
Because of You, Re!
Part 3: Makan Malam Keluarga?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dito setengah tiga sudah sampai di kantor event organizer milik istrinya, tetapi Rere sudah tidak ada di tempat. Menurut informasi dari satpam kantor Rere, bahwa bos petugas keamanan tersebut sudah meninggalkan kantor sejak siang.
Dito yang berniat menghubungi istrinya, dia terkejut di layar terdapat notifikasi pesan dengan nama Lovely Wife. Lelaki itu tersenyum, akhirnya ada pesan balasan setelah berhari-hari chat yang ia kirim selalu berakhir dengan centang dua yang tidak kunjung biru.
Aku sudah di rumah kamu, jangan terlambat!
singkat, satu kalimat yang mampu membuat bibir kedua sudut Dito tertarik berlawan yang cukup lebar. Bungah yang sulit dia ucapkan, hingga kakinya melangkah dengan lebar, sedikit berlari menuju mobilnya.
Di jalan raya, ia juga mempercepat laju dari setelan biasanya ia mengemudi. Dito ingin segera sampai rumah, bertemu istrinya yang akhirnya sudi untuk pulang.
Begitu antusias untuk bertemu perempuan yang membuat Dito bisa melakukan hal gila seperti pernikahan kontrak, lelaki itu kembali berjalan dengan cepat dan langkah lebarnya setelah memarkirkan mobilnya di car spot.
Re, panggil Dito setelah melihat sosok perempuan yang sore itu rambutnya sedang di kuncir kuda. Gaya penataan rambut yang tidak pernah Dito sukai, seandainya ia bisa memprotes pada istrinya yang tidak tersentuh sinyal kebucinannya.
Dito mulai terbiasa dengan sikap Rere yang tidak lagi menjawab setiap memanggil perempuan itu. Hanya tatapan tajam seperti itu sudah cukup di situasi ini. Dengan begitu, kehadirannya masih perempuan anggap dan apa yang akan ia sampaikan juga disimak oleh rungu istrinya.
Pakai setelan itu untuk makan malam nanti, kata Rere menyerahkan paper bag pakaian bermerk.
Dito menerima pemberian perempuan yang berekspresi arogan itu kemudian memeriksa isinya. Setelan kaos berkerah warna cokelat gelap dengan celana cargo kream.
Ini terlihat santai sekali, Re! Reaksi Dito saat melihat desain baju yang menurutnya akan terlihat kurang sopan jika dipakai di hadapan mertuanya.
Pakai itu untuk nanti, kata Rere yang seakan tidak mendengar komentar kurang suaminya.
Tapi nanti ada papamu, aku belum pernah pakai pakaian seperti ini. Dito mencoba menjelaskkan konteks kenapa dia tidak bisa menggunakan baju yang diberikan oleh Rere. Jika itu adalah kemeja formal, maka dia akan memakai tanpa melayangkan koreksi. Bagaimana jika nanti Afrizal Hutama merasa tidak dijamu dengan baik karena ia menggunakan pakaian yang terlewat santai.
Sama seperti keluarganya, keluarga Rere adalah keluarga yang terpandang di kalangan pengusaha dan penguasa. Nama besar itu disematkan kepada papa istrinya yang merupakan seorang perintis sukses. Tentunya, di interaksi yang selama ini terbatas dengan Afrizal Hutama membuat Dito merasa salah dengan pilihan outfit yang diberikan perempuan di depannya itu.
Kamu akan makan malam keluarga, bukan sama kolega kerja? jelas Rere dengan intonasinya yang lebih rendah dari sebelumnya. Ia sudah lelah dengan ekspresi tegang dan kondisi kehidupannya beberapa hari belakang setelah resmi menyandang istri Dito dan kejadian yang memancing amarah saat ia bangun di pagi hari ke dua pernikahan saat Rere mengingatnya.
Jadi, kita sudah menjadi keluarga? konfirmasi Dito yang melayang karena mengakui statusnya sebagai keluarga, atau jika pengusaha perhotelan itu definisikan lebih kecil artinya ia diakui sebagai suami.
Rere menghela napas kasar sebagai reaksi terserah akan apapun yang lahir dari imajinasi Dito kemudian Rere memutar bola mata malas yang dilanjutkan meninggalkan lelaki itu menuju kamarnya.
Azan magrib sudah berkumandang sedari tadi, Rere masih mengamati riasannya yang tidak ada spesial. Hanya cussion dan pewarna merah lipstik yang membuatnya terlihat segar di dandanan rumah. Ketika ponselnya berdenting dari perempuan yang melahirkannya, dari pop up terlihat bahwa ibunya mengabarkan bahwa kurang dari 10 menit akan sampai di kediaman rumah Dito.
