Redaksiku.com – Kisah jenazah ditandu 30 km di Kecamatan Seko, Luwu Utara, benar-benar menusuk hati publik. Dalam video yang tersebar, terlihat puluhan warga memikul tandu bambu di tengah medan yang rusak parah.
Wajah-wajah mereka tampak lelah, namun tetap berjuang karena tak ada jalan lain untuk memulangkan almarhum ke rumah duka.
Peristiwa ini terjadi setelah Nur Naim (38) meninggal dunia di RS Hikmah Masamba, Senin malam. Mobil pengantar jenazah hanya bisa menempuh sebagian perjalanan sebelum akhirnya tersendat oleh jalan berlumpur yang tak bisa dilewati kendaraan apa pun. Dari sinilah perjalanan duka berubah menjadi perjalanan yang sangat berat.
Warganet yang menyaksikan rekaman tersebut merasa terpukul. Ribuan komentar menunjukkan betapa publik terkejut mengetahui bahwa di tahun 2025 masih ada daerah di Indonesia yang harus menghadapi situasi sekeras ini untuk memakamkan orang tercinta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Jenazah Harus Ditandu dari RS Masamba ke Rumah Duka
Proses jenazah ditandu 30 km dimulai sejak dini hari. Dari RS Masamba, mobil ambulans hanya mampu menempuh perjalanan hingga Dusun Palandoan. Setelah itu, akses tak lagi layak disebut jalan.
Tanah berlubang, kubangan sedalam lutut, dan jalur menanjak membuat kendaraan tak bisa melanjutkan perjalanan.
Warga kemudian membentuk tim spontan. Mereka mencari bambu panjang, mengikatnya dengan tali seadanya, lalu menyiapkan tandu darurat untuk membawa peti jenazah. Berlapis-lapis kain diganjal agar peti tidak jatuh saat melewati medan ekstrem.
Ini bukan pertama kali kami tandu seperti ini. Sudah sering sekali, kata Serda Rahmat Saman, yang ikut memikul tandu hingga selesai.
Jalan Rusak Total, Lumpur Sedalam Betis
Kondisi jalan menuju Seko sangat memprihatinkan. Inilah alasan utama jenazah ditandu 30 km. Jalur itu lebih menyerupai sungai kering saat musim panas, dan berubah menjadi kubangan lumpur besar saat musim hujan.
Dalam video viral, terlihat warga berkali-kali terpeleset dan hampir jatuh saat memikul tandu. Lumpur tebal menahan setiap langkah mereka. Kadang mereka harus mengangkat tandu lebih tinggi karena bagian jalan di depan terputus oleh aliran air.
Beberapa kali warga harus berhenti, bukan karena ingin istirahat, tapi karena harus mencari jalur alternatif agar tandu tidak terbalik. Semua dilakukan dengan hati-hati agar jenazah tidak terguncang terlalu keras.
Warga dan TNI Bergantian Tanpa Lelah
Perjalanan jenazah ditandu 30 km memakan waktu berjam-jam. Panas terik, napas yang terengah, dan medan berat tidak menyurutkan langkah warga. Mereka bergantian memikul tandu dalam kelompok kecil, memastikan ada cukup tenaga sampai titik akhir perjalanan.
Ada yang bertugas membuka jalan, ada yang mengawasi sisi kiri-kanan agar tandu tidak jatuh ke jurang kecil. Ada pula yang membawa air minum dan makanan ringan agar warga tidak tumbang.
Di beberapa momen, terlihat warga menahan tangis. Rasa duka bercampur dengan rasa lelah, namun juga rasa kebersamaan yang begitu kuat. Kalau bukan kita siapa lagi? kata salah satu warga yang ikut memikul.
Peristiwa Pilu yang Sudah Terjadi Bertahun-tahun
Ironisnya, jenazah ditandu 30 km bukan hal baru di sana. Warga mengaku, setiap kali ada orang meninggal dan harus dibawa kembali ke Seko, proses tandu manual adalah satu-satunya pilihan. Tidak peduli cuaca, siang maupun malam, jalurnya tetap sama beratnya.
Rahmat menegaskan bahwa kondisi seperti ini sudah berlangsung puluhan tahun. Jalan menuju Seko pernah dijanjikan akan diperbaiki, namun hingga kini tidak ada perubahan signifikan. Selama jalannya masih begini, tandu ini akan terus kami lakukan, katanya lirih.
Warganet turut mempertanyakan bagaimana pelayanan dasar bisa setertinggal ini. Banyak yang merasa hati mereka tersayat melihat rekaman itu.
Video Viral Bikin Netizen Diam Tak Berkata-kata
Ketika video jenazah ditandu 30 km diunggah di Instagram dan TikTok, ribuan komentar membanjiri. Berbeda dari viral-viral biasanya yang penuh humor, kali ini warganet lebih banyak terdiam, meninggalkan komentar penuh empati dan kemarahan terhadap situasi yang belum berubah.
Ini bukan drama, ini nyata. Sakit banget lihatnya, tulis seorang netizen. Kalau ini nggak bikin pemerintah tersadar, aku nggak tahu apa lagi, komentar yang lain.
Beberapa bahkan mengaku menangis saat melihat warga memikul jenazah sambil berjuang melewati lumpur tebal.
Warga Berharap Jalan Diperbaiki Agar Duka Tidak Lagi Jadi Perjuangan
Kisah jenazah ditandu 30 km menjadi simbol betapa kerasnya hidup di pedalaman Seko. Warga berharap peristiwa ini menjadi momentum agar pemerintah membuka mata. Jalan bukan sekadar fasilitas, tapi bagian dari martabat dan kemanusiaan.
Kalau jalan bagus, kami tidak akan menandu seperti ini, ujar seorang warga. Warga juga berharap anak-anak mereka tidak lagi tumbuh besar dengan kondisi yang sama, dan tidak lagi melihat orang dewasa memikul tandu sejauh puluhan kilometer.
Namun sampai kini, belum ada respons resmi terkait perbaikan jalan setelah video ini viral.
Kisah jenazah ditandu 30 km ini meninggalkan rasa sesak di dada. Di tengah modernnya kota-kota besar, masih ada wilayah di Indonesia yang mengurus duka dengan cara berjalan kaki puluhan kilometer membawa peti jenazah.
Banyak warganet menilai kejadian ini bukan hanya berita, tapi tamparan besar untuk kita semua. Infrastruktur bukan sekadar angka di laporan, tetapi penentu apakah warga bisa berduka dengan layak atau harus menempuh perjalanan berat seperti ini.
Ikuti berita terkini dari Redaksiku di Google News atau Whatsapp Channels






