Redaksiku.com – Pasar saham global kembali heboh setelah nilai pasar Netflix Inc. tercatat anjlok tajam hingga Rp414 triliun hanya dalam kurun waktu satu minggu terakhir.
Penurunan besar-besaran ini terjadi setelah Elon Musk, CEO Tesla dan SpaceX, menyerukan boikot terhadap Netflix melalui akun pribadinya di platform X (dulu Twitter).
Dalam unggahan yang langsung viral, Musk menuding bahwa Netflix telah mempromosikan agenda transgender dalam tayangan anak-anak. Ia bahkan menulis cuitan bernada ajakan untuk berhenti berlangganan layanan streaming raksasa tersebut.
Cancel Netflix for the health of your kids, tulis Musk di akun X pada 1 Oktober 2025.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Netflix is grooming our children, lanjutnya dua hari kemudian dalam cuitan terpisah.
Unggahan Musk itu langsung memicu perdebatan besar di jagat maya dan menjadi trending topic global, memunculkan tagar #CancelNetflix di berbagai negara.
Awal Mula: Tuduhan Promosi Agenda Transgender
Dalam cuitannya, Elon Musk mengunggah tangkapan layar dari akun @cb_doge dan @libsoftiktok, yang menyoroti salah satu serial anak berjudul Strawberry Shortcake: Berry in the Big City.
Serial tersebut dituding menampilkan karakter yang merepresentasikan isu transgender dan keberagaman gender secara eksplisit.
Cuitan Musk itu juga disertai gambar Trojan Horse bertuliskan Transgender Woke Agenda dengan teks besar Protect Your Kids.
Unggahan tersebut berhasil menembus lebih dari 92 juta tayangan hanya dalam beberapa jam, dan menjadi bahan diskusi hangat di berbagai forum internet, mulai dari Reddit, X, hingga TikTok.
Dampak Langsung di Pasar Saham
Efek domino dari seruan Elon Musk terasa sangat cepat. Dalam waktu kurang dari lima hari perdagangan, saham Netflix (kode saham: NFLX) langsung merosot tajam sebesar 3,57%, dari level US$1.206 per lembar menjadi US$1.163 pada penutupan perdagangan 6 Oktober 2025.
Penurunan ini tercatat sebagai yang terbesar sejak April 2025, dan menyebabkan nilai pasar Netflix menyusut sekitar Rp414 triliun (mengacu pada kurs saat ini).
| Periode | Harga Saham (USD) | Perubahan | Persentase |
|---|---|---|---|
| 1 Okt 2025 | 1.206,40 | – | – |
| 6 Okt 2025 | 1.163,31 | -43,09 | -3,57% |
| After Hours | 1.161,49 | -1,82 | -0,16% |
| Nilai Pasar Hilang | ‰ˆ Rp414 Triliun |
Bagi perusahaan sebesar Netflix, penurunan sebesar ini tentu bukan perkara kecil. Apalagi, pasar saham cenderung sensitif terhadap opini tokoh besar seperti Musk yang dikenal memiliki pengaruh kuat di dunia digital dan finansial.
Timeline Cuitan Elon Musk
Agar lebih jelas, berikut rangkuman singkat timeline cuitan Elon Musk yang memicu badai boikot ini:
1 Oktober 2025 (14.42 WIB)
Cancel Netflix for the health of your kids.
Cuitan ini disertai gambar Trojan Horse dengan tulisan Transgender Woke Agenda dan pesan Protect Your Kids.
💥 Tayangan: 92 juta kali
3 Oktober 2025 (15.08 WIB)
Netflix is grooming our children.
Cuitan ini menanggapi unggahan akun @libsoftiktok yang membahas serial anak Strawberry Shortcake.
💥 Tayangan: 36 juta kali
Dua unggahan tersebut sudah cukup untuk mengguncang pasar dan membentuk opini publik global, terutama di kalangan pengguna media sosial konservatif yang kemudian menyerukan boikot massal terhadap Netflix.
Respon Publik: Pro dan Kontra
Gelombang reaksi muncul dari berbagai kalangan.
Bagi sebagian pengguna internet, Musk dianggap sebagai pahlawan moral yang berani menentang konten yang dianggap tidak sesuai dengan nilai keluarga.
Kalau Netflix sudah terlalu jauh membawa isu gender ke tontonan anak-anak, sudah saatnya kita berhenti berlangganan, tulis salah satu pengguna X.
Namun di sisi lain, banyak juga yang menilai bahwa Musk terlalu berlebihan dan menyebarkan sentimen diskriminatif.
Beberapa aktivis hak asasi manusia menilai bahwa seruan boikot Musk justru bisa merugikan komunitas LGBTQ+ yang tengah memperjuangkan representasi di dunia hiburan.
Netflix cuma berusaha menunjukkan keberagaman dan inklusivitas. Bukan berarti mereka ˜menggiring anak-anak™, kata seorang pengguna lain dalam komentar balasan.
Netflix Tetap Optimistis Meski Dihantam Boikot
Menariknya, meski diterpa badai boikot dan tekanan opini publik, Netflix tampak tetap tenang dan percaya diri.
Dalam laporan proyeksi keuangannya untuk kuartal ketiga, Netflix memperkirakan pendapatan mencapai US$11,53 miliar dengan laba per saham (EPS) sebesar US$6,87.
Angka ini bahkan melampaui ekspektasi analis Wall Street, menunjukkan bahwa performa fundamental perusahaan masih kuat.
Netflix juga menaruh harapan besar pada segmen iklan (ad-supported tier) yang diluncurkan untuk pelanggan dengan biaya lebih terjangkau.
Model bisnis baru ini diperkirakan akan melonjak dua kali lipat pada tahun 2026, terutama karena banyak brand besar tertarik untuk bekerja sama dalam sistem iklan Netflix.
Pertumbuhan pelanggan stabil, dan strategi diversifikasi kami masih berjalan sesuai rencana, ungkap salah satu eksekutif Netflix dalam wawancara singkat yang dikutip media AS.
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai Sumber
Halaman : 1 2 Selanjutnya