Rere keluar kamar dan menuruni tangga. Saat sudah sampai di ruang tamu, ia melihat pemilik rumah yang mengenakan pakaian yang ia serahkan sore tadi. Tidak buruk pakaian itu melekat pada tubuh lelaki yang terpaksa menjadi suami Rere. Setidaknya, hanya melihat pakaian antara dirinya dan Dito saja, maka tidak akan mengundang nasihat membosankan dari dua orang yang akan datang.
Dito langsung berdiri ketika melihat Rere yang menjalan mendekat ke arahnya. Penampilan istrinya malam ini terlihat segar dan tenang. Menggunakan midi dress warna coklat susu, justru semakin menajamkan warna putih dari kulit Rere. Belum lagi wajah yang terlihat tanpa make up karena tipisnya beda yang dipakai istrinya membuat wajah itu terlihat kalem dan cerah pada bagian bibir yang menonjol merah muda. Jangan lupakan rambut terurai dengan sedikit rambut di dekat daun telinga terjepit oleh jepit tipis berwarna hitam. Rere seakan terlihat sebagai perempuan di awal dua puluh tahunan selain itu terlihat lembut tidak seperti emosi keseharian wanita itu yang seakan mau memakan manusia.
Cantik, puji tulus Dito yang tidak melepas pindaiannya dari perempuan yang membuatnya jatuh suka.
Ungkapan tulus itu tidak mendapat respon kecuali ekspresi Rere yang tetap datar. Akhirnya Dito menghela napas dan mencoba menguasai pembawaan dirinya. Lelaki itu melirik ke arah tablet yang menanyangkan rekaman langsung CCTV di area gerbang rumah dimana ada mobil mertuanya yang masuk ke halaman rumah.
Papa-Mama sudah sampai, Re. Kita keluar sekarang untuk menyambutnya, ajak Dito.
Ayo!, jawab singkat Rere.
Hal yang mengejutkan bagi Dito ketika tangan wanita yang biasanya ingin menerkamnya hidup-hidup menyelip di lengannya. Tidak usah PD, aku malas mendengarkan ceramah mereka!
Dito tidak bisa untuk menarik sudut bibirnya berlawanan yang menampilkan keteduhan yang semakin membuatnya tampan. Apapun alasan Rere, dia cukup bahagia karena istrinya memulai dulu kontak fisik keduanya walau sebatas memeluk lengan.
Pasangan pengantin baru yang tidak akur itu menunggu dua dua mobil beriringan memasuki area parkir mobil. Mobil yang di depan adalah BMW yang senantiasa digunakan oleh Afrizal. Dari mobil itu keluar kedua orang tua Rere. Sedangkan mobil yang berada di belakang adalah Mini Cooper milik istrinya. Dari mobil tersebut keluar supir yang menyerahkan kunci pada Afrizal.
Melihat pasangan paruh baya yang tampak serasi tersebut, Dito sadar akan alasan istrinya memberikan baju santai. Tampilan Papa Rere malam itu hanya mengenakan kaos oblong warna abu bepadu celana jeans yang tampil serasi dengan ibu mertuanya memakai tunik silver. Tidak ada Afrizal Hutama yang kerap ditemui menggunakan kemeja atau tuxedo. Malam in semua tampak santai dan hangat hanya dari visual berpakaian.
Dua pasang suami istri itu saling berpelukan sebagai sapaan selamat datang kemudian diajak menuju ruang makan untuk menjamu.
Kunci mobil, todong Rere saat mereka sudah berkumpul di meja makan.
Re, kita kan bisa makan dulu, ucap Meta.
Nanti lupa, Ma, jawab Rere.
Afrizal pun menyerahkan kunci kendaraan milik putrinya yang sebelumnya masih terparkir di garasi kediaman Meta dan belum di bawa pindah bersamaan Rere yang mereka tahu menetap di rumah Dito. Oleh karenanya, makan malam ini selain makan malam keluarga juga untuk mengantarkan mobil milik Rere.
Masakannya lezat, Re. Beli? tanya Meta.
Dito melirik Rere sebelum menjawab pertanyaan ibu mertuanya. Lelaki itu takut salah menjawab dan membuat kadar kebencian istrinya bertambah. Sayangnya, Rere hanya hanya diam menikmati makanan.
Engga usah mengarang cerita kalau ini Rere yang masak, ya! ucap Meta lagi saat ia melihat menantunya menatap putrinya.
