Redaksiku.com – Prestasi membanggakan datang dari dunia pendidikan tinggi Indonesia.
Tiffney Tyara Setyoko, mahasiswi Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Pelita Harapan (UPH) angkatan 2023, berhasil meraih Juara 1 Program Sarjana Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (PILMAPRES) Tingkat Nasional 2026.
Kemenangan tersebut diumumkan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada Jumat, 7 Agustus 2026. Tiffney menempati posisi pertama mengungguli mahasiswa terbaik dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Prestasi Tiffney sekaligus menjadi catatan bersejarah bagi UPH. Menurut UPH, pencapaian tersebut menjadikan kampusnya sebagai perguruan tinggi swasta pertama yang meraih Juara 1 PILMAPRES Nasional sejak ajang tersebut pertama kali diselenggarakan pada 2014.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tiffney Tyara Setyoko Jadi Mapres Utama Nasional 2026
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi menetapkan pemenang PILMAPRES Nasional 2026 melalui Keputusan Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Nomor 61/B2/KPT/2026.
Untuk kategori Program Sarjana, Tiffney Tyara Setyoko dari Universitas Pelita Harapan keluar sebagai Juara 1.
Posisi kedua diraih Zelka Dapala dari Universitas Sriwijaya, sedangkan posisi ketiga ditempati Nabilah Dwisepti Cahyani dari Universitas Pendidikan Indonesia.
Sementara Nathania Ella Sudiono dari Universitas Sebelas Maret meraih Juara Harapan 1 dan Fayanna Ailisha Davianny dari Universitas Indonesia memperoleh Juara Harapan 2.
Keberhasilan menjadi peringkat pertama membuat Tiffney dinobatkan sebagai Mapres Utama Tingkat Nasional 2026 untuk Program Sarjana.
Final PILMAPRES Digelar di UMN Tangerang
Perjalanan menuju gelar nasional tidak berlangsung singkat.
Sebagai wakil UPH sekaligus LLDIKTI Wilayah III, Tiffney mengikuti rangkaian presentasi dan wawancara tahap akhir yang berlangsung di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Tangerang, pada 4–7 Agustus 2026.
Kemdiktisaintek sebelumnya telah mengumumkan bahwa peserta yang lolos Seleksi Awal Nasional berhak mengikuti tahap penilaian nasional pada 4–8 Agustus 2026 di UMN.
PILMAPRES bukan hanya menilai indeks prestasi akademik.
Peserta menghadapi penilaian yang mencakup gagasan kreatif atau inovatif, capaian unggulan, kemampuan komunikasi, wawancara hingga kemampuan berbahasa Inggris.
Berawal dari Juara 1 LLDIKTI Wilayah III
Sebelum melaju ke tingkat nasional, Tiffney terlebih dahulu harus menjadi yang terbaik di tingkat wilayah.
Mahasiswi Pendidikan Dokter UPH itu meraih Juara Terbaik 1 PILMAPRES Tingkat Wilayah LLDIKTI III 2026 yang digelar pada 29–30 April 2026 di Auditorium Griya Legita Universitas Pertamina.
Pada tahap wilayah tersebut terdapat 15 finalis dari 15 perguruan tinggi.
Peserta dinilai melalui tiga aspek utama, yaitu gagasan kreatif, capaian unggulan, serta kemampuan berbahasa Inggris.
Kemenangan tersebut mengantarkan Tiffney menjadi delegasi UPH sekaligus LLDIKTI Wilayah III menuju seleksi nasional.

60 Mahasiswa Terbaik Lolos ke Tingkat Nasional
Persaingan di tingkat nasional jauh lebih ketat.
UPH menyebut seleksi PILMAPRES berlangsung di 17 wilayah LLDIKTI dan mempertemukan ratusan mahasiswa terbaik dari berbagai perguruan tinggi. Dari rangkaian seleksi tersebut, sebanyak 60 mahasiswa terbaik berhasil melaju ke tingkat nasional.
Setelah babak penyisihan, jumlah peserta kembali mengerucut menjadi 19 finalis terbaik yang mengikuti tahap penilaian akhir.
Para finalis berasal dari berbagai kampus, termasuk Universitas Indonesia, Universitas Hasanuddin, Universitas Padjadjaran, Universitas Diponegoro, Universitas Udayana, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Negeri Yogyakarta dan Universitas Sriwijaya.
Di tengah persaingan tersebut, Tiffney akhirnya keluar sebagai peringkat pertama kategori sarjana.
