Perempuan paruh baya itu sudah tak mampu menahan emosinya. Dia menjambak rambut anaknya, berusaha meluapkan kemarahan yang luar biasa mengamuk di dalam dirinya.
Tak lagi dia pikirkan anaknya yang menangis meminta ampun. Yang ada di dalam kepalanya hanyalah kekecewaan mengerikan yang merenggut semua kebahagiaannya.
Apa sih ini?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Suara laki-laki membuat perempuan itu berhenti. Dia melepaskan jambakannya pada rambut anaknya, lalu melihat lelaki itu.
Aku gagal, Mas. Aku gagal jadi ibu. Anak ini bejat, Mas. Anak yang kubesarkan selama ini ternyata murahan. Dia ¦ hamil, Mas.
Lelaki itu menatap terkejut pada anak perempuan yang ada di depannya.
Rita yang masih menunduk memperbaiki rambut dan berusaha menghapus air matanya.
Capek aku memenuhi semua kebutuhannya selama ini, tapi dia malah kayak gitu. Apa lagi yang harus kulakukan buat dia? keluh perempuan yang baru menikah lagi enam bulan yang lalu itu.
Lelaki itu diam, begitu juga Rita.
Tolong marahi dia, Mas. Tolong nasihati dia. Mungkin aja dia selama ini butuh nasihat bapak. Aku ¦ sudah nggak didengarkan sama dia, keluh perempuan berwajah manis itu lagi. Aku capek, Mas.
Dia mendekat pada suaminya dan meminta pelukan suaminya, satu-satunya penghiburan yang bisa dia rasakan sekarang.
Tanyakan padanya siapa anak bayinya, Mas. Paling tidak, kita tahu sebarapa kurang ajar kelakuannya di luar rumah, pinta perempuan itu lagi.
Namun, suaminya diam saja.
Dia mendongak. Mas! Jangan diam aja! Kamu juga bapaknya. Kamu punya hak untuk marahi dia, Mas.
Bibir bagian bawah lelaki itu membuka. Dengan jelas terlihat bibir itu gemetar. Lelaki itu kelu. Dia tak bisa lagi mengatakan apa pun untuk siapa pun.
Perempuan itu melihat anak gadisnya yang semakin menunduk. Sesekali anak itu mendongak untuk melihat ayah tirinya, tapi kemudian dia menunduk lagi setelah melihat pada ibunya.
Kesedihan dalam diri perempuan itu semakin menjadi. Tak perlu IQ yang sangat tinggi untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada seorang ibu pun yang memerlukan penerjemah untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Insting seorang perempuan selalu membawa pada kebenaran.
Dia mendorong lelaki yang memeluknya sampai lelaki itu mundur dan menabrak tembok di belakangnya.
KAMU BAJINGAN! KEPARAT! LAKI-LAKI LAKNAT! BERANI KAMU HAMILI ANAKKU!
***
Baca cerita pendek Honey Dee yang lainnya di sini.
Halaman : 1 2