Tentu saja mendapat cuitan demikian, Dito mengalihkan pandang dengan senyum tanggung pada ibu mertuanya. Dito panggil chef dan assisten dapur hotel untuk mengurus hidangan malam ini, Ma, jawab Dito jujur yang ternyata tidak mendapatkan reaksi apapun dari Rere. Istrinya benar-benar acuh.
Rere tidak payah lo, Dit, kalau soal masak. Tapi, masakan dia itu mahal. Papa saja tidak sanggup membelinya, timpal Afrizal yang ada benarnya. Rere bisa masak, tapi tidak pernah membiarkan lelaki paruh baya itu untuk mencicipi. Jika bukan waktu itu Afrizal sedang drop dan hanya mau makan jika itu masakan Rere, maka dengan penuh bujuk dan permohonan Meta akhirnya sang putri rela membuatkanya hidangan.
Rere yang mendengar sindiran Papanya hanya merotasi mata tanpa berniat menimpali. Perempuan itu seakan makan sendiri yang tidak berniat bergabung dalam hangat obrolan tiga orang yang makan di meja yang sama dengannya.
Setelah menikmati hidangan mereka berpindah untuk ke ruang keluarga. Obrolan yang lebih santai tidak membuat Rere turut bergabung dalam perbincangan tersebut. Jika dirinya terpaksa buka suara maka hanya satu kata. Iya, tidak, mungkin, atau hanya nonverbal gendikan bahu.
Meta yang melihat itu hanya menatap sendu dengan putrinya yang hatinya mengeras itu. Dia merasa bersalah pada Dito dan juga khawatir jika lelaki itu lelah, memilih meninggalkan putrinya. Sebagai perempuan yang melahirkan Rere, dia tidak ingin anak semata wayangnya hanya hidup sendiri ketika ia dan Afrizal meninggal nanti.
Re, kamu sudah menikah. Bisa sedikit saja kamu berubah, Nak?
Mama masih mau di sini? Aku capek kerja, boleh istirahat duluan?
Re! spontan Dito menegur istrinya namun ucapannya tidak di teruskan karena Meta mengangkat telapak tangan untuk melarang menantunya meneruskan untuk menegur. Istri kedua Afrizal itu tidak ingin jika Rere dan suaminya bertengkar.
Meta sangat paham dengan peringai manusia yang keluar dari rahimnya itu. Rere yang mawarisi keras sikap dari ayahnya tidak mau benteng pertahanannya di dobrak. Jika sudah menghindari seperti itu, Rere bisa saja melakukan gashlighting. Jadi, itu semacam peringatan bahwa pembicaraan tersebut agar tidak dilanjut.
Ya udah, Mama sama Papa pulang. tapi sebelum itu bagaimana kalau kita foto dulu yuk? ucap Meta.
Rere dalam mode agar semua segera selesai tidak mengatakan apapun. Ia bangkit dari duduk di sofa samping Dito berpindah duduk di sofa yang panjang cukup empat orang samping Meta.
Meta pun menepuk paha suaminya agar bergeser pojok yang dimengerti Afrizal sehingga lelaki itu mengeser dan disusul dengan meta yang juga menarik putrinya untuk merapat hingga sisi yang kosong sekarang tepat di samping kiri Rere. Space agar di duduki Dito dan mereka tampak sebagaimana keluarga yang cemara.
Awalnya selfi menggunakan hape dengan Meta yang memegang ponsel, kemudian Dito yang merasa tidak enak dengan ibu mertuanya meminta izin bagaimana jika dirinya saja yang mengambil memotret serta dia juga memanggil seorang pelayan agar membantu untuk membidik.
Sesi dokumentasi selesai, Dito dan Rere pun mengantar pasangan suami yang lebih senior untuk pulang.
Papa minta maaf belum bisa jadi ayah yang baik buat kamu, kata Afrizal saat memeluk putrinya yang tidak membalas pelukannya. Setelahnya lelaki paruh baya itu menggiring Meta untuk masuk ke dalam BMW.
Dito dan istrinya masih berdiri bersisian sampai mobil yang dikendari mertuanya menghilang keluar dari gerbang rumah.
Kalau begitu aku juga akan pulang, ucap Rere yang kemudian berbalik ke dalam rumah untuk mengambil tas.
Dito langsung mengejar dan mencekal tangan perempuan penghuni hatinya. Ini kan rumahmu juga, Re! kata Dito setelah dia menghentikan langkah istrinya.
Rumah kamu, ucap Rere dengan tegas.
Rumah suami kan rumah istri ¦, ucap Dito terpotong karena Rere melepaskan cekalan tangannya dan kembali berjalan tidak mau mendengar lanjutan apa yang akan ia ucapkan.