Bawa Inovasi Smart Febrile Patch
Salah satu kekuatan utama Tiffney dalam PILMAPRES 2026 adalah gagasan inovasinya di bidang kesehatan.
Ia membawa konsep bernama Smart Febrile Patch, yakni sensor wearable non-invasif berbasis keringat yang dirancang untuk membantu melakukan skrining dini terhadap tingkat keparahan penyakit infeksi berbasis demam.
Gagasan lengkap yang dikembangkannya berjudul “Pengembangan Smart Febrile Patch Berbasis Multi-Biomarker (Suhu, pH, Laktat) Sebagai Sistem Skrining Dini Keparahan Penyakit Infeksi Berbasis Demam di Kabupaten Tangerang.”
Teknologi tersebut dirancang untuk mengukur tiga biomarker, yaitu suhu tubuh, pH keringat dan kadar laktat. Parameter itu digunakan sebagai indikator untuk membantu melihat respons inflamasi serta kondisi fisiologis tubuh.
Berangkat dari Masalah Demam dan Infeksi
Tiffney mengembangkan ide tersebut karena melihat demam kerap menjadi gejala awal penyakit infeksi, tetapi masyarakat tidak selalu memiliki parameter objektif untuk mengetahui kapan kondisi pasien mulai membutuhkan penanganan medis lebih serius.
UPH menyebut gagasan itu juga mempertimbangkan kondisi di Kabupaten Tangerang. Data yang digunakan dalam pengembangan gagasan mencatat pada Juni 2025 sekitar 56 persen kasus penyakit infeksi berstatus suspek.
Melalui Smart Febrile Patch, Tiffney berharap masyarakat dapat memperoleh informasi awal yang lebih objektif sebelum mengambil keputusan untuk mencari pertolongan medis.
Konsep tersebut juga diarahkan untuk mengurangi risiko keterlambatan penanganan serta penggunaan antibiotik secara tidak rasional.
Sensor Bekerja Melalui Keringat
Smart Febrile Patch dirancang sebagai perangkat wearable yang digunakan secara non-invasif.
Alih-alih membutuhkan prosedur pengambilan darah, konsep alat tersebut memanfaatkan keringat untuk memantau biomarker fisiologis.
Suhu tubuh dapat membantu memperlihatkan respons tubuh terhadap infeksi, sementara perubahan pH keringat dan kadar laktat dapat memberikan informasi tambahan mengenai kondisi fisiologis pasien.
Menurut konsep yang dipresentasikan Tiffney, kombinasi ketiga parameter tersebut dapat membantu memberikan indikator awal ketika kondisi pasien mulai mengarah pada fase lebih serius.
Namun Smart Febrile Patch yang dibawa dalam PILMAPRES merupakan gagasan kreatif pengembangan teknologi kesehatan, sehingga tidak tepat dianggap sebagai alat diagnosis medis komersial yang sudah menggantikan pemeriksaan dokter.
Harus Hadapi Presentasi hingga Wawancara Juri
Memenangkan PILMAPRES juga tidak hanya ditentukan oleh menarik atau tidaknya inovasi.
Pada tahap nasional, peserta dituntut mampu mempertahankan gagasannya di depan juri.
UPH menyebut finalis diuji melalui presentasi, wawancara, wawasan, kemampuan komunikasi dan bahasa Inggris. Dewan juri melibatkan profesor, akademisi serta praktisi.
Tiffney menjalani persiapan intensif untuk mematangkan materi, menyusun presentasi, memperkirakan pertanyaan yang mungkin muncul saat wawancara serta memperkuat kemampuan bahasa Inggris.
Pengalaman menjadi Juara 1 LLDIKTI Wilayah III juga menjadi bekal sebelum menghadapi kompetisi tingkat nasional.
UPH Jadi PTS Pertama yang Juara 1
Salah satu hal yang membuat kemenangan Tiffney semakin menonjol adalah catatan sejarah yang menyertainya.
UPH menyatakan pencapaian tahun ini merupakan pertama kalinya perguruan tinggi swasta meraih Juara 1 PILMAPRES Nasional sejak penyelenggaraan ajang tersebut dimulai pada 2014.
Artinya, kemenangan Tiffney tidak hanya menjadi prestasi individual.
Hasil tersebut juga menjadi tonggak bagi perguruan tinggi swasta dalam kompetisi mahasiswa berprestasi tingkat nasional.
Associate Vice President Student Development, Alumni, and Corporate Relations UPH Andry M. Panjaitan menilai pencapaian tersebut menunjukkan mahasiswa perguruan tinggi swasta juga mampu meraih prestasi tertinggi di tingkat nasional ketika mendapat pembinaan dan dukungan yang memadai.
