya produksi pangan.
Harga makanan juga dapat meningkat akibat biaya diesel untuk mesin pertanian, transportasi, pengolahan, pendinginan, dan pengemasan.
Negara dengan porsi pengeluaran makanan yang besar dalam konsumsi rumah tangga akan menghadapi tekanan lebih berat. Negara berkembang di Asia, termasuk Indonesia, termasuk kelompok yang dinilai rentan terhadap kombinasi kenaikan biaya pangan dan energi.
Risiko Besar bagi Negara yang Memiliki Banyak Utang
Bank Dunia mencatat sekitar 40 persen negara berpendapatan rendah dan menengah sudah mengalami tekanan utang atau berada dalam risiko tinggi untuk mengalaminya.
Jumlah tersebut mencakup sekitar 32 negara. Risiko dapat meningkat dengan cepat apabila inflasi memaksa bank sentral menaikkan suku bunga.
Suku bunga tinggi membuat biaya penerbitan utang baru dan pembayaran kembali utang lama menjadi lebih mahal.
Rasio utang terhadap produk domestik bruto negara berkembang dan pasar berkembang rata-rata mencapai sekitar 74 persen pada 2025. Sebelum pandemi, angkanya berada di kisaran 50–55 persen.
Untuk negara berpendapatan rendah, rasio rata-rata mencapai 67 persen, meningkat dari sekitar 40 persen sebelum pandemi.
Negara yang harus mengalokasikan lebih banyak anggaran untuk membayar bunga dapat terpaksa mengurangi dana pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, dan pembangunan infrastruktur.
Ancaman Krisis Utang Baru
Indermit Gill menggambarkan masalah utang sebagai krisis yang berkembang secara perlahan.
Negara tidak harus langsung gagal membayar utang untuk mengalami dampak serius. Pembayaran bunga yang semakin besar dapat menghabiskan anggaran yang seharusnya digunakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Sebagian negara mungkin membutuhkan restrukturisasi atau penghapusan sebagian utang berdasarkan kondisi masing-masing.
Bank Dunia menilai perbaikan mekanisme restrukturisasi utang oleh kelompok negara G20 telah berlangsung, tetapi prosesnya masih relatif lambat dibandingkan peningkatan risiko yang dihadapi negara berkembang.
Bagaimana Dampaknya terhadap Indonesia?
Dampak kepada Indonesia dapat muncul melalui harga energi, nilai tukar rupiah, inflasi, perdagangan, biaya utang, serta penurunan permintaan ekspor.
Indonesia memang memiliki produksi minyak dan gas, tetapi kebutuhan bahan bakar domestik membuat perubahan harga energi global tetap berpengaruh terhadap anggaran dan perekonomian.
Apabila minyak terus mahal, biaya subsidi dan kompensasi energi berpotensi meningkat. Pemerintah kemudian harus memilih antara menambah anggaran, menyesuaikan kebijakan energi, atau mengurangi belanja pada program lain.
Analisis ini merupakan kemungkinan berdasarkan jalur transmisi ekonomi, bukan revisi resmi terbaru Bank Dunia terhadap proyeksi Indonesia. Laporan Bank Dunia sebelumnya memang menekankan pentingnya meningkatkan ketepatan sasaran dan efisiensi belanja terkait energi untuk menjaga ruang fiskal.
Proyeksi Indonesia Masih 5 Persen
Dalam laporan Indonesia Economic Prospects: Managing Risks, Unlocking Productivity, Bank Dunia memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,0 persen pada 2026.
Pertumbuhan diperkirakan meningkat menjadi sekitar 5,2 persen pada 2027 dan 2028. Bank Dunia menilai tekanan eksternal dapat menahan investasi serta ekspor pada 2026 sebelum pemulihan berlangsung pada dua tahun berikutnya.
| Tahun | Proyeksi pertumbuhan Indonesia |
|---|---|
| 2025 | 5,1 persen |
| 2026 | 5,0 persen |
| 2027 | 5,2 persen |
| 2028 | 5,2 persen |
Bank Dunia juga menilai permintaan domestik masih menjadi penopang penting perekonomian Indonesia.
Konsumsi rumah tangga, investasi dalam negeri, dan belanja pemerintah membantu mempertahankan pertumbuhan ketika lingkungan ekonomi internasional menghadapi ketidakpastian.
Apakah Proyeksi 5 Persen Bisa Berubah?
Proyeksi tersebut dapat berubah apabila tekanan global lebih berat daripada asumsi yang digunakan dalam laporan Juni 2026.
Laporan Global Economic Prospects Bank Dunia menggunakan data dengan batas akhir 2 Juni 2026. Artinya, sejumlah perkembangan terbaru yang terjadi setelah tanggal tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam proyeksi dasarnya.
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai sumber
Halaman : 1 2 Selanjutnya







Jadilah yang pertama berkomentar
Bagikan tanggapan Anda secara santun. Komentar yang relevan membuat diskusi lebih bermanfaat.