Wall Street Beragam: Investor Pantau Ketegangan AS-Iran

- Penulis

Jumat, 25 September 2026 - 06:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tampilan layar perdagangan saham Wall Street dengan indeks yang bergerak mendatar

Pasar saham Wall Street bergerak mendatar di tengah kekhawatiran investor terhadap ketegangan geopolitik AS-Iran.

Redaksiku.com – Pasar saham Wall Street menutup perdagangan hari Kamis (24/9/2026) dengan pergerakan yang cenderung mendatar akibat tekanan dari kenaikan harga energi dan kekhawatiran terhadap kebijakan moneter. Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak, yang pada gilirannya mendorong imbal hasil obligasi pemerintah ke level yang menekan selera risiko investor terhadap aset saham.

Indeks S&P 500 berakhir melemah tipis 0,02% ke level 7.704,13, sementara Nasdaq Composite mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikan marginal 0,01% di posisi 26.939,37. Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average mencatatkan koreksi sebesar 0,31% menjadi 51.349,98. Meskipun sempat menyentuh titik terendah harian, pasar mendapatkan sedikit napas setelah muncul laporan mengenai potensi dialog antara negosiator Amerika Serikat dan Iran terkait ketegangan di Selat Hormuz.

Dinamika Sektor dan Dampak Geopolitik

Sentimen pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh eskalasi di Timur Tengah, terutama setelah serangan rudal Houthi terhadap fasilitas di Arab Saudi. Situasi ini langsung mengerek harga minyak mentah Brent hingga naik lebih dari 3% ke kisaran US$ 107 per barel, menciptakan kekhawatiran baru mengenai potensi gangguan pasokan energi global.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kondisi ini memberikan tekanan yang tidak merata pada berbagai sektor di Wall Street. Berikut adalah beberapa catatan mengenai performa sektoral pada perdagangan kemarin:

  • Sektor material memimpin pelemahan dengan penurunan sebesar 1,18%, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap biaya produksi.
  • Sektor barang konsumsi pokok juga mengalami tekanan dengan penurunan mencapai 0,96%.
  • Delapan dari 11 indeks sektor utama dalam S&P 500 tercatat berada di zona merah selama sesi perdagangan tersebut.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun mencatatkan lonjakan signifikan hingga mencapai level tertinggi yang belum pernah terlihat sejak tahun 2004.

Kinerja Saham Teknologi dan Valuasi Pasar

Sektor teknologi, yang menjadi penggerak utama pasar dalam beberapa waktu terakhir, menunjukkan pergerakan yang cukup kontras. Fokus investor terbagi antara perusahaan yang meluncurkan inovasi baru dan mereka yang menghadapi kendala operasional.

Meta Platforms menjadi salah satu sorotan utama dengan kenaikan harga saham sebesar 4,5%. Peningkatan ini didorong oleh respons pasar yang positif terhadap peluncuran perangkat genggam asisten kecerdasan buatan (AI) terbaru perusahaan tersebut. Sebaliknya, Microsoft harus rela terkoreksi 0,5% dan Broadcom melemah 1,3% di tengah sentimen pasar yang berhati-hati.

Di luar sektor teknologi, kinerja emiten lain juga mencuri perhatian pasar:

  • Saham Oracle turun 3,5% setelah beredar kabar mengenai pengiriman pemberitahuan force majeure terkait pusat data di New Mexico.
  • Blue Owl, yang bertindak sebagai pengembang proyek tersebut, turut mengalami penurunan tajam seiring dengan sentimen negatif yang menyelimuti Oracle.
  • MGM Resorts mencatatkan penurunan tajam sebesar 11% setelah proposal akuisisi dari pihak Barry Diller resmi ditarik.

Valuasi pasar S&P 500 saat ini berada sedikit di bawah 19 kali lipat dari perkiraan pendapatan, yang merupakan level terendah sejak tahun 2023.

Proyeksi Suku Bunga dan Kebijakan Federal Reserve

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar kini mulai mengalihkan perhatian pada kebijakan Federal Reserve yang diprediksi akan kembali agresif. Data aktivitas bisnis yang solid pada hari Rabu memperkuat keyakinan bahwa bank sentral AS mungkin akan kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

John Williams, Presiden Federal Reserve New York, memberikan sinyal kuat bahwa kenaikan suku bunga tambahan sebelum akhir tahun 2026 merupakan langkah yang masuk akal. Berdasarkan data dari CME FedWatch Tool, para pedagang saat ini mengestimasikan peluang sebesar 70% bahwa Fed akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan bulan depan.

Kenaikan imbal hasil obligasi yang terus berlanjut membuat instrumen utang pemerintah menjadi aset yang lebih menarik bagi investor dibandingkan saham, terutama karena ketidakpastian arus kas di masa depan.

