Budi Arie Tegaskan: Projo Bukan Singkatan Pro-Jokowi, Tapi Berarti Rakyat dan Negeri

- Penulis

Selasa, 4 November 2025 - 15:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Budi Arie Tegaskan: Projo Bukan Singkatan Pro-Jokowi, Tapi Berarti Rakyat dan Negeri

Budi Arie Tegaskan: Projo Bukan Singkatan Pro-Jokowi, Tapi Berarti Rakyat dan Negeri

Redaksiku.com – Ketua Umum organisasi relawan Projo, Budi Arie Setiadi, meluruskan anggapan publik yang selama ini mengaitkan nama organisasinya dengan sosok Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Ia menegaskan, istilah Projo bukan singkatan dari Pro-Jokowi, melainkan berasal dari akar kata dalam bahasa Sanskerta dan Jawa Kawi yang memiliki makna jauh lebih luas dan filosofis.

Pernyataan itu disampaikan Budi Arie usai Kongres III Projo yang berlangsung di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, pada Sabtu (1 November 2025). Dalam forum tersebut, Budi menjelaskan kembali identitas dan makna historis organisasi Projo, terutama di tengah transisi dukungan politik pasca pemerintahan Jokowi.

Bukan Pro-Jokowi, tapi Bermakna Negeri dan Rakyat

Projo itu bukan singkatan. Dalam bahasa Sanskerta, Projo berarti ˜negeri™. Sementara dalam bahasa Jawa Kawi, Projo berarti ˜rakyat™. Jadi sejak awal, kami mengusung semangat mencintai negara dan rakyat, bukan sekadar figur, ujar Budi Arie di hadapan awak media usai penutupan kongres.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menekankan bahwa nilai-nilai dasar Projo tidak pernah terbatas pada dukungan terhadap satu individu atau tokoh politik, melainkan berakar pada semangat kebangsaan dan keberpihakan kepada rakyat kecil.

Kaum Projo adalah kaum yang mencintai negaranya dan berdiri untuk rakyat. Itulah filosofi dasar kami, tambah Budi Arie.

Label Pro-Jokowi Disebut Hasil Penafsiran Media

Budi juga mengungkapkan bahwa istilah Pro-Jokowi sebenarnya muncul bukan dari internal organisasi, melainkan dari pemberitaan media massa pada masa awal berdirinya gerakan relawan tersebut menjelang Pemilihan Presiden 2014.

Memang tidak pernah ada singkatan resmi. Istilah Projo-Pro-Jokowi itu muncul karena teman-teman media yang menyebutnya begitu, mungkin karena lebih mudah diucapkan saja, katanya sambil tersenyum.

Menurut Budi, pada masa itu Projo memang dikenal sebagai salah satu organisasi relawan utama yang mendukung JokowiJusuf Kalla, sehingga wajar jika publik kemudian mengaitkannya dengan sosok presiden. Namun, ia menegaskan bahwa identitas Projo sebagai organisasi tetap lebih luas dari sekadar dukungan elektoral.

Budi Arie Tegaskan: Projo Bukan Singkatan Pro-Jokowi, Tapi Berarti Rakyat dan Negeri
Budi Arie Tegaskan: Projo Bukan Singkatan Pro-Jokowi, Tapi Berarti Rakyat dan Negeri

Kongres III Projo dan Dukungan terhadap Pemerintahan Prabowo

Dalam kesempatan yang sama, Budi Arie juga menegaskan bahwa Projo kini mendukung penuh agenda pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Langkah ini, menurutnya, merupakan bentuk konsistensi perjuangan organisasi untuk mendukung program pembangunan nasional yang pro-rakyat dan berkelanjutan.

Dalam kongres kali ini, kami sepakat untuk memperkuat dukungan terhadap pemerintahan Prabowo Subianto. Fokus kami tetap sama, yaitu memperjuangkan rakyat dan memperkuat negeri, ujar Budi.

Ia menilai, keberlanjutan pembangunan pasca era Jokowi harus dijaga, dan Projo akan berperan aktif mengawal kebijakan pemerintah agar tetap berpihak pada masyarakat kecil.

Kita ingin memastikan bahwa semangat kerja keras, keberpihakan kepada rakyat, dan cinta tanah air tetap terjaga. Itulah semangat Projo yang sebenarnya, tegasnya.

Akar Filosofis Nama Projo

Budi Arie menjelaskan, penggunaan nama Projo sebagai identitas organisasi memiliki makna historis yang mendalam.
Dalam bahasa Sanskerta, kata Praja atau Projo memiliki arti tanah air, negeri, atau pemerintahan. Sementara dalam bahasa Jawa Kawi, istilah yang sama berarti rakyat atau warga negara.

Jadi ketika kami mendirikan organisasi ini, makna itu yang ingin kami tonjolkan. Bahwa perjuangan politik tidak boleh lepas dari cinta kepada negeri dan rakyat, jelas Budi.

Ia menambahkan, filosofi itu pula yang menjadi alasan organisasi ini terus bertahan bahkan setelah dua periode pemerintahan Jokowi berakhir.
Kami tidak pernah menjadi sekadar alat politik sesaat. Kami lahir dari semangat kerakyatan dan tetap konsisten mengawal agenda bangsa, ujarnya.

Projo dan Evolusi Gerakan Relawan Politik di Indonesia

Projo didirikan pada tahun 2013 menjelang Pilpres 2014. Saat itu, gerakan ini dikenal sebagai salah satu simpul utama relawan Jokowi yang memainkan peran penting dalam membangun basis dukungan akar rumput.

Namun, menurut Budi Arie, sejak awal Projo juga dimaksudkan sebagai gerakan sosial dan edukatif untuk meningkatkan partisipasi rakyat dalam politik nasional.
Relawan bukan sekadar pendukung kampanye. Relawan adalah penggerak partisipasi publik untuk membangun negara, tegasnya.

Kini, setelah satu dekade berdiri, Budi mengklaim Projo telah berevolusi menjadi organisasi yang lebih matang dan berorientasi pada pendidikan politik masyarakat, pemberdayaan ekonomi rakyat, serta pengawasan terhadap jalannya pemerintahan.

Menjaga Semangat Nasionalisme dan Cinta Tanah Air

Dalam pidatonya di Kongres III, Budi Arie juga menyinggung soal pentingnya menjaga semangat nasionalisme di tengah polarisasi politik.
Menurutnya, Projo ingin menjadi wadah bagi masyarakat yang percaya bahwa politik harus dijalankan dengan semangat cinta tanah air, bukan permusuhan antar kelompok.

Projo berdiri di atas semangat persatuan. Kita bukan organisasi untuk mengkultuskan tokoh, tapi untuk menjaga api nasionalisme dan gotong royong, ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa dalam era digital saat ini, tantangan terbesar bangsa adalah melawan disinformasi dan perpecahan akibat politik identitas.

Rakyat harus cerdas, jangan mudah diadu domba. Kalau kita cinta negeri ini, maka tugas kita menjaga persatuan, tegas Budi.

Projo dan Pemerintahan Baru

Menanggapi arah politik nasional pasca kemenangan Prabowo Subianto, Budi menyebut bahwa Projo akan bersikap konstruktif.
Organisasi ini, kata dia, siap mendukung program-program yang berpihak pada kepentingan rakyat, namun tetap akan mengkritisi secara objektif jika ada kebijakan yang tidak sejalan dengan semangat keadilan sosial.

Kita tetap akan mendukung pemerintahan baru, tapi dukungan itu kritis dan produktif. Karena cinta kepada negeri juga berarti berani mengoreksi demi kebaikan bersama, ujarnya.

Menurutnya, hal tersebut sejalan dengan semangat Projo yang menempatkan negara dan rakyat di atas kepentingan politik praktis.