Tiffney Aktif di Riset Kedokteran
Rekam jejak Tiffney juga tidak hanya berasal dari PILMAPRES.
Selama menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran UPH, ia tercatat pernah memperoleh Most Outstanding Student FK UPH – Academic Category.
Ia juga memenangkan AORTA FK Universitas Hasanuddin 2026 dan mendapatkan predikat Most Valuable Player, selain sejumlah capaian dalam kompetisi kedokteran dan sains tingkat nasional.
Di bidang penelitian, UPH menyebut Tiffney telah terlibat dalam publikasi ilmiah, termasuk artikel pada jurnal terindeks Scopus Q1 terkait hipertensi dan kanker kolorektal.
Ia juga pernah menjadi oral presenter pada Asia Pacific Association of Allergy, Asthma and Clinical Immunology 2025.
Pernah Ikuti Pertukaran Riset di Taiwan
Pengalaman internasional juga menjadi bagian dari rekam jejak Tiffney.
Pada 2025, ia terpilih sebagai penerima Research Exchange – Standing Committee on Research Exchange International Federation of Medical Students’ Associations (IFMSA).
Program tersebut memberinya kesempatan mengikuti pertukaran riset di National Defense Medical Center, Taiwan.
Selain penelitian, Tiffney aktif dalam sejumlah organisasi mahasiswa dan komunitas akademik, termasuk Asian Medical Students’ Association UPH serta SECRET UPH.
Rekam jejak tersebut ikut memperlihatkan mengapa penilaian PILMAPRES tidak berhenti pada nilai akademik semata.
Pilmapres 2026 Punya Jalur Disabilitas
PILMAPRES 2026 juga menjadi penyelenggaraan yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kemdiktisaintek pada tahun ini menambahkan Program Disabilitas sebagai jalur baru dalam PILMAPRES. Kebijakan tersebut ditujukan untuk memperluas kesempatan mahasiswa berprestasi dalam ekosistem pendidikan tinggi yang lebih inklusif.
Dengan demikian, pemenang nasional tahun ini dibagi dalam tiga jalur utama, yaitu Program Sarjana, Program Diploma dan Program Disabilitas.
Untuk Program Diploma, Juara 1 diraih Mochammad Ariel Sulton dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya. Sementara Juara 1 Program Disabilitas diraih Rangga Kusuma Putra dari Universitas Negeri Jakarta.
Kemdiktisaintek: Prestasi Bisa Lahir dari Kampus Mana Pun
Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Beny Bandanadjaja mengatakan PILMAPRES tidak semata-mata menentukan siapa yang menjadi pemenang.
Menurutnya, kompetisi tersebut juga menunjukkan bahwa mahasiswa dari berbagai kampus memiliki kesempatan mengembangkan potensi dan menghasilkan kontribusi bagi masyarakat.
Pemerintah juga memberikan sejumlah Anugerah Khusus bagi peserta dengan capaian menonjol, termasuk pada bidang seni, pengabdian masyarakat, inklusivitas dan literasi digital.
Pendekatan ini memperlihatkan definisi mahasiswa berprestasi semakin luas, tidak terbatas pada kemampuan mendapatkan nilai akademik tinggi.
Tiffney Ingin Prestasinya Jadi Motivasi
Setelah diumumkan sebagai Juara 1, Tiffney menyampaikan rasa syukur atas pencapaiannya.
Ia mengatakan keberhasilan tersebut tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak selama persiapan dari tingkat wilayah hingga nasional.
Tiffney juga berharap prestasinya dapat menjadi dorongan bagi mahasiswa lain untuk berani mengembangkan kemampuan serta memberi dampak positif melalui bidang masing-masing.
Kemenangan tersebut sekaligus menutup perjalanan panjangnya dalam PILMAPRES 2026.
Dari menjadi mahasiswa terbaik di tingkat kampus, memenangkan seleksi LLDIKTI Wilayah III, melewati seleksi nasional hingga bersaing dengan 19 finalis terbaik, Tiffney Tyara Setyoko akhirnya dinobatkan sebagai Juara 1 dan Mapres Utama Program Sarjana PILMAPRES Nasional 2026.
Bagi UPH, pencapaian ini bahkan menciptakan sejarah baru.
Untuk pertama kalinya sejak PILMAPRES digelar pada 2014, posisi Juara 1 Program Sarjana diraih mahasiswa dari perguruan tinggi swasta.
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest












