Redaksiku.com – Dunia yang penuh dengan kebisingan sering kali membuat suara-suara lembut terabaikan, namun novel grafis terbaru dari Comixology Originals berjudul Quiet justru hadir untuk memberikan ruang bagi mereka yang merasa tersisih. Karya ini merupakan perpaduan antara empati mendalam dan narasi visual yang jujur mengenai pengalaman masa muda, kecemasan, serta dampak dari perundungan. Ditulis oleh Kim-Joy, seorang penulis dan figur publik yang dikenal karena intuisi emosionalnya, buku ini menawarkan perspektif yang sangat personal tentang bagaimana rasanya hidup dengan kecemasan di tengah lingkungan sekolah yang menuntut.
Melalui kolaborasi artistik dengan Alti, Quiet berhasil memvisualisasikan perjuangan internal yang sering kali tak terlihat oleh mata orang lain. Sejak dirilis secara digital pada 22 September 2026, karya ini telah menjadi sorotan karena pendekatannya yang tidak menghakimi terhadap kesehatan mental. Dalam wawancara eksklusif bersama GVN Talking Comics, Kim-Joy membagikan latar belakang di balik penciptaan karakter Mary dan bagaimana pengalaman pribadinya membentuk fondasi emosional dari cerita ini.
Transformasi Kreatif dari Psikologi ke Komik
Perjalanan Kim-Joy menuju dunia literasi grafis bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari niat yang kuat untuk mengurangi stigma kesehatan mental. Sebelum dikenal luas sebagai pembuat konten dan penulis buku masak, ia memiliki latar belakang akademis di bidang psikologi dan sempat bekerja di sektor kesehatan mental dengan aspirasi menjadi psikolog klinis. Pengalaman hidupnya yang bersinggungan langsung dengan tantangan kesehatan mental keluarga menjadi pendorong utama ia terjun ke dunia penulisan fiksi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kesempatan untuk menulis novel grafis datang melalui percakapan dengan pihak Comixology, yang kemudian menjadi pintu bagi Kim-Joy untuk menyalurkan gagasannya. Baginya, komik adalah media yang sangat efektif untuk membangun koneksi dengan pembaca, terutama mereka yang merasa terasing. Ia melihat bahwa setiap karakter yang ia ciptakan, baik dalam bentuk tulisan maupun karya seni kuliner, adalah perpanjangan dari upayanya untuk menyampaikan pesan tentang keberhargaan diri.
Kim-Joy menggunakan latar belakang pendidikan magister psikologi yang dimilikinya untuk memastikan penggambaran kecemasan dalam Quiet tetap terasa autentik dan jujur bagi pembaca muda.
Menggali Realitas Perundungan dan Kecemasan
Karakter utama dalam Quiet, Mary, mencerminkan pengalaman nyata Kim-Joy yang pernah mengalami mutisme selektif saat duduk di bangku sekolah menengah. Penulis ingin memastikan bahwa pembaca yang memiliki tantangan serupa tidak merasa sendirian dalam perjuangan mereka. Melalui riset mendalam mengenai psikologi perundungan, Kim-Joy sengaja menghindari penggambaran pelaku yang satu dimensi atau sekadar jahat tanpa alasan.
Ia menekankan bahwa perundungan sering kali berakar dari ketidakamanan, rasa takut akan kerentanan, dan kebutuhan untuk merasa memiliki kelompok. Meskipun ia mengakui bahwa memahami motivasi pelaku tidak membenarkan tindakan mereka, ia ingin pembaca melihat kompleksitas tersebut. Berikut adalah beberapa elemen penting yang diangkat dalam narasi Quiet:
- Pentingnya validasi emosi bagi remaja yang merasa dunianya tidak dipahami oleh orang dewasa.
- Visualisasi perbedaan antara dunia batin yang penuh warna dengan realitas eksternal yang serba hitam putih.
- Dampak dari perundungan yang tidak selalu bersifat fisik, namun mampu membuat seseorang merasa kecil dan teralienasi.
- Pencarian jati diri melalui kreativitas di tengah tekanan sosial yang menghimpit.
Kolaborasi Visual dan Narasi Masa Depan
Dalam proses kreatifnya, Kim-Joy bekerja sama dengan seniman Alti untuk menerjemahkan naskah menjadi karya visual yang kuat. Alti memberikan kontribusi besar dalam menentukan bagaimana emosi karakter digambarkan di setiap panel. Salah satu detail menarik adalah bagaimana Alti menyisipkan referensi personal, seperti buku karya Kim-Joy sebelumnya, ke dalam kamar Mary, menciptakan dunia yang terasa hidup dan saling terhubung.
Cerita ini berlatar di masa depan, namun Kim-Joy tetap mempertahankan elemen manusiawi seperti kegiatan memanggang kue sebagai bentuk ekspresi diri. Ia percaya bahwa seberapa canggih pun teknologi di masa depan, kebutuhan dasar manusia untuk melakukan sesuatu dengan tangan mereka sendiri akan tetap ada. Hal ini menjadi simbol bahwa di tengah dunia yang terotomatisasi, kreativitas tetap menjadi pelarian yang paling menenangkan.
“Saya ingin anak-anak membaca kisah Mary dan berpikir — oh, ada orang lain yang mengerti juga.”
— Kim-Joy





Pertanyaan Umum
Siapa target pembaca utama dari novel grafis Quiet?
Meskipun novel ini sering dikategorikan sebagai Young Adult (YA) karena latar sekolahnya, Kim-Joy menegaskan bahwa Quiet ditujukan bagi siapa saja yang pernah merasakan alienasi, kesulitan bersosialisasi, atau dampak dari perundungan di berbagai usia.
Bagaimana pendekatan Kim-Joy dalam menulis tentang kesehatan mental?
Kim-Joy menggabungkan pengalaman hidupnya sendiri sebagai individu dengan autisme yang pernah mengalami mutisme selektif, serta latar belakang akademisnya di bidang psikologi. Ia berfokus pada penyampaian perspektif yang jujur dan personal daripada mencoba memberikan penjelasan medis yang definitif.
Di mana pembaca bisa mengakses karya terbaru ini?
Novel grafis Quiet karya Kim-Joy dan Alti tersedia secara digital melalui platform Comixology Originals mulai 22 September 2026.
Ringkasan
Novel grafis berjudul Quiet, yang diterbitkan oleh Comixology Originals pada 22 September 2026, merupakan karya terbaru dari penulis Kim-Joy yang mengeksplorasi isu kesehatan mental, kecemasan, dan perundungan di lingkungan remaja. Melalui kolaborasi artistik dengan Alti, buku ini menyajikan narasi visual yang mendalam mengenai perjuangan internal individu yang merasa terasing di tengah tekanan sosial sekolah.
Kim-Joy memanfaatkan latar belakang akademisnya di bidang psikologi serta pengalaman pribadinya dengan mutisme selektif untuk membangun karakter utama bernama Mary. Dengan pendekatan yang autentik dan minim stigma, karya ini bertujuan untuk memvalidasi perasaan pembaca yang pernah mengalami perundungan, sekaligus menyoroti pentingnya kreativitas sebagai bentuk ekspresi diri di tengah dunia yang semakin kompleks dan terotomatisasi.