Menegaskan Identitas Projo Pasca-Jokowi

Budi mengakui, setelah dua periode pemerintahan Jokowi berakhir, Projo sempat dihadapkan pada tantangan redefinisi identitas. Banyak yang mempertanyakan ke mana arah organisasi itu akan melangkah setelah tokoh yang selama ini mereka dukung tidak lagi menjabat presiden.

Pertanyaan itu wajar. Tapi kami sudah punya jawabannya: kami tetap berjuang untuk rakyat dan bangsa, bukan untuk figur semata, katanya.

Menurut Budi, keberlangsungan Projo membuktikan bahwa organisasi tersebut memiliki fondasi ideologis yang kuat dan tidak bergantung pada tokoh.

Jadi meskipun nama kami dulu diasosiasikan dengan Jokowi, semangat kami tetap sama Projo berarti negeri, Projo berarti rakyat, tegasnya.

Penutup: Dari Gerakan Relawan Menjadi Gerakan Kebangsaan

Kisah perjalanan Projo menggambarkan transformasi dari gerakan relawan politik menjadi gerakan kebangsaan yang lebih luas.
Budi Arie menilai, dinamika politik Indonesia memerlukan organisasi masyarakat yang mampu menjembatani semangat rakyat dan arah pembangunan negara.

Kalau kita ingin Indonesia maju, semua harus punya komitmen terhadap negeri ini. Itulah yang kami perjuangkan lewat Projo, katanya.

Ia menegaskan, selama organisasi ini masih berdiri, semangat Projo tidak akan berubah berpihak pada rakyat, menjaga negeri, dan mengawal pemerintahan agar tetap pro-kepentingan bangsa.

Bagi kami, Projo bukan soal nama. Ia adalah semangat untuk mengabdi kepada tanah air dan rakyat Indonesia, tutup Budi Arie.

Ikuti berita viral dari Redaksiku di Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Penulis : Redaksiku

Editor : Redaksiku

Sumber Berita: Berbagai sumber

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kaesang Masuk Dapil Puan, Persaingan Pemilu 2029 Mulai Memanas
14 Calon Hakim Agung dan Ad Hoc Lolos Komisi III, Berikut Daftarnya
Apa Tugas BPK? Ini Peran dan Temuan Terbarunya di 2026
Pemda Kesulitan Bayar Gaji PPPK, Perlukah Moratorium Pengangkatan?
Megawati Soekarnoputri Bicara Soal Posisi PDIP, Singgung Hubungan dengan Prabowo
Motor Bensin Bisa Ditukar Motor Listrik? Pemerintah Siapkan Skema Nasional
Pertalite Bakal Dibatasi untuk Desil 9-10, Siapa Saja yang Termasuk?
Cek Desil Bansos 2026 Pakai NIK, Begini Cara Tahu Masuk Desil 1, 2, 3 atau 4

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Kamis, 13 Agustus 2026 - 21:57 WIB

Kaesang Masuk Dapil Puan, Persaingan Pemilu 2029 Mulai Memanas

Kamis, 13 Agustus 2026 - 21:40 WIB

14 Calon Hakim Agung dan Ad Hoc Lolos Komisi III, Berikut Daftarnya

Kamis, 13 Agustus 2026 - 21:18 WIB

Apa Tugas BPK? Ini Peran dan Temuan Terbarunya di 2026

Kamis, 13 Agustus 2026 - 20:54 WIB

Megawati Soekarnoputri Bicara Soal Posisi PDIP, Singgung Hubungan dengan Prabowo

Kamis, 13 Agustus 2026 - 20:45 WIB

Motor Bensin Bisa Ditukar Motor Listrik? Pemerintah Siapkan Skema Nasional

Berita Terbaru

Apa Tugas BPK? Ini Peran dan Temuan Terbarunya di 2026

Politik

Apa Tugas BPK? Ini Peran dan Temuan Terbarunya di 2026

Kamis, 13 Agu 2026 - 21:18 WIB