Redaksiku.com – Pernyataan kontroversial kembali datang dari Donald Trump. Presiden Amerika Serikat itu mengisyaratkan bahwa setelah konflik dengan Iran, pemerintahannya dapat mengalihkan fokus kebijakan luar negeri ke Kuba.
Bahkan ia memprediksi pemerintahan komunis di negara Karibia tersebut bisa runtuh dalam waktu dekat akibat tekanan ekonomi yang semakin besar.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam wawancara telepon dengan CNN. Dalam percakapan itu, ia menilai bahwa Kuba saat ini berada dalam kondisi ekonomi yang sangat rapuh dan diperkirakan akan segera menghadapi perubahan besar dalam struktur politiknya.
Cuba is gonna fall pretty soon. They want to make a deal so badly, kata Trump dalam wawancara tersebut. Ia menambahkan bahwa untuk saat ini pemerintahannya masih memprioritaskan situasi di Iran, namun Kuba disebutnya sebagai agenda berikutnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Fokus Saat Ini Masih pada Konflik Iran
Trump menjelaskan bahwa pemerintahannya saat ini masih memusatkan perhatian pada konflik geopolitik yang melibatkan Iran. Namun ia menegaskan bahwa kebijakan terhadap Kuba sudah menjadi bagian dari agenda jangka menengah Washington.
Menurutnya, setelah situasi di Timur Tengah mereda, pemerintah Amerika Serikat akan memiliki cukup waktu untuk meninjau langkah selanjutnya terhadap Kuba.
Kami saat ini benar-benar fokus pada masalah ini terlebih dahulu. Tetapi kami punya banyak waktu. Kuba sudah siap setelah 50 tahun, ujar Trump.
Pernyataan tersebut mencerminkan sikap tegas pemerintahan Trump yang selama ini dikenal mengedepankan pendekatan keras terhadap negara-negara yang dianggap berseberangan dengan kepentingan Washington.
Marco Rubio Disebut Akan Menangani Urusan Kuba
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga menyebut bahwa Menteri Luar Negeri Marco Rubio akan menjadi sosok yang dipercaya untuk menangani urusan diplomasi dengan Kuba.
Trump mengatakan Rubio memiliki pengalaman dan latar belakang yang relevan dalam menangani isu tersebut. Rubio sendiri diketahui memiliki akar keluarga dari Kuba, yang menurut Trump dapat menjadi keuntungan dalam memahami dinamika politik negara tersebut.
Saya akan menempatkan Marco di sana dan kita lihat bagaimana hasilnya, kata Trump.
Pernyataan tersebut sekaligus memperkuat spekulasi bahwa Washington tengah menyiapkan strategi diplomatik maupun politik untuk menekan pemerintahan Kuba agar melakukan perubahan kebijakan.

Tekanan Ekonomi Melalui Blokade Energi
Sejak kembali menjabat sebagai presiden, Trump diketahui telah meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Kuba. Salah satu langkah yang paling signifikan adalah kebijakan blokade energi yang bertujuan membatasi pasokan minyak ke negara tersebut.
Kebijakan ini dinilai berdampak besar terhadap perekonomian Kuba yang selama ini sangat bergantung pada impor energi untuk menopang aktivitas industri dan transportasi.
Menurut laporan sejumlah media internasional, Kuba bahkan tidak menerima pengiriman minyak sejak awal Januari 2026. Kondisi tersebut memicu berbagai gangguan ekonomi, termasuk pembatasan operasional penerbangan dan meningkatnya krisis energi di dalam negeri.
Krisis tersebut semakin memperparah kondisi ekonomi yang sebelumnya sudah berada dalam tekanan akibat embargo perdagangan Amerika Serikat yang telah berlangsung sejak tahun 1962.
Krisis Ekonomi Berkepanjangan di Kuba
Dalam beberapa tahun terakhir, Kuba menghadapi berbagai tantangan ekonomi yang serius. Negara tersebut mengalami kekurangan bahan bakar, obat-obatan, serta kebutuhan pokok lainnya.
Pemadaman listrik juga menjadi masalah yang kerap terjadi di berbagai wilayah. Situasi ini semakin memperburuk kondisi sosial masyarakat yang sudah terdampak oleh inflasi dan keterbatasan pasokan pangan.
Pemerintah Kuba sendiri menilai kebijakan Amerika Serikat sebagai faktor utama yang memperburuk situasi tersebut. Havana menuduh Washington sengaja menekan ekonomi negara mereka untuk memicu perubahan politik dari dalam.
Meski demikian, Amerika Serikat menyatakan kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya untuk mendorong reformasi politik dan ekonomi di Kuba.
Pemadaman Listrik Meluas
Krisis energi di Kuba juga terlihat dari sejumlah gangguan pada infrastruktur kelistrikan nasional.
Pada awal Maret 2026, dua pertiga wilayah Kuba dilaporkan mengalami pemadaman listrik besar-besaran setelah terjadi kerusakan pada pembangkit listrik utama Antonio Guiteras, yang merupakan fasilitas pembangkit terbesar di negara tersebut.
Gangguan tersebut menyebabkan aktivitas ekonomi di sejumlah kota terhenti sementara waktu. Meski sebagian besar wilayah telah kembali mendapatkan pasokan listrik, insiden tersebut memperlihatkan betapa rentannya sistem energi Kuba saat ini.
Peran Gereja Katolik dalam Diplomasi Kuba-AS
Di tengah ketegangan hubungan antara Washington dan Havana, peran diplomasi non-pemerintah juga pernah menjadi jembatan komunikasi antara kedua negara.
Salah satu aktor penting dalam upaya tersebut adalah Pope Francis yang pada 2015 berperan dalam proses normalisasi hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Kuba.
Kesepakatan tersebut tercapai pada masa pemerintahan Barack Obama, setelah puluhan tahun hubungan kedua negara membeku akibat konflik ideologi selama Perang Dingin.
Vatikan juga sempat memediasi kesepakatan antara pemerintah Kuba dan pemerintahan Joe Biden dalam isu pembebasan tahanan politik.
Dalam kesepakatan tersebut, Havana membebaskan ratusan tahanan politik sebagai imbalan atas penghapusan Kuba dari daftar negara sponsor terorisme yang dibuat oleh Washington.
Namun situasi berubah ketika Trump kembali memasukkan Kuba ke dalam daftar tersebut pada hari pertama masa jabatannya pada Januari 2025.
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai sumber
Halaman : 1 2 Selanjutnya






