Redaksiku.com – Laju pemulihan kinerja PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk atau yang dikenal sebagai EXCL setelah proses merger masih terus diwarnai oleh berbagai tantangan operasional serta upaya efisiensi yang ketat. Meskipun angka pendapatan pada kuartal II-2026 mampu melampaui estimasi awal pasar, tren pendapatan dari layanan nirkabel yang justru melambat serta kebutuhan belanja modal yang masif tetap menjadi sorotan utama para analis pasar modal.
Dinamika pemulihan margin EBITDA perseroan diperkirakan akan berjalan lebih lambat dibandingkan dengan proses integrasi operator telekomunikasi lainnya di Indonesia. Perhitungan basis pelanggan dari merek yang lebih kecil memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap kecepatan perbaikan kondisi keuangan secara keseluruhan dalam jangka panjang.
Pengembalian spektrum frekuensi 900 MHz kepada pemerintah diproyeksikan mampu menghemat biaya operasional hingga Rp 1,1 triliun setiap tahunnya mulai 2027.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan catatan riset dari berbagai lembaga keuangan terkemuka, terdapat beberapa faktor penting yang memengaruhi laju bisnis perseroan saat ini:
- Kontribusi pelanggan Smartfren yang ditaksir hanya sekitar 15 persen dari total keseluruhan pelanggan EXCL.
- Pendapatan nirkabel inti mengalami koreksi tipis seiring dengan penurunan rata-rata pendapatan per pengguna atau ARPU.
- Lonjakan pendapatan kuartal II-2026 didorong oleh pos interkoneksi dan layanan telekomunikasi lain yang sifatnya cenderung fluktuatif.
Total basis pelanggan EXCL tercatat berada di level 69 juta pada paruh kedua tahun 2026 dengan ekspansi jaringan yang agresif.
Di tengah tantangan bisnis inti tersebut, manajemen mengambil langkah strategis dengan menaikkan target belanja modal atau capex menjadi Rp 20 triliun. Dana segar ini difokuskan secara khusus untuk mempercepat penggelaran infrastruktur telekomunikasi generasi kelima atau 5G dengan memanfaatkan spektrum frekuensi baru.
Prospek Keuangan dan Dividen
Besarnya alokasi belanja modal untuk ekspansi jaringan 5G diperkirakan akan terus menekan posisi arus kas bebas perusahaan dalam beberapa tahun ke depan. Kondisi keuangan yang masih fokus pada penataan infrastruktur ini secara langsung membatasi ruang bagi perusahaan untuk membagikan imbal hasil kepada para pemegang saham dalam waktu dekat.
“Margin EBITDA XLSmart telah membaik secara bertahap pasca merger, meskipun lambat.”
— Ivan Reynaldo Sutheja
Para analis memberikan pandangan yang beragam menyikapi berbagai strategi korporasi yang sedang dijalankan oleh manajemen. UBS Global Research menyematkan rekomendasi netral untuk saham emiten telekomunikasi ini dengan target harga tertentu, sementara J.P. Morgan memberikan pandangan yang lebih konservatif melalui rekomendasi underweight.
Pertanyaan Umum
Bagaimana kinerja pendapatan EXCL pada kuartal II-2026?
Total pendapatan perseroan mencapai Rp 12,20 triliun yang didorong oleh pertumbuhan pos interkoneksi dan layanan telekomunikasi lainnya.
Apa penyebab pemulihan margin EBITDA berjalan lambat?
Proporsi pelanggan dari merek yang bergabung relatif kecil serta ketatnya persaingan industri nirkabel membatasi ruang dorongan ARPU.
Kapan EXCL diproyeksikan kembali membagikan dividen?
Perseroan diperkirakan baru akan mulai membagikan dividen pada tahun 2028 berdasarkan perolehan laba bersih tahun berjalan 2027.
Ringkasan
Kinerja pemulihan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) pasca-merger diwarnai tantangan margin EBITDA yang lambat serta kebutuhan belanja modal masif sebesar Rp 20 triliun untuk ekspansi jaringan 5G.
Meskipun pendapatan kuartal II-2026 melampaui estimasi pasar, pengembalian spektrum frekuensi 900 MHz pada 2027 diproyeksikan menghemat biaya operasional, sementara pembagian dividen diperkirakan baru akan dimulai pada tahun 2028.