Di luar dinamika pasar modal, perhatian global juga tertuju pada pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping di Gedung Putih. Meski pertemuan tersebut sarat dengan simbolisme diplomasi, pelaku pasar tetap memantau potensi kebijakan terkait perdagangan, teknologi AI, serta isu geopolitik yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi global di masa mendatang.

Pertanyaan Umum

Mengapa kenaikan harga minyak memengaruhi pasar saham secara negatif?

Kenaikan harga minyak mentah sering kali dianggap sebagai katalis inflasi. Ketika biaya energi naik, margin keuntungan perusahaan dapat tertekan, dan ekspektasi inflasi yang lebih tinggi biasanya mendorong bank sentral untuk mempertahankan atau menaikkan suku bunga, yang membuat biaya pinjaman menjadi lebih mahal bagi bisnis.

Apa yang dimaksud dengan pemberitahuan force majeure dalam konteks Oracle?

Force majeure adalah klausul kontrak yang memungkinkan pihak-pihak terkait untuk membebaskan diri dari kewajiban karena kejadian luar biasa di luar kendali mereka. Dalam kasus pusat data Oracle, hal ini biasanya menandakan adanya hambatan operasional serius yang memicu kekhawatiran investor akan keterlambatan atau kegagalan proyek.

Bagaimana pengaruh imbal hasil obligasi terhadap valuasi saham?

Ketika imbal hasil obligasi pemerintah meningkat, obligasi menjadi aset yang menawarkan imbal hasil lebih pasti dengan risiko yang lebih rendah. Hal ini menyebabkan investor cenderung mengalihkan modal mereka dari saham ke obligasi, sehingga menekan harga saham dan memaksa valuasi pasar untuk menyesuaikan diri ke level yang lebih rendah.

Ringkasan

Pasar saham Wall Street bergerak variatif pada perdagangan Kamis (24/9/2026), ditandai dengan pelemahan indeks S&P 500 sebesar 0,02% dan Dow Jones sebesar 0,31%, sementara Nasdaq mencatatkan kenaikan tipis 0,01%. Pergerakan ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah Brent di atas US$ 107 per barel akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang memicu kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun ke level tertinggi sejak 2004.

Ketidakpastian ekonomi semakin diperkuat oleh sinyal dari Presiden Federal Reserve New York, John Williams, mengenai potensi kenaikan suku bunga lanjutan. Data CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas 70% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan bulan depan. Di tengah tekanan pasar, sektor teknologi menunjukkan divergensi kinerja, di mana saham Meta Platforms menguat 4,5% berkat inovasi AI, sementara sentimen negatif membayangi saham Oracle dan MGM Resorts akibat kendala operasional dan pembatalan akuisisi.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

IHSG Rebound ke 6.315,9 Pagi Ini, Saham MBMA hingga INKP Memimpin
Rupiah Melemah ke Rp17.935 per Dolar AS pada 25 September 2026
Kinerja ICBP Tertekan Beban Bahan Baku, Analis Sarankan Hold
Prediksi IHSG 25 September: Analis Rekomendasikan MDKA, BRMS, CBDK
Bursa Asia Bervariasi 25 September 2026 di Tengah Aksi Jual Obligasi
Harga Emas Antam 25 September 2026 Turun Rp15.000 Jadi Rp2,59 Juta
Wall Street Bervariasi, Imbal Hasil Treasury AS Capai Level Tertinggi
Rupiah Melemah ke Rp17.916, Emiten Berutang Dolar AS Terancam

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 10:25 WIB

IHSG Rebound ke 6.315,9 Pagi Ini, Saham MBMA hingga INKP Memimpin

Jumat, 25 September 2026 - 10:18 WIB

Rupiah Melemah ke Rp17.935 per Dolar AS pada 25 September 2026

Jumat, 25 September 2026 - 10:07 WIB

Kinerja ICBP Tertekan Beban Bahan Baku, Analis Sarankan Hold

Jumat, 25 September 2026 - 09:54 WIB

Prediksi IHSG 25 September: Analis Rekomendasikan MDKA, BRMS, CBDK

Jumat, 25 September 2026 - 09:50 WIB

Bursa Asia Bervariasi 25 September 2026 di Tengah Aksi Jual Obligasi

Berita Terbaru

Kinerja PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) tertekan beban bahan baku di tengah daya beli konsumen yang berhati-hati.

Keuangan

Kinerja ICBP Tertekan Beban Bahan Baku, Analis Sarankan Hold

Jumat, 25 Sep 2026 - 10:07 WIB

error: Content is protected !!