Amira menyeka air mata dengan tangannya.
Apa karena aku nggak ngajak kamu jogging tadi pagi? Aku kembali bertanya saat kulihat ia masih diam.
Kalau aku ngomong, kamu janji nggak akan marah? Akhirnya Amira bersuara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Cepat aku mengangguk. Aku duduk bersila di karpet biru laut yang lembut dengan motif Arab. Amira memandangku lalu dengan ragu ia mulai bicara.
Mas merasa nggak kalau beberapa tahun terakhir ini kamu berubah?
Aku terhenyak, tapi kutahan untuk tidak menjawab.
Mas mulai nggak perhatian, makin sibuk kerja. Kalau ada waktu libur seperti hari ini, Mas lebih memilih olahraga sama teman-temanmu ketimbang sama aku. Amira berhenti sejenak untuk melihat reaksiku.
Aku masih belum bersuara.
Kamu nggak tahu kan kalau aku sering merasa kesepian di sini. Aku nggak kerja, nggak ada teman untuk bicara karena aku takut untuk keluar sendiri. Aku bosan, Mas! Aku pikir, kalau kamu libur, kita bisa jalan-jalan berdua. Ternyata aku salah! Liburan kamu pake untuk kumpul sama teman-temanmu, seru Amira dengan nada tinggi.
Masa hanya karena masalah itu kamu minta cerai? Come on, Mira. Kita bukan remaja lagi, yang kalau nggak suka sesuatu bisa seenaknya minta pisah! Aku menjawab keras. Rasanya ada uap panas yang siap menyembur dari ubun-ubun kepalaku. Sakit kepala yang tadi sempat hilang, kini muncul lagi.
Amira terhenyak. Wajah cantiknya memucat.
Kamu kan bisa bilang baik-baik, kasih tahu aku kalau kamu nggak suka sikapku!
Mas! Kamu udah janji nggak akan marah kalau aku ngomong. Gimana aku mau terbuka kalau belum apa-apa suara kamu udah kencang kayak gini?
Aku marah karena permintaan kamu yang nggak masuk akal. Hanya karena aku nggak ngajak kamu jalan-jalan, terus kamu dengan entengnya ngancam minta pisah. Grown up, Amira!
Perempuan itu menatapku dengan mata berkaca-kaca.
Sekarang aku tanya sama kamu. Apa pernah selama menikah, aku ngomong kasar atau mukul kamu? Nyakitin kamu? Pernah? Jawab!
Air mata Amira mengalir deras. Bahunya naik turun menahan isakan yang semakin kencang.
Kamu sadar nggak sih, cerai itu bukan hal sepele yang bisa dilakukan dengan mudah. Itu perkara yang sangat dibenci Allah, meskipun dibolehkan dalam agama kita. Istighfar, Amira! Aku melunak karena tidak tega melihat perempuan terkasih itu menderita.
Maafkan aku. Aku salah. Sehabis berkata lirih, Amira bangkit meninggalkanku seorang diri.
Aku kembali ke sofa dan menyandarkan tubuh. Tiba-tiba aku merasa sangat lelah, bukan karena habis bersepeda, tetapi karena berusaha menyimpan emosi yang siap meledak. Sungguh, aku tidak menyangka istriku meminta hal yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Pernikahan kami selama ini baik-baik saja, kalau ada sesekali berbeda pendapat, rasanya masih bisa diterima. Rumah tangga mana yang selalu damai tanpa ada pertengkaran?
Kususul istriku ke kamar. Ia sedang berbaring membelakangi pintu masuk. Perlahan aku mendekat, mengelus lembut punggungnya. Ia terkejut dan berbalik menghadapku.
Maafkan aku, Mas. Aku manja, ya? Selalu mengeluh, nggak tahu kalau kamu udah capek di kantor dan butuh refreshing. Ia menatapku sebelum melanjutkan. Tapi aku memang ngerasa kamu makin jauh, Mas. Bukan hanya masalah hari ini aja, tapi masih banyak hal yang harus kita bicarakan. Aku lelah, Mas. Apa salahku? Kenapa kamu seolah menjauh? tanyanya bertubi-tubi.
Aku bergeming. Memang kuakui, sejak pindah ke Riyadh, ada rasa malas dan segan untuk berbagi cerita ke Amira. Jujur, ada rasa kecewa karena ia belum hamil juga, tetapi hal itu tidak mungkin aku katakan.
Maaf, Pak Bayu, laporannya ditunggu Pak Syarif. Suara Abdullah menghentikan lamunan panjangku. Aku tersenyum dan mengangguk.
Sebentar lagi saya serahkan.
-bersambung-

https://www.redaksiku.com/tag/bertahandiataslukayasmira/
Halaman : 1 2






